Penyuntingan Terhadap Media Sosial: Instagram

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang
Konten dari Pengguna
24 November 2022 15:38
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sri Hayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Setiap manusia memerlukan bahasa untuk menyampaikan gagasan dan berinteraksi sosial. Karena bahasa merupakan alat yang paling efektif dalam setiap aktivitas komunikasi. Oleh karena itu, bahasa memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan sosial manusia. Bahasa dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan.
ADVERTISEMENT
Bahasa berkembang pesat melalui penggunaan. Variasi bahasa sangat dipengaruhi oleh tuntutan dan tujuan komunikasi. Bahasa juga beragam tergantung kebutuhan dan tujuan komunikasi. Maka seiring dengan perkembangan zaman dan pemakai bahasa sendiri, kadang menimbulkan kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kesalahan berbahasa Indonesia memiliki variasi mulai dari kesalahan ejaan, mencampurkan bahasa asing ke Indonesia, penggunaan tanda baca yang tidak tepat, dan lain sebagainya.
Saat ini perkembangan teknologi makin canggih dan pengaruh globalisasi pun merambat dengan cepat. Terutama di kalangan anak muda, yang mengakibatkan berbagai perubahan dari segi tingkah laku dan gaya bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, menimbulkan fenomena komunikasi di jejaring media sosial.
https://pixabay.com/illustrations/instagram-white-male-3d-model-1889117/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/illustrations/instagram-white-male-3d-model-1889117/
Berbicara mengenai jejaring sosial, tentu kita akan merujuk pada media sosial. Media sosial dimulai sebagai cara teman berkomunikasi dan kemudian berkembang menjadi alat pemasaran. Masalah serius lainnya adalah banyak anak muda menggunakan istilah "gaul" di media sosial. Bahkan, saat ini banyak remaja menggunakan bahasa gaul untuk mengekspresikan diri di media sosial, terlepas dari konsekuensinya. Mereka melakukan ini karena ingin menetapkan trend dan cukup bangga jika kata-katanya ditiru oleh teman daring mereka. Mereka menerbitkan komentar, cerita pendek, dan konten lainnya dalam bahasa Indonesia karena berpotensi sebagai bahasa kelompok dan bahasa resmi negara. Mengingat bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara, maraknya bahasa tersebut di media sosial jelas merugikan bahasa Indonesia.
ADVERTISEMENT
Seperti yang tercantum dalam buku ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, kesalahan berbahasa meliputi penggunaan ejaan dan tanda baca yang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan. Di bawah ini ditemukan kesalahan berbahasa baik dari segi ejaan, tanda baca, maupun unsur asing dalam postingan, komentar, dan cerita singkat pada instagram.
Postingan: @salah satu akun penjual buku (flash sale 30k dapat 2 buku. Silakan dipilih siapa cepat dia flash sale!)
Pada postingan tersebut termasuk kesalahan berbahasa pada variasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karena dapat kita lihat terdapat campuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yaitu pada kosa kata ‘flash sale’ yang berarti penjualan kilat. Kata flash sale ini lazim dikenal dengan diskon atau potongan harga. Kata ini digunakan oleh para penjual, bertujuan untuk menarik perhatian pelanggan.
ADVERTISEMENT
Dan dilanjutkan dengan bahasa Indonesia 30k dapat 2 buku. Nah, di sini juga terdapat perubahan total pada penulisan nominal yang jumlahnya ribuan seperti di atas tercantum ‘30k’ maksudnya 30.000. Penulisan tersebut disepakati oleh beberapa kalangan yang mengetahuinya akhir-akhir ini. Penggunaan huruf ‘k’ untuk menggantikan penulisan ‘ribu’ dalam nominal ini beralaskan karena simpel. Namun, hal tersebut juga tidak dapat digunakan di berbagai situasi, yang penulis temukan hanya pada ragam santai saja dan di media sosial.
