Konten dari Pengguna

Ketahanan Pangan Keluarga: Ketika Harga Pangan Naik, Seberapa Kuat Dapur Kita?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sophia Dwiratna (Founder Dr Hidroponik) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Ketahanan Pangan Keluarga Tidak Cukup Hanya Bergantung pada Pasar

"Harga pangan berubah di pasar, tetapi dampaknya pertama kali dirasakan di dapur."

Dapur Selalu Menjadi Korban Pertama

Ketahanan pangan keluarga sering kali diuji bukan ketika laporan inflasi diumumkan, melainkan ketika harga cabai, bawang merah, atau sayuran tiba-tiba naik di pasar. Tidak banyak keluarga yang memulai hari dengan membaca laporan inflasi. Namun hampir semua keluarga segera menyadari ketika harga cabai, bawang merah, atau sayuran tiba-tiba naik. Sebelum angka inflasi diumumkan, dapur telah lebih dahulu merasakannya. Gambaran ini juga tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa pengeluaran untuk makanan masih menjadi komponen terbesar dalam konsumsi rumah tangga Indonesia

Perubahan itu tampak sederhana. Daftar belanja menjadi lebih pendek. Cabai yang biasanya dibeli satu kilogram dikurangi menjadi setengahnya. Sayuran tertentu diganti dengan yang lebih murah. Bumbu dapur mulai dihitung lebih cermat. Bahkan menu makan keluarga ikut berubah. Semua keputusan tersebut terjadi tanpa rapat, tanpa kebijakan, dan tanpa pengumuman resmi. Dapur selalu beradaptasi lebih cepat daripada statistik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan bukan sekadar persoalan ekonomi makro. Di balik angka-angka inflasi terdapat jutaan keluarga yang setiap hari harus menyesuaikan pilihan konsumsi agar pengeluaran tetap seimbang. Ketika harga pangan berubah, rumah tangga tidak hanya menghadapi kenaikan biaya hidup, tetapi juga dihadapkan pada keputusan-keputusan kecil yang terus berulang: membeli, mengurangi, mengganti, atau bahkan menunda.

Gambaran tersebut tercermin dalam data Badan Pusat Statistik. Pada September 2024, rata-rata pengeluaran untuk makanan mencapai sekitar Rp751.824 per kapita per bulan, atau sekitar 50,1 persen dari total pengeluaran konsumsi. Artinya, hampir separuh pengeluaran masyarakat Indonesia masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dengan proporsi sebesar itu, perubahan harga pangan sekecil apa pun akan langsung memengaruhi keseimbangan ekonomi rumah tangga.

Angka tersebut menyampaikan pesan yang penting. Pangan merupakan kebutuhan yang paling sulit ditunda. Ketika harga telepon seluler naik, pembelian masih dapat ditangguhkan. Ketika harga pakaian meningkat, masyarakat masih dapat menunggu. Namun ketika harga beras, cabai, telur, atau sayuran berubah, keluarga tetap harus menyediakan makanan setiap hari.

Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini berkaitan dengan elastisitas permintaan. Banyak komoditas pangan memiliki elastisitas yang relatif rendah karena merupakan kebutuhan pokok. Artinya, meskipun harga meningkat, konsumsi tidak dapat dikurangi secara drastis tanpa memengaruhi kebutuhan dasar keluarga. Akibatnya, rumah tangga lebih sering menyesuaikan jumlah pembelian, mengganti jenis pangan, atau mengurangi pengeluaran pada pos lain daripada berhenti membeli pangan itu sendiri.

Di sinilah kerentanan rumah tangga mulai terlihat. Masalahnya bukan semata-mata karena harga pangan naik. Masalah yang sesungguhnya adalah ketika keluarga tidak memiliki cukup pilihan selain tetap membeli komoditas tersebut dengan harga berapa pun yang berlaku di pasar.

Ketahanan pangan keluarga dalam menghadapi kenaikan harga pangan (Sumber : AI generated)

Mengapa Harga Pangan Selalu Berubah?

Setiap tahun masyarakat hampir selalu menyaksikan pola yang sama. Harga cabai melonjak menjelang akhir tahun, bawang merah meningkat ketika musim hujan berkepanjangan, sementara tomat atau sayuran hijau terkadang justru jatuh ketika panen melimpah. Bagi konsumen, perubahan tersebut sering kali terasa membingungkan. Mengapa harga pangan begitu sulit diprediksi?

