Konten dari Pengguna

Mengenal Para Penulis Naskah Drama Era Orde Baru

Sophie Astrid S

Sophie Astrid S

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sophie Astrid S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Drama Korea saat ini sedang digandrungi anak-anak muda. Namun, tahukah kamu kalau drama yang ditulis oleh sastrawan Indonesia tidak kalah kerennya dengan drama yang ditulis para dramawan dunia?

Presiden Joko Widodo menyalami Putu Wijaya. Foto: Jokowi/twitter
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo menyalami Putu Wijaya. Foto: Jokowi/twitter

Mungkin kamu sudah tahu, kalau kita memang mempunyai banyak dramawan. Namun, kali ini kita akan mengenal lebih dekat dengan para penulis naskah drama era Orde Baru.

Kamu tahu Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) ?

Surat tersebut adalah salah satu dasar lahirnya Orde Baru. Hingga akhirnya Indonesia mengalami dualisme kepemimpinan yang membuat kondisi politik Indonesia tidak stabil. Pada 22 Februari 1967, Presiden Soekarno memutuskan untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Jenderal Soeharto untuk memimpin Indonesia.

Di bawah pimpinan Soeharto, pemerintah mampu menurunkan angka pengangguran, meningkatnya pendapatan per kapita, suksesnya program KB, dsb. Namun, sangat disayangkan pemerintahannya marak dengan korupsi, kolusi, netopisme, membatasi kebebabasan pers dan membungkam para pengkritik pemerintah.

Para dramawan seakan-akan tidak takut dengan ancaman pemerintah tersebut, mereka tetap berkarya mengikuti hati nuraninya. Para dramawan tidak ingin melewatkan kejadian yang sedang terjadi dan menuangkannya dalam sebuah karya sastra. Banyak para dramawan menuangkannya dalam puisi, sajak, dan ada juga yang menuliskannya ke dalam sebuah naskah drama yang siap untuk dipentaskan.

Siapa sajakah dramawan yang menulis naskah drama berisikan singgungan terhadap pemerintah Orde Baru? Yuk, kita bahas!

Dramawan yang Menulis Naskah Drama Era Orde Baru

  1. W.S. Rendra, dramawan yang apabila namanya disebut, kita pasti langsung tahu bahwa ia merupakan sastrawan hebat di negeri ini. Namun, ternyata W.S. Rendra tidak hanya ingin karya-karyanya enak dibaca dan terdengar indah saja, tetapi ia ingin karya-karyanya memiliki arti dan menggambarkan keadaan yang sedang terjadi saat itu. Kalau kita baca naskah drama berjudul Mastodon dan Burung kondor, kita akan tahu bahwa drama tersebut berisikan kritikan terhadap pemerintah yang berkuasa saat itu, lho. Bagaimana keadaan rakyat yang tertindas disimbolkan oleh Burung Kondor, sedangkan Mastodon digambarkan sebagai simbol pemerintah yang diktator, rakus, dan suka menindas rakyat. Nah, naskah drama ini pernah dipentaskan di Yogyakarta tahun 1973, tetapi setelah itu dicekal untuk dipentaskan kembali karena dengan berani menyinggung pemerintah yang berkuasa saat itu. Ia juga merupakan pendiri Bengkel Teater yang berada di Yogyakarta.

  2. Arifin C. Noer, dramawan yang pernah menjadi sutradara film Pengkhianatan G 30 S/PKI ini merupakan penulis naskah dramanya Mega-Mega. Naskah tersebut menceritakan kehidupan gelandangan dengan keadaaan ekonomi yang tidak pasti. Tokoh Mae digambarkan sebagai gelandangan tua yang merasa iri dengan Retno yang masih muda dan berpotensi bisa mendapatkan uang lebih mudah. Kojai yang berperan sebagai manusia pengkhayal dan menemukan kebahagiannya hanya dengan mengkhayal, sedangkan Tukijan memiliki cita-cita membuka lahan di Pulau Sumatra sebagai tenaga transmigrasi.

