Konten dari Pengguna

Dinamika Perekonomian Indonesia dan Agenda Kebijakan Strategis Ke Depannya

Sri Harjanto Adi Pamungkas

Sri Harjanto Adi Pamungkas

Dosen Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI dan Analis Kebijakan Publik (Berfokus pada isu Kebijakan Publik, Ekonomi dan Future Studies).

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Harjanto Adi Pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Dinamika perekonomian Indonesia dalam 2 dekade terakhir menunjukkan perkembangan yang dinamis. Terdapat beberapa tren yang mewarnai dinamika perekonomian Indonesia. Pertama adalah tren positif dari progres Pembangunan sosial-ekonomi dan kedua adalah tren negatif dari menguatnya tantangan struktural perekonomian. Progres pembangunan sosial-ekonomi dapat dilihat dari stabilitas pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan hingga peningkatan usia harapan hidup. Berdasarkan data yang dihimpun dari Bank Dunia (2025a) pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil pada rentang 4,5% hingga 6,5% pada dua dekade terakhir. Angka kemiskinan dalam 10 tahun terakhir menurun dari 9,84% pada tahun 2010 menjadi 8,57% pada tahun 2024 (BPS 2024b). Tingkat usia harapan hidup meningkat dari 68,6 pada tahun 2010 menjadi 74,1 pada tahun 2024 (BPS 2025a).

Tantangan struktural terlihat dari terjebaknya Indonesia dalam middle-income trap, tingginya penduduk usia muda yang menganggur dan struktur perekonomian yang didominasi UMKM. Indonesia telah sekitar 30 tahun terjebak dalam middle-income trap karena mengalami kesulitan mencapai standar penghasilan per kapita $14.005 (Lubis et al., 2015; Ratnasari et al., 2023). Pada tahun 2024, pendapatan per kapita Indonesia masih berada pada $1.146 per kapita per tahun (Bank Dunia, 2025b). Selain itu, terdapat 20,3% atau sekitar 9 juta pemuda berusia antara 15-24 tahun yang masuk kategori Not In Employment, Education and Training atau biasa disebut NEET (BPS, 2025b). Terakhir, struktur perekonomian Indonesia masih didominasi oleh UMKM yang memiliki karakteristik rendah produktivitas, rendah serapan teknologi dan kapasitas ekspor yang juga rendah (Wardhono, Modjo, and Utami 2019; Anjaningrum, Azizah, and Suryadi 2024).

Salah satu akar masalah dari berbagai tantangan struktural yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya adalah terjadinya de-industrialisasi di Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari terus menurunnya nilai tambah manufaktur (manufacture value added) Indonesia secara signifikan dalam dua dekade terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun dari Bank Dunia (2025c) terjadi tren penurunan nilai tambah manufaktur dari 32% tahun 2002 menurun ke 21% tahun 2012 dan terus merosot ke 19% tahun 2023. Tren merosotnya nilai tambah manufaktur di Indonesia ini menjadi semakin menarik karena dibarengi dengan adanya anomali dalam hubunganya dengan pertumbuhan ekonomi. Indonesia walaupun mengalami de-industrialisasi namun pada saat yang sama tetap dapat menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi. Apa faktor yang kemudian membuat anomali ini dapat terjadi? Penjelasannya dijabarkan pada paragraf selanjutnya.

Tren de-industrialisasi di Indonesia ternyata berbarengan dengan terjadinya periode resource boom. Periode ini adalah masa ketika permintaan terhadap komoditas, utamanya batu bara, mengalami kenaikan signifikan dari negara industri seperti Cina dan Jepang. Periode ini juga dibarengi dengan terjadinya kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan nikel di pasar internasional. International Energy Agency (2025) mencatat 3 tren lonjakan dalam komoditas batu bara di Indonesia. Tren pertama adalah lonjakan produksi batu bara yang meningkat sebesar 673% dari tahun 2000-2022. Tren kedua adalah adalah tingginya orientasi ekspor pada komoditas. Ekspor batu bara mengalami lonjakan sebesar 655% dari tahun 2000 hingga tahun 2022. Tren ketiga adalah terjadinya ketergantungan pada ekspor komoditas mentah. Ekspor batu bara berkontribusi sebesar 92% dari total ekspor energi Indonesia pada tahun 2022. Berbagai tren ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami dua masalah struktural sekaligus yaitu de-industrialisasi yang dibarengi dengan ketergantungan terhadap ekspor komoditas (commodity reliance). Situasi yang membuat Indonesia pada satu sisi merasa ekonomi tetap stabil bertumbuh namun pada sisi lain ada dua masalah struktur sekaligus dalam perekonomian.

