POC Berfitohormon dari Jagung: Terapan Teknologi Pertanian di Desa Cileles
Tulisan dari Sophia Dwiratna (Founder Dr Hidroponik) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
POC berfitohormon dari jagung mungkin terdengar tidak biasa. Selama ini kita lebih mengenal jagung sebagai pangan, pakan ternak, atau komoditas pertanian. Namun di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, jagung dapat dilihat dari sisi yang berbeda: sebagai sumber daya lokal yang berpotensi mendukung pertanian berkelanjutan dan urban farming berbasis pekarangan.

Di titik inilah teknologi menjadi menarik. Bukan karena sesuatu yang sangat baru tiba-tiba ditemukan, tetapi karena bahan yang selama ini sangat akrab ternyata memiliki fungsi lain ketika dilihat melalui pengetahuan yang berbeda. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, perubahan cara pandang seperti ini sering kali justru lebih penting daripada produk akhirnya. Masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi mulai memahami bahwa sumber daya yang mereka miliki dapat dikembangkan kembali menjadi bagian dari solusi.
Teknologi Pertanian Tidak Selalu Harus Canggih
Dalam banyak percakapan tentang masa depan pertanian, perhatian kita sering langsung tertuju pada teknologi tinggi. Kita membicarakan pertanian presisi, kecerdasan buatan, sensor tanah, otomasi irigasi, dan berbagai inovasi digital lainnya. Semua itu penting dan memang akan menjadi bagian dari masa depan pertanian.
Namun teknologi tidak selalu harus identik dengan perangkat yang mahal dan rumit. Di banyak wilayah perdesaan dan kawasan transisi seperti Jatinangor, teknologi yang paling relevan justru sering kali adalah teknologi yang dapat dipahami, dibuat, digunakan, dan dipelihara sendiri oleh masyarakat.
Jagung memberi contoh yang menarik. Selama ini jagung kita tempatkan sebagai hasil panen, bahan konsumsi, pakan ternak, atau komoditas perdagangan. Padahal, melalui proses fermentasi tertentu, jagung juga dapat dikembangkan menjadi pupuk organik cair berfitohormon. Dengan kata lain, nilai suatu komoditas tidak selalu berhenti pada hasil panennya. Ia dapat diperpanjang melalui pengetahuan dan proses pengolahan.
Bagi saya, justru di sinilah makna teknologi menjadi lebih luas. Teknologi bukan semata-mata benda. Ia juga merupakan cara memanfaatkan pengetahuan untuk mengubah fungsi suatu sumber daya.
Jagung dan Potensi Pertanian Desa Cileles
Gagasan memanfaatkan jagung sebagai bahan POC berfitohormon terasa lebih relevan ketika ditempatkan dalam konteks Desa Cileles. Desa ini masih memiliki karakter pertanian yang kuat dengan keberadaan sawah, kebun, dan aktivitas hortikultura. Data profil desa mencatat sekitar 63,71 hektare sawah dan 42,40 hektare kebun, sementara jagung juga memiliki jejak dalam sistem pertanian setempat.
Jejak historis jagung penting bukan untuk mengklaim bahwa Cileles saat ini merupakan sentra jagung, melainkan untuk menunjukkan bahwa komoditas tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi masyarakat. Justru dari sinilah logika pemberdayaan menjadi lebih kuat. Teknologi tidak diperkenalkan dengan bahan yang asing, tetapi melalui sesuatu yang telah dikenal dalam kehidupan pertanian.
Pemanfaatan jagung sebagai bahan pupuk organik cair kemudian memperpanjang rantai nilainya. Jagung tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang dipanen lalu selesai, tetapi sebagai sumber bahan biologis yang dapat kembali masuk ke sistem produksi.
POC Berfitohormon: Ketika Jagung Memiliki Fungsi Baru
Tanaman tidak hanya membutuhkan unsur hara untuk tumbuh. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga dipengaruhi oleh senyawa pengatur tumbuh yang dikenal sebagai fitohormon. Dalam rujukan teknis yang digunakan untuk pengembangan POC berbahan jagung, disebutkan adanya kelompok fitohormon seperti auksin, sitokinin, dan giberelin, di samping unsur hara makro dan mikro.
Namun dalam konteks pemberdayaan masyarakat, istilah ilmiah seperti auksin, sitokinin, dan giberelin bukanlah hal pertama yang harus ditekankan. Masyarakat tidak perlu menjadi ahli fisiologi tumbuhan untuk memahami bahwa jagung ternyata dapat memiliki fungsi lain setelah difermentasi.
Yang lebih penting adalah memahami proses.
Ketika jagung dihancurkan, dicampur, dan difermentasi, masyarakat dapat belajar membaca perubahan yang terjadi selama proses berlangsung. Aroma berubah, warna berubah, gas terbentuk, endapan muncul, dan larutan mengalami perubahan fisik. Pengamatan sederhana seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar menghafal langkah kerja, karena membuat peserta memahami apa yang sedang terjadi.