Pilihan kata yang digunakan di atas sering digunakan oleh para penjual untuk menarik perhatian pelanggan. Namun, menurut penulis penggunaannya pun harus sesuai kaidah kebahasaan. Khawatirnya orang awam tidak semua mengetahui pesan penjual, apalagi kalimatnya menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain itu, ada unsur yang diubah yaitu pada nominal ribuan yang diganti dengan huruf 'k'.
ADVERTISEMENT
Komentar:
Screenshot (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Screenshot (dokumen pribadi)
Dalam komentar tersebut terdapat kesalahan berbahasa pada pemilihan diksi. Jika kita merujuk KBBI dan PUEBI, pada kalimat tersebut memilih diksi yang tidak sesuai kaidah dan kosa kata yang tidak baku, terlihat ragam santai seperti ‘masi’ yang seharusnya ‘masih’, ‘ngacak’ bahasa tidak baku dari ‘acak’, dan ‘ngga’ juga sama bahasa tidak baku dari ‘tidak’.
Media sosial hakikatnya memang sebagai media mengekpresikan diri. Pengguna media sosial dominan tidak memperhatikan penggunaan bahasa. Oleh karena itu, mereka sering menggunakan bahasa yang tidak sesuai kaidah. Namun, menurut penulis hal ini masih wajar karena komentar di atas tidak mengandung SARA dan maknanya masih dimengerti oleh orang awam.
Screenshot (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Screenshot (dokumen pribadi)
Pada komentar di atas termasuk dalam bentuk kesalahan pada ejaan. Karena sudah jelas dan telah kita ketahui bahwa penulisan yang benar itu ‘subhanallah’ yang merupakan salah satu bentuk yang diucapkan oleh umat muslim untuk memuji keagungan sang pencipta.
ADVERTISEMENT
Selain itu, menurut penulis jika ingin berkomentar menyebutkan lafadz islam harus sesuai dengan penulisannya. Karena jika salah penulisan artinya pun akan berbeda.
Screenshot (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Screenshot (dokumen pribadi)
Dalam komentar di atas menggunakan bahasa gaul yaitu ‘cuk’ dan ‘sat set’. Keduanya memiliki definisi yang berbeda-beda. Bahasa gaul ‘cuk’ biasanya berarti menunjukkan keakraban penutur dan mitra tutur. Kata ‘cuk’ di sini dapat diartikan seperti ‘bro’. Jadi, konteks peristiwa tuturnya seperti keakraban. Sama halnya dengan bahasa gaul ‘sat set’ biasa diartikan sama dengan gerak cepat. Kata ini juga sama digunakan dalam bentuk tuturan santai dan melihat kelas sosialnya. Namun, memang pada media sosial biasanya kosa kata semacam itu yang sering digunakan dan bahasa gaul.
Penggunaan bahasa 'gaul' di media sosial memang tidak bisa lagi kita bendung, karena masyarakat telah menyetujuinya dan sering menggunakannya. Tetapi, jika terus menurus bahasa Indonesia akan terancam eksistensinya.
ADVERTISEMENT
Cerita singkat: @salah satu follower penulis_ "kuyuss bangeyy wktu nikah hihi"
Pada cerita singkat di atas sudah jelas termasuk kesalahan berbahasa pada ejaan. Karena dari kalimat tersebut menggunakan kata-kata yang ejaannya tidak sesuai dengan kaidah kebahasan. Seperti kata ‘kuyyus’ yang seharunya kurus, ‘bangeyy’ kata tidak baku dari sangat, ‘waktu’ kata ini juga dipenggal atau ada yang hilang yaitu huruf ‘a’. Penulisan yang seperti ini memang biasa dilakukan di media sosial seperti instagram. Dan pada akhiran kalimat pun ada tambahan yang mengekspresikan diri sedang tertawa.
Ternyata di media sosial seperti instagram masih banyak sekali kesalahan berbahasa yang ditemukan. Hal ini tidak terlepas dari faktor peristiwa tuturnya dan hakikat media sosial yakni wadah untuk mengekspresikan diri.
ADVERTISEMENT
editor-avatar-0
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020