Jawabannya tidak sesederhana karena permintaan meningkat atau produksi menurun. Pangan, terutama komoditas hortikultura, merupakan bagian dari sistem biologis yang sangat dipengaruhi oleh alam. Berbeda dengan barang manufaktur yang dapat diproduksi sepanjang tahun, tanaman tumbuh mengikuti musim, membutuhkan air, cahaya, dan suhu yang sesuai, serta rentan terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman maupun cuaca ekstrem.

Akibatnya, pasokan pangan segar tidak pernah benar-benar konstan. Ada periode ketika panen berlangsung serempak sehingga pasokan melimpah dan harga turun. Sebaliknya, ada masa ketika curah hujan terlalu tinggi, kekeringan berkepanjangan, atau gangguan distribusi menyebabkan pasokan berkurang sehingga harga meningkat. Fenomena inilah yang dikenal sebagai seasonal supply, yaitu perubahan ketersediaan komoditas yang dipengaruhi oleh musim dan siklus produksi.

Dalam sistem inflasi Indonesia, kelompok pangan segar seperti cabai, bawang merah, tomat, dan berbagai sayuran termasuk kategori volatile food, yaitu komoditas yang harganya sangat sensitif terhadap perubahan musim, produksi, dan distribusi. Karena itu, fluktuasi harga komoditas tersebut sebenarnya merupakan karakter alami sistem pangan, bukan sekadar kegagalan pasar.

Namun yang menjadi persoalan bukanlah perubahan harga itu sendiri. Persoalannya adalah ketika setiap perubahan harga langsung mengguncang kondisi ekonomi rumah tangga.

Sebagian besar keluarga Indonesia masih memperoleh hampir seluruh kebutuhan pangan segarnya melalui pasar. Ketika harga naik, pilihan yang tersedia menjadi sangat terbatas. Keluarga dapat mengurangi jumlah pembelian, mengganti jenis pangan, atau mengalokasikan kembali anggaran dari kebutuhan lain. Namun hampir seluruh pilihan tersebut merupakan bentuk penyesuaian setelah harga berubah, bukan strategi untuk mengurangi dampaknya.

Di sinilah terlihat perbedaan antara guncangan harga dan kerentanan rumah tangga. Guncangan harga berasal dari luar. Tidak ada keluarga yang mampu mengendalikan musim, mempercepat panen, atau memperbaiki distribusi pangan. Sebaliknya, kerentanan merupakan kondisi internal rumah tangga, yaitu sejauh mana keluarga mampu menghadapi perubahan tanpa mengorbankan kualitas konsumsi maupun kesejahteraannya.

Bayangkan dua keluarga menghadapi kenaikan harga cabai yang sama. Keluarga pertama sepenuhnya membeli seluruh kebutuhan sayuran dan bumbu dari pasar. Keluarga kedua juga berbelanja di pasar, tetapi memiliki beberapa tanaman cabai, tomat, daun bawang, dan rempah di pekarangannya. Kedua keluarga sama-sama terdampak oleh kenaikan harga. Namun tingkat kerentanannya berbeda. Keluarga kedua masih memiliki sumber alternatif yang dapat mengurangi tekanan terhadap pengeluaran hariannya.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan keluarga tidak ditentukan oleh kemampuan menghindari kenaikan harga, melainkan oleh kemampuan memperluas pilihan ketika harga berubah.

Membangun Daya Tahan Dapur, Bukan Melawan Pasar

Tidak ada rumah tangga yang mampu mengendalikan harga cabai, mempercepat musim panen, atau mengubah jalur distribusi pangan. Semua itu berada di luar kendali keluarga. Namun bukan berarti rumah tangga tidak memiliki ruang untuk memperkuat ketahanan pangannya.

Selama ini, setiap kali harga pangan meningkat, perhatian publik hampir selalu tertuju pada bagaimana menurunkan harga kembali. Pemerintah melakukan berbagai intervensi melalui stabilisasi pasokan, operasi pasar, penguatan cadangan pangan, hingga pengaturan distribusi. Kebijakan tersebut sangat penting karena menyangkut kepentingan masyarakat secara luas.

