Mahasiswa FBD FISIP UB Ajak Orang Tua di Dusun Pijiombo Kenali Pola Asuh Sehat

Mahasiswa Universitas Brawijaya Jurusan Psikologi
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Sri Sulfi Afriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mahasiswa Universitas Brawijaya melalui program FISIP Bakti Desa (FBD) Kelompok 75 tahun 2025 mengadakan kegiatan program kerja sosialisasi parenting berjudul “Pola Asuh Sehat, Anak Tumbuh Hebat” pada 17 Juli 2025, bertempat di Sanggar Tari Lestari Budaya, Dusun Pijiombo, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang pola asuh yang sehat dan positif, serta mendorong terciptanya lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.

Pola Asuh Sesuai Tahap Usia
Pola asuh yang sesuai tahap usia adalah bentuk pengasuhan yang memperhatikan kemampuan, kebutuhan, dan karakteristik anak di setiap fase tumbuh kembangnya. Setiap tahap usia memiliki tantangan dan potensi perkembangan yang berbeda, sehingga pendekatan orang tua juga perlu disesuaikan agar anak dapat tumbuh dengan optimal baik secara fisik, emosi, sosial, maupun kognitif.
Dalam psikologi perkembangan, usia 0–7 tahun dikenal sebagai masa golden age, yaitu masa ketika otak anak berkembang sangat cepat, dan hampir semua pengalaman yang mereka alami akan membentuk kepribadian serta pola pikir jangka panjang. Maka, kesalahan pola asuh di usia ini bisa berdampak hingga dewasa, begitu pula sebaliknya pola asuh yang sehat akan menjadi pondasi kepribadian yang kuat, positif, dan tahan banting.
Usia 0–3 Tahun (Membangun Kepercayaan dan Ikatan Emosional)
Anak usia 0–3 tahun berada pada fase awal kehidupan, di mana kebutuhan utamanya bukan soal aturan atau pelajaran akademik, tapi rasa aman, kenyamanan fisik, dan kelekatan emosional. Salah satu tokoh psikologi yaitu John Bowlby menekankan pentingnya secure attachment ikatan emosional yang aman antara anak dan pengasuh utama (biasanya ibu). Ikatan ini terbentuk dari perhatian yang konsisten, pelukan hangat, dan kenyamanan fisik. Anak yang merasa aman akan lebih tenang, tidak rewel berlebihan, dan lebih mudah berkembang.
Usia 4-5 Tahun (Menumbuhkan Kemandirian dan Aturan Awal)
Anak usia 4–5 tahun mulai aktif berbicara, meniru, dan menunjukkan keinginan untuk mandiri. Ini adalah masa anak belajar tentang inisiatif, tanggung jawab kecil, dan pengenalan aturan. Tokoh psikologi Jean Piaget mengatakan bahwa anak usia dini berada di tahap pra-operasional. Anak berpikir konkret, suka bertanya, tapi belum bisa berpikir logis seperti orang dewasa. Oleh karena itu, mereka belajar lewat pengalaman langsung, bermain, dan meniru bukan dari ceramah atau ancaman.
Pola asuh sehat di usia ini melibatkan pemberian batasan yang jelas namun disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, saat anak melempar mainan, bukan hanya dilarang (“Jangan nakal!”), tetapi diajak berpikir: “Mainannya bisa rusak, yuk kita taruh di tempatnya ya.” Ajari juga pilihan: “Kamu mau pakai baju warna merah atau kuning?” Ini membuat anak merasa dihargai dan belajar mengambil keputusan.
Usia 6-7 Tahun (Mengembangkan Tanggung Jawab dan Kontrol Diri)
Pada usia ini, anak sudah mulai belajar hidup dalam struktur sosial yang lebih luas seperti di sekolah, teman sebaya, dan guru. Anak mulai belajar tanggung jawab, kerja sama, serta mengelola perasaan gagal dan bersaing. Anak usia ini idealnya dilibatkan dalam tugas-tugas kecil di rumah: menyapu, menyiapkan tas sekolah, atau membantu merapikan tempat tidur. Ini melatih rasa tanggung jawab.
Saat anak merasa marah karena kalah lomba, atau kecewa karena tidak diajak main, orang tua perlu hadir sebagai penenang dan pelatih emosi. Bukan dengan menyuruh “jangan cengeng,” tetapi dengan validasi: “Kamu kecewa ya? Itu wajar kok. Kita bisa coba lagi.” Anak yang terbiasa diajak memahami perasaannya akan memiliki kontrol diri dan empati yang lebih baik di kemudian hari.
Pengasuhan Sehat secara Fisik dan Psikologis
Dalam sosialisasi ini, orang tua juga diajak untuk melihat pengasuhan tidak hanya dari sisi emosional, tapi juga kesehatan fisik dan psikologis anak secara keseluruhan. Usia 0–7 tahun bukan cuma masa lucu-lucunya anak, tapi juga masa di mana pondasi kesehatan jangka panjang sedang dibentuk.
Pola makan yang seimbang
Tidur & istirahat yang cukup
Kebiasaan hidup bersih dan sehat
Bangun rasa aman dan ketenangan emosi
Peenerimaan emosi anak
Hindari kekerasan verbal & label negatif
3 Kunci Pola Asuh Positif
Nah, dalam sosialisasi ini juga, para orang tua juga dibekali dengan tiga kunci pola asuh sehat yang terlihat sederhana, tapi punya dampak luar biasa bagi tumbuh kembang anak di masa depan. Kunci-kunci ini tidak membutuhkan alat mahal atau metode rumit hanya kesediaan hati orang tua untuk hadir, mendengarkan, dan membimbing dengan cinta.
