Bermain untuk Memulihkan: Stimulasi Kognitif Pasien Anak di RSJ Surabaya

Mahasiswa Universitas Brawijaya Jurusan Psikologi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Sri Sulfi Afriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik setiap proses pemulihan kesehatan mental, selalu ada ruang-ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan, tetapi juga sebagai ruang belajar, bertumbuh, dan memahami manusia secara lebih mendalam. Di sanalah interaksi terjadi, pengalaman terbentuk, dan makna perlahan ditemukan tidak hanya bagi pasien, tetapi juga bagi mereka yang hadir untuk mendampingi.
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya adalah salah satu institusi kesehatan jiwa terkemuka di Jawa Timur yang tidak hanya menjadi tempat perawatan, tetapi juga wadah pembelajaran bagi para calon psikolog. Kesempatan magang di sini membuka mata saya tentang betapa kompleks dan bermakna-nya dunia kesehatan mental, khususnya ketika berhadapan langsung dengan pasien anak-anak dan remaja.
Bermain merupakan bagian integral dari masa kanak-kanak dan menjadi salah satu media penting untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, keterampilan komunikasi, perkembangan emosi, keterampilan sosial, serta perkembangan kognitif (Wahyuni & Azizah, 2020).
Selama magang, saya ditempatkan secara bergantian di tiga ruangan utama, masing-masing dengan karakter dan pengalaman belajar yang berbeda. Di setiap ruangan, saya selalu didampingi oleh psikolog profesional yang tidak hanya menjadi pembimbing, tetapi juga menjadi teladan nyata tentang bagaimana ilmu psikologi diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari.
Tiga Ruang, Tiga Pelajaran Berharga
Ruang Psikotest
Di ruangan ini, saya berkesempatan untuk mengamati secara langsung proses asesmen psikologis. Pemberian instruksi alat tes dilakukan oleh psikolog, sementara saya berperan sebagai pengamat dengan memperhatikan dan mendengarkan bagaimana instruksi disampaikan kepada klien secara jelas dan tenang. Saya juga mengamati bagaimana suasana yang nyaman diciptakan agar klien dapat mengerjakan tes secara optimal.
Pengalaman ini membantu saya memahami bahwa cara seorang psikolog berkomunikasi sangat berpengaruh terhadap kualitas data yang dihasilkan. Selama kegiatan berlangsung, saya didampingi oleh psikolog klinis yang memberikan arahan terkait teknik penyampaian instruksi serta standar pelaksanaan tes.
Ruang Rehabilitasi
Ruang Rehabilitasi adalah tempat dimana pasien menjalani berbagai kegiatan terapeutik yang bertujuan memulihkan fungsi sosial dan kemampuan sehari-hari mereka. Beragam aktivitas dirancang untuk mendukung proses pemulihan secara menyeluruh tidak hanya dari sisi gejala klinis, tetapi juga kualitas hidup pasien secara keseluruhan. Didampingi psikolog dan tim rehabilitasi yang menjelaskan tujuan terapeutik di balik setiap aktivitas yang diberikan kepada pasien
Ruang Lili (Rawat Inap Anak & Remaja)
Ruang yang paling berkesan sekaligus paling menantang. Di sini saya berinteraksi langsung dengan pasien anak-anak dan remaja yang membawa cerita, trauma, dan perjuangannya masing-masing. Setiap pagi diawali dengan jalan-jalan dan senam ini bukan hanya sekadar aktivitas fisik, melainkan sarana melatih regulasi emosi dan membangun rutinitas yang menenangkan. Ada pula Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) dan sesi Psikoedukasi untuk pasien.
"Mereka bukan sekadar pasien dengan diagnosis. Mereka adalah anak-anak yang sedang belajar bertahan dan tugas kami adalah menemani perjalanan itu dengan penuh kehadiran."
Siapa Sangka Permainan Ini Bisa Melatih Fokus dan Daya Ingat Pasien Ruang Lili
Sebagai bentuk kontribusi nyata selama magang, saya merancang sebuah program kerja di Ruang Lili yang saya harapkan dapat memberikan dampak positif bagi pasien. Program ini saya namai "Game Melatih Fokus dan Daya Ingat" sebuah permainan berbasis stimulasi kognitif sekaligus media rekreasi yang menyenangkan.