Namun di tingkat rumah tangga, terdapat pertanyaan yang tidak kalah penting. Bagaimana keluarga dapat mengurangi dampak kenaikan harga sebelum stabilisasi pasar benar-benar dirasakan?

Jawabannya tidak selalu berkaitan dengan pendapatan yang lebih tinggi. Dalam banyak kasus, ketahanan rumah tangga justru ditentukan oleh kapasitas adaptasi. Semakin banyak pilihan yang dimiliki keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangannya, semakin kecil dampak yang ditimbulkan oleh perubahan harga.

Dalam manajemen risiko, kondisi ini dikenal sebagai buffer, yaitu lapisan perlindungan yang membantu suatu sistem tetap berfungsi ketika menghadapi gangguan. Rumah tangga juga membutuhkan buffer untuk menghadapi gejolak pangan. Buffer tersebut dapat berupa cadangan pangan, diversifikasi konsumsi, jaringan sosial, maupun kemampuan memproduksi sebagian kecil kebutuhan pangannya sendiri.

Pada titik inilah pekarangan memperoleh makna yang berbeda. Pekarangan bukan sekadar tempat menanam cabai atau kangkung. Pekarangan adalah ruang yang memberi keluarga lebih banyak pilihan.

Ketika harga cabai melonjak, keluarga yang memiliki beberapa rumpun cabai mungkin tetap membeli di pasar. Namun jumlah yang harus dibeli menjadi lebih sedikit. Ketika harga daun bawang meningkat, beberapa pot tanaman di halaman dapat memenuhi kebutuhan harian. Nilai ekonominya mungkin tidak besar jika dihitung dalam rupiah, tetapi nilai strategisnya jauh lebih tinggi karena memberikan ruang adaptasi ketika harga bergejolak. Inilah yang membedakan nilai produksi dengan nilai ketahanan.

Jika dihitung berdasarkan volume panen, kontribusi pekarangan memang relatif kecil dibandingkan produksi pertanian nasional. Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif ketahanan rumah tangga, beberapa kilogram hasil panen memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia mengurangi frekuensi pembelian, memperluas pilihan konsumsi, dan memberi rasa aman ketika pasokan pasar terganggu.

Berbagai penelitian tentang home gardens menunjukkan bahwa pekarangan dapat meningkatkan akses terhadap pangan segar, memperbaiki keragaman konsumsi, serta memperkuat ketahanan pangan rumah tangga. Besarnya manfaat memang berbeda-beda sesuai kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Namun satu benang merah selalu muncul: rumah tangga yang memiliki lebih banyak sumber pangan cenderung lebih tangguh dibandingkan rumah tangga yang hanya bergantung pada satu sumber.

Pelajaran ini menjadi semakin penting ketika perubahan iklim membuat produksi pangan semakin sulit diprediksi. Curah hujan yang berubah, suhu yang meningkat, dan kejadian cuaca ekstrem diperkirakan akan terus memengaruhi produksi hortikultura di berbagai daerah. Dalam situasi seperti ini, membangun ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi nasional. Ketahanan juga harus diperkuat dari bawah, dimulai dari rumah tangga.

Karena itu, pembahasan mengenai pekarangan seharusnya tidak lagi berhenti pada ajakan untuk "gemar menanam". Cara pandang tersebut terlalu sempit untuk menjawab tantangan pangan masa depan.

Pekarangan perlu diposisikan sebagai bagian dari strategi adaptasi rumah tangga terhadap ketidakpastian sistem pangan. Bukan untuk menggantikan pasar, tetapi untuk mengurangi tingkat ketergantungan terhadap pasar.

Pada akhirnya, ketahanan pangan keluarga tidak ditentukan oleh kemampuan menghindari kenaikan harga. Harga pangan akan selalu berubah mengikuti musim, produksi, distribusi, dan dinamika pasar.

Yang menentukan adalah seberapa siap keluarga menghadapi perubahan tersebut.

Mungkin kita tidak pernah mampu menentukan kapan cabai kembali mahal atau kapan hujan datang terlambat. Namun masih ada satu hal yang berada dalam kendali setiap keluarga: membangun kapasitas adaptasi agar dapur tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan di luar rumah.

Sebab keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi kenaikan harga pangan. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang selalu memiliki lebih banyak pilihan ketika harga mulai berubah.