Seseorang yang hanya menghafal resep akan mudah kebingungan ketika kondisi tidak persis sama dengan instruksi. Sebaliknya, orang yang memahami prinsip akan lebih mampu menilai apakah proses berjalan normal, kapan perlu melakukan koreksi, dan kapan sebaiknya menghentikan suatu batch.
Di sinilah teknologi mulai benar-benar menjadi milik pengguna.
Mengurangi Ketergantungan pada Input Pertanian dari Luar
Salah satu persoalan dalam sistem pertanian modern adalah tingginya ketergantungan terhadap input eksternal. Benih, pupuk, pestisida, dan sarana produksi lainnya sebagian besar dibeli dari luar sistem usaha tani. Ketika harga naik atau distribusi terganggu, petani langsung merasakan dampaknya.
Tentu tidak realistis jika petani diminta memproduksi seluruh input sendiri. Banyak sarana pertanian memang membutuhkan standar produksi tertentu dan tetap harus diperoleh dari luar. Namun masih ada ruang untuk mengurangi ketergantungan terhadap sebagian input melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Dalam konteks Desa Cileles, pendekatan ini cukup relevan karena aktivitas pertanian masih menghasilkan biomassa berupa jerami, batang tanaman, daun, dan residu budidaya lainnya. Bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi kompos, sementara jagung dapat dikembangkan menjadi pupuk organik cair berfitohormon.
Ketika dua proses ini berjalan beriringan, kita mulai melihat perubahan dari pola produksi linear menuju pola yang lebih sirkular. Sebagian bahan yang sebelumnya dianggap sisa dapat dikembalikan ke sistem produksi, dan sebagian input tidak selalu harus datang dari luar.
Pekarangan dan Peluang Urban Farming di Cileles
Potensi Cileles tidak hanya berada di sawah dan kebun. Kawasan permukiman di desa ini tercatat sekitar 64,20 hektare. Angka tersebut tentu tidak berarti seluruh area permukiman dapat digunakan untuk bercocok tanam, tetapi menunjukkan bahwa ruang rumah tangga memiliki posisi penting dalam struktur desa.
Pekarangan sering kali dianggap terlalu kecil untuk disebut sebagai lahan produksi. Padahal, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan seberapa luas lahannya, melainkan apa yang dapat dihasilkan dari ruang yang tersedia.
Urban farming menjadi relevan di titik ini. Konsep ini tidak harus dipahami sebagai kebun besar di tengah kota. Dalam praktiknya, urban farming dapat berbentuk budidaya sayuran di halaman rumah, teras, sisi bangunan, rak vertikal, pot, atau polybag. Intinya adalah membawa produksi pangan lebih dekat dengan tempat tinggal dan konsumen.
Cileles berada dalam posisi yang unik karena masih memiliki akar pertanian, tetapi pada saat yang sama berkembang sebagai bagian dari kawasan Jatinangor yang semakin urban. Perkembangan kawasan pendidikan, permukiman, dan aktivitas ekonomi baru membuat pola penggunaan ruang juga berubah. Dalam kondisi seperti ini, urban farming tidak perlu dilihat sebagai pengganti pertanian desa, tetapi sebagai bentuk adaptasi.
Ketika lahan menjadi lebih terbatas, sebagian aktivitas produksi pangan dapat bergerak mendekati rumah.
Urban Farming Bukan Sekadar Menanam di Polybag
Ada risiko ketika urban farming dipahami terlalu sederhana sebagai kegiatan membagikan bibit dan polybag. Model seperti ini mudah dilakukan, tetapi belum tentu bertahan.
Pekarangan seharusnya dipandang sebagai ruang tempat beberapa sumber daya rumah tangga dapat bertemu. Sisa tanaman dapat diolah menjadi kompos. Kompos digunakan sebagai bagian media tanam. POC berbahan jagung dapat digunakan sebagai salah satu input organik. Sayuran ditanam dekat dengan tempat tinggal, lalu hasilnya kembali ke dapur keluarga. Sisa biomassa berikutnya dapat kembali masuk ke proses pengomposan.
Siklus ini terlihat sederhana, tetapi justru karena skalanya kecil, hubungan antara sumber daya, pengolahan, budidaya, dan konsumsi menjadi lebih mudah dipahami.
Di sinilah urban farming memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar kegiatan bercocok tanam di ruang sempit, tetapi dapat menjadi bagian dari pembelajaran rumah tangga mengenai pangan, lingkungan, dan penggunaan sumber daya.
Pendekatan seperti ini juga perlu fleksibel. Tidak semua rumah memiliki halaman luas. Ada keluarga yang hanya memiliki teras kecil, ada yang memiliki sedikit ruang di sisi rumah, dan ada pula yang hampir tidak memiliki lahan terbuka. Karena itu, pemberdayaan yang baik tidak memaksakan satu model budidaya untuk semua, tetapi membantu setiap rumah tangga menemukan skala dan bentuk yang paling sesuai dengan kondisinya.
Dari Jagung, Kompos, hingga Sayuran Pekarangan
Jika jagung hanya dilihat sebagai bahan untuk membuat POC, ceritanya sebenarnya terlalu cepat selesai. Yang lebih menarik justru terjadi ketika jagung dihubungkan dengan kompos, pekarangan, dan produksi pangan rumah tangga.