Program ini lahir dari pengamatan saya selama mendampingi psikolog di Ruang Lili: bahwa anak-anak belajar dan berkembang paling baik ketika mereka merasa bermain, bukan ketika mereka merasa sedang diterapi. Dengan pendekatan ini, saya ingin menciptakan momen dimana pasien bisa sejenak melupakan beban yang mereka rasakan, sambil secara diam-diam melatih kemampuan kognitif mereka.
Alur Pelaksanaan Program
Tahap pertama
Psikoedukasi: Mengenalkan Manfaat Permainan
Sebelum permainan dimulai, saya terlebih dahulu memberikan psikoedukasi singkat kepada pasien. Saya menjelaskan secara sederhana dan ramah bahwa otak kita, seperti otot, perlu dilatih setiap hari dan salah satu cara melatihnya adalah melalui permainan yang melibatkan fokus dan daya ingat. Materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien, agar mereka tidak hanya ikut bermain, tetapi juga memahami mengapa kegiatan ini bermanfaat bagi diri mereka.
Tahap kedua
Permainan: Stimulasi Kognitif Berbasis Tim
Setelah pasien memahami tujuan dan manfaatnya, kegiatan dilanjutkan dengan permainan mencocokkan botol secara beregu yang melibatkan kemampuan memori, konsentrasi, dan kerja sama tim.
Mekanisme Permainan
Pasien dibagi menjadi dua tim yang masing-masing memiliki peran berbeda dalam permainan.
Peserta di barisan depan bertugas mencocokkan dan meletakkan botol minuman yang sama ke atas kardus yang telah disediakan.
Peserta di barisan belakang diberikan waktu untuk mengamati dan mengingat posisi setiap botol dengan seksama.
Setelah itu susunan botol diubah atau diacak, perserta di bagian belakang tadi diminta untuk mengingat dan mengembalikan posisi botol ke susunan semula.
Tim yang berhasil mencocokkan dengan benar dan paling cepat menjadi pemenang pada game tersebut.
Manfaat yang Diharapkan bagi Pasien
Program ini dirancang dengan landasan psikologi kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa permainan berbasis kognitif mampu melatih konsentrasi serta kemampuan berpikir pasien secara efektif dalam suasana terapeutik (Hakim, 2018). Melatih memori kerja (working memory) pada anak dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif pada fungsi kognitif dan kemampuan regulasi diri mereka (Judd & Klingberg, 2021). Intervensi berbasis Cognitive Behavioral Play Therapy (CBPT) pun terbukti efektif meningkatkan memori kerja, memori jangka pendek, dan atensi pada anak-anak (Azizi et al., 2020).
- Melatih Memori Kerja
- Meningkatkan Fokus & Atensi
- Membangun Kerja Sama Tim
- Mengurangi Kecemasan
- Meningkatkan Kepercayaan Diri
Melalui kerja sama tim, pasien juga secara tidak langsung berlatih keterampilan sosial,berkomunikasi, saling mendukung, dan merayakan keberhasilan bersama. Hal-hal kecil bagi kita tapi terasa sangat besar artinya dalam perjalanan pemulihan mereka.
"Ketika melihat mereka tertawa dan bersemangat saat bermain, saya sadar: kadang, terapi terbaik adalah yang tidak terasa seperti terapi sama sekali."
Refleksi: Lebih dari Sekadar Ilmu
Pengalaman magang di RSJ Menur memberikan pembelajaran yang tidak hanya bersumber dari teori, tetapi juga dari praktik langsung di lapangan. Didampingi oleh psikolog klinis dan perawat jiwa yang berdedikasi, saya memperoleh pemahaman melalui proses observasi mengenai bagaimana instruksi disampaikan secara tenang dan jelas, bagaimana rapport dibangun dengan pasien, serta bagaimana melihat individu secara utuh, bukan hanya berdasarkan gejala yang tampak.
Pengalaman ini memperkaya pemahaman saya bahwa dalam praktik psikologi, keterampilan komunikasi dan kepekaan terhadap kondisi individu memegang peranan yang sangat penting.
Yang paling berharga adalah pelajaran tentang empati: bahwa setiap orang, sekecil apapun usianya, membawa dunia yang begitu dalam di dalam dirinya. Dan tugas seorang psikolog atau calon psikolog adalah hadir, mendengar, dan mendampingi dengan sepenuh hati.
