Selamatan Laut di Pegatan: Tradisi Syukur Masyarakat Pesisir Katingan Kuala

Sri Astuti adalah mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam di UIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Saat ini sedang menjalani pendidikan di semester 6, ia aktif mendalami riset sejarah lokal dan pengembangan tatanan peradaban.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sri Astuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki bentang geografis yang menjadikan laut bukan sekadar batas wilayah, melainkan ruang kehidupan yang menyatu dengan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakatnya. Sejak masa lampau, komunitas pesisir di berbagai daerah menggantungkan keberlangsungan hidup pada sumber daya laut, sehingga terbentuk pola relasi yang khas antara manusia dan alam maritim. Relasi ini tidak hanya diwujudkan melalui aktivitas ekonomi seperti menangkap ikan, tetapi juga diekspresikan dalam bentuk sistem nilai, kepercayaan, serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kehidupan masyarakat pesisir, laut dipahami sebagai ruang yang memiliki kekuatan besar, baik yang bersifat material maupun spiritual. Kesadaran akan ketergantungan terhadap alam tersebut mendorong lahirnya berbagai praktik budaya yang bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan. Salah satu bentuk ekspresi budaya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara selamatan laut. Tradisi selamatan laut berkembang sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil laut yang diperoleh sekaligus sebagai bentuk permohonan keselamatan dalam menghadapi risiko pekerjaan melaut yang penuh ketidakpastian. Selamatan laut tidak dapat dipahami semata-mata sebagai ritual seremonial, melainkan sebagai representasi cara pandang masyarakat pesisir terhadap kehidupan.

Pelaksanaan selamatan laut biasanya diawali dengan pembukaan oleh MC yang memandu jalannya acara secara tertib dan khidmat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sejarah singkat Kecamatan Katingan Kuala, sambutan dari Damang Kepala Adat, sambutan Camat Katingan Kuala, serta pembacaan doa sebagai inti permohonan keselamatan. Setelah itu, sebuah kapal LCT membawa rombongan burdah menyusuri sungai dan diikuti oleh para peserta kegiatan sebagai puncak prosesi yang sarat makna kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi.
Camat Katingan Kuala, Hariadi Utomo, menyampaikan bahwa Selamatan dan Sedekah Laut Pegatan merupakan bentuk rasa syukur nelayan atas rezeki yang diperoleh dari laut serta pengingat pentingnya menjaga kelestarian laut bagi generasi mendatang.
A "Ini bagian dari pesta rakyat, ungkapan rasa syukur warga Pegatan yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," ujar Hariadi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/10).
Lebih lanjut, Hariadi menjelaskan sejumlah rangkaian kegiatan yang akan memeriahkan acara tersebut. Salah satunya adalah Burdah keliling Sungai Pegatan, di mana para nelayan dan perahu-perahu warga akan berkomvoi menggunakan kapal hias menyusuri sungai dan laut Pegatan sambil melantunkan Burdah serta doa bersama.https://kaltengonline.com/2025/10/21/selamatan-laut-pegatan-ungkapan-syukur-warga-pesisir-katingan-kuala/
Keunikan tradisi selamatan laut di Katingan Kuala terletak pada upaya masyarakat dalam menghidupkan kembali praktik budaya yang sempat lama tidak dilaksanakan. Kebangkitan kembali tradisi ini tidak hanya didorong oleh kerinduan terhadap nilai-nilai lama, tetapi juga oleh kesadaran kolektif akan pentingnya mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda. Dalam konteks ini, selamatan laut tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai media edukatif dan kultural untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, serta kepedulian terhadap lingkungan laut kepada generasi berikutnya. Pelaksanaan selamatan laut di Katingan Kuala melibatkan berbagai unsur masyarakat tanpa memandang perbedaan usia, status sosial, maupun latar belakang ekonomi.
Sebagai bagian dari warisan budaya maritim, tradisi selamatan laut di Pegatan, Katingan Kuala, tidak hanya mencerminkan hubungan spiritual dan ekologis antara manusia dan laut, tetapi juga memperkuat identitas serta solidaritas sosial masyarakat pesisir. Keberlanjutan tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih relevan di tengah arus modernisasi yang terus berkembang. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan selamatan laut bukan hanya tanggung jawab masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
