Dosen FKIP Universitas Jember Ajari Dasawisma Ngambah Sulap Daun Jadi Ecoprint

saya adalah dosen S1 Pendidikan IPA FKIP Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sri rejeki dwi Astuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siapa sangka, daun singkong, bunga bougenville, atau pakis yang biasa tumbuh liar di pekarangan rumah ternyata bisa disulap jadi motif cantik di totebag, kaos, sampai mug. Itulah yang terjadi di Dusun Ngambah, Caturharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, selama dua hari, 27-28 Juni 2026.
Puluhan ibu anggota Dasawisma duduk lesehan di atas tikar, dikelilingi tumpukan dedaunan segar hasil petik langsung dari pekarangan. Mereka sedang mengikuti pelatihan bertajuk "From Plant to Pigment: Botanical Dye Printing berbasis Potensi Lokal", sebuah program pengabdian masyarakat yang digagas tim dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Dosen Mengabdi di Desa Asal, skema pengabdian yang dibiayai dana hibah internal FKIP Universitas Jember. Program ini sengaja dirancang agar dosen turun langsung mengabdi di kampung halamannya masing-masing.
Tim yang diketuai Sri Rejeki Dwi Astuti, M.Pd. ini beranggotakan Firdha Yusmar, S.Pd., M.Pd. dan Naomi Dias Laksita Dewi, S.Pd., M.Pd., serta didampingi tiga mahasiswa: Lusiana Novita Dewi, Putri Nirmala, dan Ilma Amelia.
"Kelompok Dasawisma sebenarnya adalah penggerak ekonomi keluarga, tapi sering kali terkendala minimnya inovasi produk berbasis sumber daya yang ada di sekitar mereka. Lewat pelatihan ini, kami ingin menunjukkan bahwa daun-daun yang biasanya dibuang justru bisa jadi bahan baku produk yang punya nilai jual," kata Sri Rejeki.
Prosesnya ternyata gak serumit yang dibayangkan. Peserta tinggal memetik dedaunan dan bunga di sekitar rumah, menatanya di atas kain, lalu memukul-mukulnya pakai palu kayu sampai pigmen alaminya menempel dan membentuk motif. Teknik yang dikenal dengan istilah pounding ini dipraktikkan di berbagai media, mulai dari kain, totebag, kaos, sampai mug.
Ketua RT setempat, Bapak Sutanto, S.Pd., yang hadir membuka acara, mengaku senang dengan adanya pelatihan ini. "Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Selama ini ibu-ibu Dasawisma aktif dalam kegiatan sosial, tapi belum punya keterampilan yang bisa menghasilkan produk bernilai jual. Semoga ilmu dari pelatihan ecoprint ini bisa terus dikembangkan dan menjadi salah satu potensi ekonomi baru bagi warga Ngambah," ujarnya.
Ibu Siwi, salah satu peserta, mengaku baru pertama kali mencoba teknik ecoprint dan langsung jatuh cinta. "Awalnya saya kira susah, ternyata setelah dicoba sendiri ternyata menyenangkan. Daun-daun yang biasanya cuma jadi sampah pekarangan, sekarang bisa jadi motif cantik di totebag dan kaos. Saya jadi punya ide buat bikin sendiri di rumah, siapa tahu bisa dijual," katanya.
Senada, Ibu Pariyem yang juga peserta pelatihan mengaku terkesan karena bisa langsung praktik dari awal sampai jadi barang jadi. "Baru kali ini saya ikut pelatihan yang langsung praktik dari awal sampai jadi barang. Seneng banget, hasilnya bisa dipakai sendiri atau jadi oleh-oleh. Terima kasih untuk dosen-dosen dan mahasiswa yang sudah mau datang dan mengajari kami," ucapnya.
Pemilihan tema botanical dye printing juga gak sembarangan. Selain mengangkat potensi lokal, teknik ini juga sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan alias SDGs, mulai dari konsumsi dan produksi bertanggung jawab (SDGs 12), penguatan ekonomi kreatif (SDGs 8), hingga edukasi berkelanjutan (SDGs 4).
Di penghujung acara, para peserta terlihat bangga memamerkan hasil karya masing-masing, mulai dari totebag bermotif daun pakis, kain dengan corak bunga bougenville, sampai kaos dan mug dengan cetakan dedaunan khas pekarangan Ngambah. Buktinya, dengan sedikit kreativitas, "sampah" pekarangan bisa disulap jadi karya yang cantik sekaligus cuan.
