Generasi Z dan Buku: Apakah Gen Z masih Suka Membaca?

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Mahasiswa
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sri Anggih fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah arus globalisasi yang saat ini telah berkembang sangat pesat pada lingkungan sekitar seperti derasnya arus media sosial, vidio pendek, dan konten instan, muncul beberapa pertanyaan yang kerap menggelitik para pencinta literasi: masihkah generasi Z membaca buku? Apakah buku fisik dan literasi konvensional telah kehilangan tempatnya di hati generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini? Generasi Z hidup dalam suasana literasi yang beragam, diantaranya;
1. Hidup di Era serba Digital
Generasi Z tumbuh dengan teknologi di ujung jari. Mereka lebih mengenali dengan TikTok, Instagram, dan YouTube sejak kecil. Konten visual yang cepat dan instan menjadi makanan sehari-hari. Maka dari itu, Gen Z lebih sering menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan menarik tersebut. Ini menimbulkan tantangan tersendiri seperti kemampuan fokus menurun, dan aktivitas membaca panjang sering dianggap membosankan.
Namun, bukan berarti mereka sepenuhnya meninggalkan literasi. Yang terjadi adalah pergeseran bentuk dan media baca.
2. Buku Masih Relevan, Tapi dengan Wajah Baru
Survei dari Perpusnas pada 2022 menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia perlahan meningkat, terutama di kalangan muda yang aktif di komunitas literasi digital. Banyak dari mereka kini membaca melalui platform seperti Wattpad, e-book di Google Play Books, bahkan mendengarkan buku melalui audiobook. Dengan canggihnya zaman yang sudah sangat maju ini dapat memungkinkan pembuatan website perpustakaan yang berbasis digital. Gen Z mengira dengan adanya website yang tersedia memudahkan mereka dalam pencarian sumber buku yang ingin dijadikan referensi untuk tugasnya.
Beberapa aplikasi juga menggabungkan unsur gamifikasi agar membaca terasa seperti bermain. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak alergi pada bacaan — mereka hanya menyesuaikan diri dengan zaman.
3. Konten yang Relatable = Daya Tarik yang Kuat
Dalam sebuah buku bacaan harus memiliki perhatian yang menarik, agar para generasi Z dapat membaca buku dengan puas. Buku yang mampu menarik perhatian Gen Z biasanya memiliki beberapa ciri:
1. Tokoh seumuran mereka
2. Konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari
3. Gaya bahasa yang ringan
4. Format cerita yang bisa diakses cepat (cerpen, cerita bersambung, atau chat fiction)
Fenomena ini bisa dilihat dari naik daunnya buku-buku fiksi populer dan web novel dari Korea atau Jepang, serta buku-buku self-improvement yang dikemas ringan.
Peran Sekolah dan Komunitas
Meski teknologi punya daya tarik kuat, peran sekolah dan komunitas membaca tetap penting. Banyak sekolah mulai mengintegrasikan digital library, dan komunitas literasi muda seperti Booktok ID atau Goodreads Indonesia memberi ruang bagi Gen Z untuk berbagi rekomendasi buku. Selain itu juga, para komunitas bisa membuat sebuah taman baca yang dapat menarik perhatian para literasi, seperti dibuatnya tempat pojok membaca atau selainnya.
Program literasi yang membebaskan anak muda memilih sendiri bacaan mereka juga terbukti lebih efektif dibanding sistem yang memaksakan judul tertentu.
Harapan bagi Masa Depan Literasi
Membaca buku bagi Gen Z bukan tentang nostalgia kertas atau bau buku baru, melainkan soal makna, koneksi, dan pengalaman yang relevan. Generasi harus ditularkan dengan daya minat membaca yang kuat, agar kebudayaan membaca tidak punah meski zaman semakin berkembang pesat. Tugas kita bukan memaksa mereka membaca seperti generasi sebelumnya, tapi menciptakan ruang dan cara baru yang sesuai dengan dunia mereka.
Karena membaca bukan hanya soal membuka halaman, tapi membuka pikiran.
