Konten dari Pengguna

Tren Konten Mukbang: Antara Kelezatan dan Etika Dalam Sudut Pandang Islam

Srikandi Wulandari

Srikandi Wulandari

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Fakultas Syari'ah Dan Hukum Program Studi Perbandingan Madzhab

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Srikandi Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi Mukbang. foto dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Mukbang. foto dokumen pribadi

Berbicren digital kontemporer, tidak ada yang bisa mengabaikan fenomena "mukbang", istilah Korea yang berarti "makan siaran". Dari YouTube hingga TikTok, mukbang dengan cepat menjadi salah satu konten paling populer dalam beberapa tahun terakhir, memikat penonton dengan aneka ragam makanan yang disajikan dan gaya makan yang ekstrem. Namun, dalam sudut pandang agama, khususnya Islam, bagaimana kita menginterpretasikan tren ini?

Kelezatan dan Ekstremisme

Sebagai wujud keberagaman, mukbang menawarkan berbagai jenis makanan dari seluruh dunia. Momen makan yang ditransmisikan secara visual ini memang menggugah selera, tetapi sering kali berlebihan. Islam selalu mengajarkan tentang keseimbangan dan menolak ekstremisme. Dalam hal ini, mukbang bisa menjadi penanda untuk mencari keberimbangan antara kelezatan dan kesehatan.

Pemilihan Makanan dan Etika

Pada konteks Islam, pemilihan makanan sangat penting. Konsep haram dan halal mengharuskan setiap Muslim mengetahui asal-usul, komposisi, dan proses pembuatan makanan yang dikonsumsi. Dalam mukbang, penonton jarang mendapatkan informasi detail tentang makanan yang digunakan. Sehingga, perlu pertimbangan tambahan.

Etika Makan dan Sikap Makan

Islam menghargai etika makan dan sikap makan. "Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebihan" (QS. Al-A'raf: 31) adalah ayat yang menggambarkan pentingnya sikap makan. Dalam mukbang, sikap makan yang kadang berlebihan bisa memberikan dampak psikologis pada penonton, khususnya generasi muda.

Kesimpulan

Mukbang, meski seringkali mengundang perdebatan, tetap menjadi fenomena digital yang real dan popular. Dalam sudut pandang Islam, mukbang dapat menjadi platform yang baik untuk edukasi, selama menyajikan konten yang menghargai etika makan, memilih makanan halal, dan tidak merangsang konsumsi berlebihan. Memahami konteks Islam dalam tren digital ini akan membantu kita lebih bijaksana dalam mengkonsumsi konten digital.