Surabaya ke Groningen, Membangun Internasionalisasi Fakultas Kedokteran Seri 1

Dokter - Penulis - Startup Teknologi ITS Founder - CEO Nalanira Nuswantara Medika.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sonny Fadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sekitaran Mei 2024, sebetulnya saya tidak menyangka bakal melakukan perjalanan ke luar negeri pertama kali langsung ke Eropa, tepatnya ke Belanda. Tentu, perjalanan ini bukan sekedar rekreasi atau jalan-jalan namun berangkat dari mimpi besar memperkuat Internasionalisasi bagi Fakultas Kedokteran baru yang lahir dari Rahim ITS. Saya beserta rombongan pimpinan dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya bersama dan pimpinan RSUD Wahidin Sudirohusodo. Dari fakultas diwakili jajaran Dekan dr. Imam Susilo, Wakil dekan Ir. Adhi Dharma Wibawa, dr. Sakina, mewakili KPS kedokteran, dan dua dosen lain saya beserta dr. Riva. Sementara dari RSUD Wahidin diwakilkan oleh Wadir dr. Hesti dan dr. Yunika selaku Komkordik (Komite Koordinasi Pendidikan) RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo Mojokerto.
Persiapan Pra Pemberangkatan
Sebelumnya kami beberapa kali membuat diskusi koordinasi persiapan pemberangkatan antara pihak fakultas dan RSUD. Bagaimanapun, perjalanan jauh ini bukanlah sekedar perjalanan untuk gaya-gayaan, kepentingan individu atau kelompok, tapi bagaimana cara kami sebagai fakultas kedokteran yang baru berdiri, untuk langsung bergerak cepat membangun pondasi kuat, salah satunya internasionalisasi.
Kami membahas teknis tiket pesawat, penginapan, kartu ajaib OV-chipkaart untuk pembayaran transportasi publik, souvenir, dan yang terpenting apa jasa poin tawaran kerja sama yang bisa kami tawarkan untuk kampus mitra di Belanda dan Jerman. Ya, kita berencana melakukan perjalanan panjang ke beberapa kampus tujuan University Medical Center Groningen, Radboud University, dan Universitas Heinrich Heine Düsseldorf.
Pesan Yang Menyentuh
09 Mei 2024, pagi hari, saya bangun tidur, membuka handphone dan bertepatan dengan pesan whatsapp masuk “Assalamu'alaikum. Wr. Wb..Mohon maaf tdk bisa dampingi keberangkatannya ke Benua Biru...Kami Do'akan lancar dan Selamat sampai tujuan juga kembali lancar dan selamat sampai rumah dg membawa Ilmu yg Bermanfaat dan Barokah...Kami titip dr. Hesti dan dr. Yunika..Tlg dijadikan bagian dari keluarga FKK ITS..Selamat Mencari Ilmu dan Jaringan di Benua Biru..Ngapunten..Matur suwun. Wassalammu'alaikum. Wr. Wb”. Pesan tersebut dikirim oleh bapak Direktur RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo Mojokerto. Tentu pesan ini mendarat ke hati saya yang bukan siapa-siapa, hanya dosen baru, namun akan melakukan perjalanan penting untuk mahasiswa kedokteran.
Saya pun menyadari, tanpa saya dan dr. Riva yang notabene dosen baru, perjalanan mungkin bisa melibatkan sebatas pimpinan. Namun, pada saat itu, saya melihat pimpinan punya rencana baik, berharap kami dosen muda melihat dan terlibat dalam proses yang berjalan, bagaimana berinteraksi dengan mitra luar negeri. Ilmu ini tidak kami dapatkan selama kuliah kedokteran dulu.
Berangkat dari Surabaya-Jakarta-Transit Istanbul-Amsterdam
Di Bandara Internasional Juanda, saya diantar istri dan Anya, putri saya. Menjelang malam kami Terbang dengan Maskapai Turkish Airlines, tentu ini pengalaman baru bagi saya untuk terbang dengan pesawat kapasitas besar pertama kali. Perjalanan Jakarta ke Istanbul memakan waktu 11-12 jam, Istanbul ke Amsterdam memakan waktu 3-4 jam. Perjalanan yang panjang ini menjadi relatif ringan karena kualitas dari pelayanan maskapai, selain pramugari supercantik, semua makanan yang dihidangkan cocok di lidah saya.
10 Mei 2024, hari jumat, kami sampai di Bandara Schiphol Amsterdam. Setelah mengambil bagasi, tentu kami tidak melewatkan momen foto bersama di area bandara. Untuk sementara waktu, tidak ada lagi panas terik Surabaya atau Mojokerto, apalagi panas yang menyengat di perempatan Gedangan, Sidoarjo. hehehe.
Dari Schiphol Amsterdam, kami melanjutkan perjalanan naik kereta menuju hotel Simplon yang berlokasi di Groningen. Kenapa di Groningen? karena tujuan pertama kami, berkunjung ke University Medical Center Groningen. Just Info, University of Groningen masuk dalam 100 kampus terbaik dunia. Akhirnya, dalam 2-3 jam kami sudah sampai di Groningen. Sesampai di Stasiun Groningen, kami take foto lagi.
Untuk menuju hotel, kami memakai bus yang mana sistem pembayarannya sama memakai pembayaran berbasis kartu online OV-chipkaart. Ini cukup unik, di Indonesia belum ada sistem permbayaran berbasis kartu untuk naik kereta dan bus sekaligus.
Perjalanan kami terkesan tanpa hambatan, karena kunci utama di rombongan kami ada travel guide-nya, Ir. Adhi Dharma, selanjutnya saya tulis Pak Adhi saja biar tidak terlalu formal. Pak Adhi ini salah satu dosen ITS, alumni UMCG, yang tahu seluk beluk Groningen, sampai akan saya ulas di tulisan seri lain, kami dikenalkan saudara jauh komunitas warga berdarah suriname yang tinggal di Groningen.
Jumat malam, kami istirahat di hotel, bersih-bersih, tentu hari pertama tidak langsung bisa istirahat karena perbedaan waktu Belanda dan Indonesia. Saya dan dr. Riva menyempatkan keluar, jalan kaki menyusuri keindahan sudut kota Groningen.
Bersambung...
Oleh: dr. Sonny Fadli, Dosen dan alumni ITS