Cinta tanpa syarat
Cinta tanpa syarat artinya anak dicintai apapun kondisinya: saat mereka patuh maupun saat mereka membantah, saat mereka berhasil maupun saat mereka gagal. Bukan hanya saat mereka mendapat juara atau membawa prestasi, tapi juga saat mereka jatuh dan melakukan kesalahan. Anak-anak butuh tahu bahwa mereka dicintai, bukan karena nilai mereka bagus, bukan karena mereka menurut, tapi karena mereka adalah anak kita. Mereka butuh merasa aman, diterima, dan dicintai walau mereka gagal, berbuat salah, atau berbeda dari yang kita harapkan.
kenapa ini penting?
Psikolog bernama Carl Rogers mengatakan bahwa anak yang tumbuh dalam cinta tanpa syarat akan berkembang menjadi pribadi yang stabil secara emosi dan percaya pada dirinya sendiri. Maka jangan ragu untuk sering bilang, “Ibu/Bapak sayang kamu,” bahkan saat mereka bikin kesalahan. Jangan bandingkan anak dengan orang lain. Dengarkan mereka, damping mereka. Karena cinta itu pondasi utama dalam tumbuh kembang anak.
Komunikasi yang hangat dan terbuka
Komunikasi yang hangat bukan berarti harus selalu lembut. Tapi artinya, anak merasa boleh bicara apa saja, dan orang tua benar-benar mau mendengarkan.Kita kadang lupa bahwa anak juga manusia, yang ingin didengar, bukan hanya disuruh. Komunikasi yang baik bukan sekadar bicara, tapi mendengarkan.
Mengapa komunikasi itu penting? Anak-anak yang tumbuh dengan komunikasi yang hangat akan lebih terbuka, lebih percaya diri, dan tidak mudah menyembunyikan masalah.
Disiplin yang mendidik, bukan menghukum
Disiplin itu penting, karena anak butuh batasan dan aturan. Tapi cara kita memberi disiplin harus membangun, bukan merusak. Anak yang sering dimarahi atau dipukul akan belajar takut, bukan belajar bertanggung jawab.
Mengapa ini penting? Karena anak yang belajar dari konsekuensi, bukan dari ketakutan, akan tumbuh jadi pribadi yang lebih mandiri , percaya diri dan punya kontrol diri.
Psikolog Diana Baumrind meneliti pola asuh dan menemukan bahwa gaya “authoritative” yaitu tegas tapi penuh kasih menghasilkan anak-anak yang paling seimbang secara emosi dan perilaku. Jadi kalau anak melakukan kesalahan, jangan langsung marah atau membentak. Ajak diskusi beri konsekuensi yang masuk akal, bukan sekadar hukuman. Misalnya, Kalau anak tidak merapikan mainan, kita tidak perlu membentak, cukup bilang, “Kalau kamu tidak merapikan, mainannya Ibu simpan dulu, ya.”
Sesi tanya jawab yang seru
Sesi tanya jawab berlangsung hidup. Beberapa orang tua menyampaikan keresahan yang nyata dan dekat dengan keseharian.
Seorang ibu bertanya, “Gimana caranya sabar kalau anak rewel terus dan nggak nurut?” Pemateri menjelaskan kesabaran itu bukan bawaan lahir, tapi sesuatu yang bisa dilatih. Saat anak tantrum, orang tua justru perlu lebih tenang agar anak bisa belajar menenangkan diri dari contoh yang ditunjukkan.
Ada juga yang bertanya soal perbedaan pola asuh di rumah, “Saya sudah ajarkan disiplin, tapi neneknya malah bilang ‘biarin aja, anak kecil ini.’ Saya harus gimana?” Jawaban yang muncul adalah pentingnya komunikasi dengan keluarga besar. Ajak nenek berdiskusi dengan lembut, bukan dengan menyalahkan, misalnya dengan menonton video parenting bareng atau ngobrol santai bahwa anak jadi bingung kalau aturan berbeda-beda di rumah.
Satu lagi pertanyaan yang bikin semua tersenyum:“Anak saya susah banget lepas dari HP, tapi saya sadar saya sendiri juga suka pegang HP di rumah. Jadi harus mulai dari mana?” Pemateri menegaskan bahwa anak belajar dari contoh, bukan dari larangan. Maka perubahan harus dimulai dari orang tua sendiri. Jadwalkan waktu tanpa gadget, dan isi waktu itu dengan kegiatan bareng anak membaca, ngobrol, atau main.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia juga membagikan doorprize sederhana untuk warga yang aktif bertanya, yang menambah semangat suasana.
Output Program : Poster yang berisi materi yang dipaparkan saat kegiatan
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi parenting berjudul “Pola Asuh Sehat, Anak Tumbuh Hebat”, FBD UB Kelompok 75 juga membuat sebuah poster edukatif berisi rangkuman materi yang telah dipaparkan.
Poster ini secara simbolis diserahkan kepada Ibu Bidan Desa Pijiombo sebagai media edukasi berkelanjutan, dan ditempatkan di ruang pelayanan agar dapat dibaca oleh para orang tua saat berobat atau menghadiri kegiatan posyandu.
Diharapkan, poster ini bisa menjadi media pengingat dan penyemangat bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh yang lebih sehat dan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Harapan setelah kegiatan
Melalui kegiatan ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya peran pola asuh dalam membentuk masa depan anak, baik dari segi fisik, emosi, maupun karakter.
Semoga ilmu yang dibagikan tidak hanya menjadi pengetahuan sesaat, tetapi bisa diterapkan dalam keseharian, didiskusikan bersama keluarga, dan menjadi awal dari lingkungan rumah yang lebih hangat, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.
Karena pada akhirnya, anak-anak adalah investasi masa depan, dan pola asuh hari ini akan menentukan siapa mereka nanti. Mari tumbuh bersama, bukan hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai pendamping kehidupan anak-anak kita.
