Bagaimana Demokrasi Mati

Muhammad Soultan Joefrian
Mahasiswa jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas
Konten dari Pengguna
3 April 2024 13:24 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Soultan Joefrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tulisan saya kali ini akan membahas 2 buku yang bicara tentang demokrasi dan untuk judul tulisan saya ini pun berasal dari salah satu buku tulisan dari dua orang Profesor di Harvard University yaitu Steven Levitsky dan Daniel Ziblat yang berjudul How Domocracies Die.
ADVERTISEMENT
Dari judul bukunya saja kita bisa menebak bahwa pada buku ini akan membahas kegelisahan penulisnya tentang realitas demokrasi di Amerika Serikat khususnya dan dunia pada umumnya. Melalui buku ini pula lah penulisnya menguraikan bagaimana proses demokrasi itu mati dan juga upaya yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan demokrasi dari kematian.
Sumber: Shutterstock.
Kedua penulis mengungkapkan bahwa proses matinya demokrasi tidak terjadi seperti pada masa perang dingin dan yang terjadi baru-baru ini di Thailand melakukan kudeta oleh militernya. Akan tetapi demokrasi akan mati oleh pengkhiatan, seperti kalau kita ingat-ingat sejarah bahwa Adolf Hitler dipilih secara demokratis oleh masyarakat jerman pada waktu itu dan setelah terpilih baru nampak watak aslinya yang otoriter.
Salah satunya lagi adalah pemimpin Venezuela yaitu Hugo Chaves yang awalnya memberikan harapan kepada rakyatnya dengan tampil sebagai pemimpin populis dengan suara mayoritas dan kemudian perlahan-lahan dia mulai mencari cara untuk mempertahankan kekuasaannya dengan membunuh lawan-lawan politiknya. Kira-kira seperti inilah yang terjadi di Indonesia saat ini menurut pandangan penulis, dimana pengkhianatan yang semakin terang-terangan diperlihatkan oleh para penguasa tanpa memperdulikan etika dalam berpolitik.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya pada buku karya Laura Gamboa yang berjudul “Resisting Backsiding” mengatakan bahwa rata-rata negara didunia sedang mengalami erosi demokrasi. Menurutnya erosi demokrasi ini terjadi karena faktor tidak ada atau kurangnya oposisi di suatu negara dan juga faktor civil society seperti mahasiswa sekarang yang hanya fokus untuk mencari IPK tinggi sehingga erosi demokrasi ini terus terjadi sampai saat ini.
Sumber: Shutterstock.
Seharusnya dari 2 buku ini bisa menjadi tamparan keras bagi penulis dan mahasiswa pada umumnya, karena nyatanya saat ini banyak mahasiswa yang hanya mementingkan nilai IPKnya dan melupakan salah satu tugas dari mahasiswa itu sendiri sebagai Agent Of Change dan sebagai salah satu perwakilan dari civil society yang juga berfungsi sebagai Check and Balance dari pemerintah.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu dengan tulisan ini penulis ingin mengingatkan kita terutama bagi mahasiswa jangan terlena dengan kepentingan pribadi. Kita harus ingat bahwa mahasiwa tidak hanya sebagai orang-orang yang fokus belajar dikampus tanpa memperdulikan yang lain, melainkan peran mahasiswa jauh lebih besar dari itu sebagai social control dalam menjalankan pemerintahan.