Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Sering Menyangkal Perasaan Sendiri?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sopiah Syamsul Ma'rifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh www.kaboompics.com dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-kesepian-7273324/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh www.kaboompics.com dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-perempuan-kaum-wanita-kesepian-7273324/

Pernah gak sih kamu bilang, “Aku gapapa,” padahal sebenarnya lagi sedih, kecewa, atau capek banget? Atau malah memilih pura-pura santai supaya terlihat kuat di depan orang lain? Nah, ternyata kebiasaan menyangkal perasaan itu memang sering terjadi, dan ada penjelasan psikologis di baliknya.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai repression atau represi, yaitu kecenderungan seseorang untuk menekan atau menghindari perasaan negatif supaya citra dirinya tetap terasa “baik-baik saja.” Jadi, bukan karena seseorang tidak punya emosi, tapi karena ia berusaha tidak terlalu menyadari atau menunjukkan emosi tersebut.

Mengapa Kita Sering Menyangkal Perasaan?

Salah satu alasannya adalah karena kita takut ditolak atau dianggap lemah. Penelitian tentang rejection sensitivity menjelaskan bahwa orang yang terlalu sensitif terhadap penolakan cenderung lebih mudah cemas, overthinking, dan menahan perasaannya sendiri demi menjaga hubungan dengan orang lain. Orang dengan sensitivitas penolakan tinggi juga sering salah mengartikan sikap orang lain sebagai bentuk penolakan, meskipun sebenarnya biasa saja. Akibatnya, mereka jadi lebih memilih diam, menyangkal perasaanya, memendam emosi, atau pura-pura tidak terluka.

Ketika Menyangkal Perasaan Menjadi Kebiasaan

Menariknya, menyangkal perasaan sering kali terjadi secara tidak sadar. Seseorang bisa benar-benar merasa dirinya “baik-baik saja,” padahal tubuh dan pikirannya sebenarnya sedang tertekan. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan gaya coping represif cenderung menghindari emosi negatif dan fokus mempertahankan citra diri yang positif. Sekilas memang terlihat kuat dan tenang. Tapi kalau terus dilakukan, kebiasaan ini bisa membuat seseorang sulit memahami dirinya sendiri, sulit terbuka dengan orang lain, bahkan memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosialnya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Belajar menerima emosi bukan berarti kita lemah. Sedih, kecewa, marah, atau takut adalah hal yang wajar dirasakan manusia. Kadang, yang kita butuhkan bukan menyembunyikan perasaan, tapi memberi ruang untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Karena semakin sering kita menyangkal emosi sendiri, semakin sulit juga kita merasa benar-benar lega.

__________________________________

Ditulis oleh Sopiah Syamsul Ma'rifah bersama Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog

Referensi

Mishra, M., Reis, S., & Allen, M. S. (2024). Predicting relationship outcomes from rejection sensitivity in romantic couples: testing actor and partner effects. Current Psychology, 43(36), 29095-29107.

Garssen, B. (2007). Repression: Finding our way in the maze of concepts. Journal of behavioral medicine, 30(6), 471-481.

kumparan post embed