Siswa di Barak Militer: Disiplin atau Kekerasan Terselubung?

Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer,Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Phillippe alvanso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usulan Gubernur Jawa Barat mengenai pembangunan barak militer sebagai sarana pembinaan pemuda menimbulkan beragam pandangan. Di satu pihak, gagasan tersebut dinilai terlalu kaku dan militeristik. Namun di pihak lain, langkah tersebut patut diapresiasi sebagai terobosan dalam merespons krisis kedisiplinan di kalangan remaja, khususnya mereka yang belum dapat dibina melalui jalur pendidikan formal.
Fenomena kenakalan siswa bukanlah hal baru.
Kita kerap mendengar kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, hingga pelanggaran berat lainnya yang melibatkan pelajar. Banyak sekolah, guru, bahkan orang tua mulai kewalahan menghadapi perilaku siswa yang tidak lagi cukup ditangani dengan nasihat atau sanksi administratif. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang lebih tegas dan terstruktur menjadi semakin relevan.
Barak militer dapat menjadi alternatif pembinaan dengan pendekatan disiplin tinggi. Di lingkungan tersebut, siswa tidak hanya diajarkan tata tertib, tetapi juga dibentuk mentalnya melalui latihan fisik, tanggung jawab kolektif, dan rutinitas teratur. Nilai-nilai seperti hormat, tanggung jawab, kemandirian, dan ketegasan dapat tumbuh lebih kuat dibandingkan di ruang kelas yang cenderung permisif.
Tentu saja, pendekatan ini tidak berlaku untuk seluruh pemuda. Barak militer bukan tempat bagi remaja berprestasi yang telah menunjukkan sikap positif. Namun, bagi mereka yang terindikasi melakukan pelanggaran berat atau berulang kali bermasalah di sekolah, pendekatan ini dapat menjadi tamparan keras yang menyadarkan. Dalam jangka panjang, hal ini merupakan investasi karakter yang bermanfaat bagi individu maupun masyarakat.
Di sisi lain, keberadaan barak juga dapat meringankan beban sekolah dan lembaga pendidikan yang selama ini menjadi penampung berbagai persoalan sosial. Dengan jalur khusus seperti ini, sekolah dapat lebih fokus pada proses pembelajaran, sementara rehabilitasi perilaku siswa dilakukan di tempat yang lebih sesuai.
Sebagai seorang mahasiswa, saya memandang usulan barak militer bukan sebagai bentuk kemunduran, melainkan langkah maju yang realistis dan berani. Pendidikan karakter tidak selalu harus disampaikan dengan kelembutan—terkadang ketegasan dibutuhkan agar nilai-nilai moral benar-benar tertanam. Terlebih lagi di tengah krisis otoritas dan melemahnya kontrol sosial terhadap remaja.
Pemerintah tinggal memastikan bahwa pelaksanaan program ini tidak melanggar hak asasi manusia, dilengkapi dengan pendampingan psikologis yang memadai, serta menjunjung tinggi prinsip pembinaan, bukan penghukuman. Dengan pendekatan yang tepat, barak militer dapat menjadi wadah bagi lahirnya generasi muda yang disiplin, tangguh, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Phillippe alvanso,Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