Jagung dapat menjadi bahan POC. Residu tanaman dapat menjadi kompos. Kompos dan POC digunakan dalam budidaya sayuran. Pekarangan menjadi ruang produksi. Hasil panen kembali ke keluarga. Sisa biomassa berikutnya dapat diproses kembali menjadi bahan organik.
Pada titik itu, kita tidak lagi hanya berbicara tentang pupuk organik cair. Kita sedang berbicara tentang sebuah ekosistem kecil yang dapat bekerja pada skala rumah tangga.
Dalam bahasa akademik, kita menyebutnya ekonomi sirkular. Namun masyarakat tidak harus menghafal istilah tersebut untuk mempraktikkannya. Esensinya sederhana: jangan buru-buru membuang sesuatu yang masih dapat memiliki nilai.
Pemberdayaan Masyarakat Dimulai dari Sumber Daya Lokal
Banyak program pemberdayaan berangkat dari asumsi bahwa masyarakat kekurangan sesuatu, lalu pihak luar datang membawa solusi. Pendekatan semacam ini kadang memang diperlukan, tetapi tidak selalu harus menjadi titik awal.
Dalam banyak kasus, masalahnya bukan ketiadaan sumber daya. Masalahnya adalah sumber daya yang tersedia belum sepenuhnya dikenali nilainya.
Jagung sudah ada. Residu tanaman tersedia. Pekarangan juga ada. Pengalaman bertani telah lama dimiliki masyarakat.
Yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang dapat menghubungkan semua unsur itu.
Dari sudut pandang pemberdayaan, ini jauh lebih kuat daripada sekadar memberikan produk jadi. Ketika masyarakat dapat memahami bagaimana sebuah bahan diolah, mengapa proses tertentu dilakukan, dan bagaimana hasilnya digunakan, mereka mulai memiliki kapasitas untuk mengulang proses tersebut secara mandiri.
Teknologi kemudian tidak berhenti sebagai milik orang yang memperkenalkannya. Ia mulai menjadi milik orang yang menggunakannya.
Setelah Pelatihan Selesai, Apakah Teknologinya Tetap Hidup?
Salah satu kelemahan dalam banyak program pemberdayaan adalah kecenderungan menilai keberhasilan hanya ketika kegiatan sedang berlangsung. Peserta hadir, diskusi aktif, produk berhasil dibuat, dan dokumentasi lengkap. Semua itu penting, tetapi sebenarnya baru permulaan.
Pertanyaan yang lebih penting muncul setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Apakah masyarakat masih membuat POC sendiri? Apakah pekarangan masih ditanami? Apakah pengetahuan itu menyebar ke keluarga atau tetangga lain? Apakah teknologi tersebut bertahan tanpa kehadiran pendamping?
Keberhasilan kegiatan dapat selesai dalam sehari. Keberhasilan pemberdayaan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Menurut saya, ukuran yang paling bermakna justru terletak pada keberlanjutan. Ketika masyarakat mampu mengulang, menyesuaikan, dan menjelaskan kembali sebuah teknologi kepada orang lain, saat itulah teknologi mulai benar-benar hidup.
Masa Depan Pertanian Bisa Dimulai dari Hal yang Sederhana
Kita tetap membutuhkan teknologi maju untuk menjawab tantangan pertanian masa depan. Pertanian presisi, kecerdasan buatan, sensor, otomasi, dan irigasi cerdas akan menjadi bagian penting dalam transformasi sektor pertanian. Namun masa depan itu tidak akan benar-benar inklusif jika hanya dibangun oleh teknologi yang mahal dan sulit dijangkau.
Jagung yang difermentasi menjadi pupuk organik cair mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan sistem pertanian digital. Pekarangan dengan beberapa pot atau polybag mungkin tampak kecil jika dibandingkan dengan hektare lahan produksi. Tetapi perubahan dalam masyarakat tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang, ia dimulai dari perubahan cara melihat sesuatu yang sudah lama ada.
Jagung yang sebelumnya hanya dipandang sebagai pangan kini dilihat sebagai sumber bahan untuk teknologi pertanian. Pekarangan yang sebelumnya dianggap terlalu kecil mulai dipandang sebagai ruang produksi. Residu tanaman yang sebelumnya dianggap sisa mulai dilihat sebagai bahan yang dapat dikembalikan ke sistem.
Ketika perubahan seperti ini mulai terjadi, yang tumbuh bukan hanya tanaman. Yang tumbuh adalah kapasitas masyarakat untuk mengenali, mengolah, dan memanfaatkan sumber dayanya sendiri. Dan mungkin, di situlah teknologi pertanian menemukan bentuknya yang paling bermakna: bukan hanya ketika ia berhasil diciptakan, tetapi ketika ia dapat dipahami, digunakan, disesuaikan, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Untuk Cileles, perjalanan itu bisa saja dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebutir jagung dan sebidang kecil pekarangan.