    Naskah ini ditulis tahun 1968 saat Indonesia sedang berusaha menguatkan segala sektor untuk membangun perekonomian Indonesia yang lebih baik. Isi cerita yang memberikan sebuah gambaran tentang Indonesia yang masih belum siap dalam mengelola negaranya sehingga segala kemungkinan bisa terjadi di masa yang akan datang, baik positif maupun negatif. Arifin merupakan salah satu penulis naskah yang banyak mengangkat kisah tentang permasalahan rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan dan menyelipkan pesan-pesan kritik sosial dalam beragam naskahnya. Pendiri Teater Kecil ini ingin menjadikan teaternya sebagai wadah untuk mengembangkan teater di Indonesia. Ia juga dianggap sebagai pelopor drama modern Indonesia. Hebat banget, ya!

  3. Putu Wijaya, dramawan satu ini tidak hanya ingin menjadikan karya-karyanya menjadi bahan hiburan, tetapi ia ingin karya-karyanya bisa menjadi bahan perenungan. Malang melintang dalam dunia sastra membuatnya kaya akan pengalaman di bidang sastra. Berbagai penghargaan telah ia dapatkan, salah satunya pada tahun 1973, naskah drama yang ditulisnya dengan judul Aduh memenangkan sayembara naskah drama Dewan Kesenian Jakarta. Putu Wijaya juga merupakan pendiri Teater Mandiri, dinamakan 'Mandiri' karena memiliki arti sanggup berdiri sendiri. Salah satu naskah dramanya yang membahas tentang pemerintah Orde Baru, yaitu Aut. Naskah ini ditulis pada tahun 1987. Aut merupakan istilah tidak baku yang memiliki makna tua. Ceritanya berisi perilaku-perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh beberapa tokoh. Namun, terdapat tokoh yang memiliki harapan agar setiap manusia dapat memperbaiki akhlak dan perilakunya. Cerita yang menggambarkan keadaan politik yang tengah terjadi di Indonesia pada periode 80-an.

  4. Nano Riantiarno, dramawan sekaligus sutradara yang pernah menjabat sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Ia juga telah menulis puluhan naskah drama dan menjadi pendiri Teater Koma pada tahun 1977. Nano Riantiarno berhasil membuat teaternya selalu dipadati penonton dan bisa bertahan hingga sekarang. Salah satu naskah dramanya yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat kecil yang menjadi korban atas kekejian penguasa dan penguasa, yaitu naskah drama Trilogi Opera Kecoa: Bom Waktu (1982), Opera Kecoa (1985), Opera Julini (1986). Berlatar kehidupan rakyat Indonesia tahun 1980-an ketika Indonesia sedang mencoba membangun perekonomiannya. Kehidupan rakyat miskin yang tidak memiliki keahlian sehingga tidak punya sandaran untuk mencari penghidupan di tengah gemerlapnya kehidupan perkotaan. Mereka dimetaforkan menjadi kecoa-kecoa yang tinggal di gorong-gorong. Di tempat itulah mereka menjalani hidupnya yang penuh dengan permasalahan. Bertolak belakang dengan pemerintah yang menganggap bahwa mereka telah berhasil memberantas kemiskinan.

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan siapa saja penulis naskah drama masa Orde Baru dan karyanya yang bertujuan untuk menyinggung tentang pemerintah saat itu. Kalau kamu, paling suka sama penulis dan naskah drama yang mana nih?

Sumber bacaan :

Riantiarno, N. 2011. Kitab Teater. Jakarta: PT Gramedia.

Karnamisastra, Saini. Indonesian Theatre – Historical Background and Current Trends. Diunduh pada 3 Oktober 2016 pukul 10.39 WIB.

Soemanto, Bakdi. 2017. Rendra: Karya dan Dunianya. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Wijaya, Putu. 2017. Konsep Menulis. https://putuwijaya.wordpress.com/2007/11/08/konsep-menulis/, diakses pada 06 Oktober 2021 pukul 23.05 WIB.