Lalu, apa dampak negatif yang dialami oleh Indonesia dari permasalahan struktural dan anomali pertumbuhan ekonomi yang dijelaskan sebelumnya? Satu hal perlu untuk diingat bahwa sektor manufaktur bersifat padat karya (labor intensive) sementara sektor komoditas sumber daya alam bersifat padat modal (capital intensive). Studi dari Oxfam (2017) menunjukkan bahwa dampak pertumbuhan dari sektor komoditas sumber daya alam bersifat ekslusif karena mengalir pada kelompok pemilik modal sementara sektor manufaktur lebih bersifat inklusif karena mengalir ke masyarakat secara umum. Terkait dengan hal ini maka dampak yang dihasilkan adalah menurunnya cakupan ketenagakerjaan di sektor formal akibat penurunan sektor ekonomi padat karya dan menguatnya sektor ekonomi padat modal. Dampak lanjutannya adalah semakin membesarnya sektor ketenagakerjaan informal di Indonesia. Pada tahun 2024 tercatat sektor informal di Indonesa mencapai 59,1% atau setara dengan 84,1 juta penduduk yang bekerja (BPS 2024a). Besarnya sektor informal membuat tata kelola perekonomian menjadi relatif tidak tertata, tata kelola fiskal menjadi tidak optimal dan cakupan kebijakan sosial menjadi tidak efektif.

Berbagai dinamika yang dijelaskan sebelumnya kemudian mengantarkan Indonesia pada situasi perekonomian yang penuh tantangan. Pada satu sisi, stabilitas pertumbuhan ekonomi memang tetap dapat dijaga. Namun demikian, pada sisi lain, terdapat berbagai aspek struktural yang menghalangi Indonesia dalam melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi, melakukan transformasi struktural dan mendistribusikan kesejahteraan secara merata (Ash Center for Democratic Governance and Innovation 2013). Hal ini kemudian dapat bermuara pada tiga dampak negatif. Pertama adalah penciptaan lapangan kerja tidak akan cukup cepat untuk menciptakan kesempatan kerja yang cukup bagi tenaga kerja Indonesia yang tumbuh pesat. Kedua adalah penurunan daya saing akibat perekonomian yang tidak cukup terdiversifikasi, produktif, atau terintegrasi secara ekonomi untuk menjadi berkelanjutan. Ketiga adalah pemerataan ekonomi yang tidak akan cukup inklusif untuk memastikan kemakmuran bersama dari kekayaan nasional Indonesia yang terus tumbuh.

Berkaitan dengan problematika multidimensional yang dijelaskan sebelumnya lalu apa agenda-agenda kebijakan strategis yang perlu didorong oleh Indonesia sebagai solusi? Setidaknya terdapat 4 agenda kebijakan strategis yang perlu diprioritaskan oleh Indonesia. Agenda kebijakan strategis pertama adalah mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi untuk keluar dari middle-income trap. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan memfokuskan kebijakan fiskal untuk memberikan insentif-insentif penguatan bagi sektor manufaktur. Selain itu, mendorong aliran investasi internasional untuk masuk dengan melakukan pembenahan tata kelola investasi yang bebas dari biaya tambahan (pungli, biaya kemanan ormas dsb) penting untuk mendorong daya saing investasi nasional. Agenda kebijakan strategis kedua adalah mendorong transformasi struktural perekonomian dan ketenagakerjaan. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan langkah-langkah untuk mendorong formalisasi UMKM dan memfasilitas transisi vertikal dari usaha mikro ke usaha kecil, usaha kecil ke usaha menengah, usaha menengah ke usaha besar.

Lebih lanjut, agenda kebijakan strategis ketiga adalah mendorong inklusivitas dampak dari pertumbuhan ekonomi. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan memfokuskan pemberian insentif fiskal untuk sektor-sektor padat karya sembari mentransformasikan sektor padat modal agar dapat terintegrasi dengan sektor padat karya. Agenda kebijakan strategis keempat adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada sektor dengan nilai tambah tinggi. Hal ini ditujukan agar pertumbuhan ekonomi menjadi lebih berkesinambungan. Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi seperti sektor teknologi, sektor inovasi dan sektor manufaktur berbasis industri pengolahan. Diharapkan dengan berbagai agenda kebijakan strategis ini maka Indonesia dapat mentransformasikan perekonomiannya menjadi perekonomian yang bertumbuh secara pesat, berbasis industri dengan nilai tambah tinggi dan mendistribusikan kesejahteraan secara merata.

Daftar Pustaka

Anjaningrum, Widiya Dewi, Nur Azizah, and Nanang Suryadi. 2024. “Spurring SMEs’ Performance through Business Intelligence, Organizational and Network Learning, Customer Value Anticipation, and Innovation - Empirical Evidence of the Creative Economy Sector in East Java, Indonesia.” Heliyon 10 (7). https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e27998.

Ash Center for Democratic Governance and Innovation. 2013. The Sum Is Greater than the Parts: Doubling Shared Prosperity in Indonesia Through Local and Global Integration. 1st ed. Vol. 1. Gramedia Pustaka Utama.

Bank Dunia. 2025a. “GDP Growth (Annual %) - Indonesia | Data.” https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG?locations=ID.

———. 2025b. “GDP per Capita (Current US$) - Indonesia | Data.” https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD?locations=ID.

———. 2025c. “Manufacturing, Value Added (% of GDP) - Indonesia | Data.” 2025. https://data.worldbank.org/indicator/NV.IND.MANF.ZS?locations=ID.

BPS. 2024a. “Booklet Sakernas Februari 2024.” Jakarta.

———. 2024b. “Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin Dan Garis Kemiskinan, 1970-2017 - Tabel Statistik - Badan Pusat Statistik Indonesia.” https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MTQ5NCMx/jumlah-penduduk-miskin--persentase-penduduk-miskin-dan-garis-kemiskinan--1970-2017.html.

———. 2025a. “Angka Harapan Hidup (AHH) Menurut Kabupaten/Kota Dan Jenis Kelamin - Tabel Statistik - Badan Pusat Statistik Indonesia.” https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDU1IzI=/angka-harapan-hidup--ahh--menurut-kabupaten-kota-dan-jenis-kelamin--tahun-.html.

———. 2025b. “Persentase Usia Muda (15-24 Tahun) Yang Sedang Tidak Sekolah, Bekerja Atau Mengikuti Pelatihan - Tabel Statistik - Badan Pusat Statistik Indonesia.” Jakarta. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTE4NiMy/persentase-usia-muda--15-24-tahun--yang-sedang-tidak-sekolah--bekerja-atau-mengikuti-pelatihan--persen-.html.

International Energy Agency. 2025. “Indonesia Data on Coal - from Production to Export.” 2025. https://www.iea.org/countries/indonesia/coal.

Lubis, Raisal Fahrozi, Putu Mahardika, and Adi Saputra. 2015. “THE MIDDLE-INCOME TRAP: IS THERE A WAY OUT FOR ASIAN COUNTRIES?” Journal of Indonesian Economy and Business. Vol. 30.

Oxfam. 2017. “Towards a More Equal Indonesia: How the Government Can Take Action to Close the Gap between the Richest and the Rest - Oxfam Policy & Practice.” Jakarta. https://policy-practice.oxfam.org/resources/towards-a-more-equal-indonesia-how-the-government-can-take-action-to-close-the-620192/.

Ratnasari, Vita, Salsabila Hidayatul Audha, and Andrea Tri Rian Dani. 2023. “Statistical Modeling to Analyze Factors Affecting the Middle-Income Trap in Indonesia Using Panel Data Regression.” MethodsX 11 (December):102379. https://doi.org/10.1016/J.MEX.2023.102379.

Wardhono, Adhitya, Mohamad Ikhsan Modjo, and Eka Wahyu Utami. 2019. “Role of Credit Guarantee for Financing MSMEs: Evidence from Rural and Urban Areas in Indonesia.” Unlocking SME Finance in Asia: Roles of Credit Rating and Credit Guarantee Schemes, January, 187–216. https://doi.org/10.4324/9780429401060-9.