Konten dari Pengguna

Inflasi Terkendali, Tapi Mengapa Harga Kebutuhan Masih Terasa Mahal?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Yagis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau kita mendengar bahwa inflasi Indonesia masih terkendali, mungkin yang terlintas adalah kondisi harga barang yang juga seharusnya mulai terasa lebih ringan. Namun, kenyataannya tidak selalu seperti itu. Pergi ke pasar, minimarket, atau sekadar membeli kebutuhan sehari-hari, masih sering muncul perasaan yang sama: “Kok sekarang belanja sedikit saja sudah mahal?”

Sumber: Pexels, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels, 2026.

Pertanyaan tersebut cukup masuk akal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan. Angka ini masih berada dalam sasaran inflasi yang ditetapkan, sehingga secara makro kondisi inflasi dapat dikatakan masih terkendali.

Lalu, kalau inflasi terkendali, mengapa masyarakat masih merasa harga kebutuhan mahal?

Salah satu alasannya adalah karena inflasi yang terkendali bukan berarti harga barang kembali seperti sebelumnya. Inflasi pada dasarnya menunjukkan kenaikan tingkat harga. Ketika inflasi turun atau berada pada tingkat yang terkendali, bukan berarti harga-harga otomatis turun. Barang yang sebelumnya sudah mengalami kenaikan harga tetap berada pada tingkat harga yang baru, kecuali memang terjadi penurunan harga atau deflasi.

Contohnya sederhana. Jika harga suatu barang sebelumnya Rp10.000 kemudian naik menjadi Rp12.000, lalu kenaikan harga berikutnya hanya sedikit, bukan berarti harga barang tersebut kembali ke Rp10.000. Bagi konsumen, yang terasa tetap adalah Rp12.000 tersebut. Jadi, angka inflasi yang rendah tidak selalu sama dengan harga yang murah.

Hal ini semakin terasa pada kebutuhan yang dibeli hampir setiap hari, terutama makanan. Bank Indonesia mencatat bahwa pada Agustus 2026, kelompok volatile food atau pangan bergejolak mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan dan 4,06 persen secara tahunan. Komoditas yang ikut menyumbang kenaikan tersebut antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Artinya, meskipun inflasi secara umum masih terkendali, ada kelompok barang tertentu yang kenaikannya lebih terasa bagi masyarakat. Bagi rumah tangga, kenaikan harga beras, telur, cabai, minyak, atau kebutuhan makan lainnya tentu lebih cepat terasa dibandingkan perubahan harga barang yang jarang dibeli.

Bahkan, data BPS menunjukkan bahwa pada Agustus 2026 harga beras premium di tingkat penggilingan mencapai rata-rata Rp15.062 per kilogram, naik 1,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Beras medium juga berada di sekitar Rp13.897 per kilogram dan naik 1,48 persen secara bulanan.

Sumber: Pexels, 2026.

Di sinilah perbedaan antara angka statistik dan pengalaman sehari-hari masyarakat menjadi menarik. Pemerintah dan Bank Indonesia melihat inflasi melalui berbagai kelompok barang dan jasa yang kemudian dihitung menjadi satu angka. Sementara itu, masyarakat merasakan inflasi dari isi dompetnya sendiri. Ketika sebagian besar pengeluaran digunakan untuk makanan dan kebutuhan pokok, kenaikan beberapa komoditas saja sudah cukup membuat pengeluaran bulanan terasa lebih berat.

Selain itu, harga di tingkat konsumen juga tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Ada biaya produksi, distribusi, transportasi, kondisi cuaca, harga bahan baku, hingga kondisi pasar. BPS mencatat perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) nasional pada Agustus 2026 mencapai 6,18 persen secara tahunan. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain elpiji nonsubsidi, solar industri, beras biasa, minyak pelumas, dan laptop.

Karena itu, pembahasan mengenai inflasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah angkanya tinggi atau rendah. Kita juga perlu melihat barang apa yang mengalami kenaikan, seberapa sering barang tersebut dibeli, dan seberapa besar porsinya dalam pengeluaran masyarakat.

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau mereka yang penghasilannya tidak banyak berubah, kenaikan harga kebutuhan pokok bisa terasa jauh lebih berat. Ketika pendapatan tetap tetapi pengeluaran untuk makan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga meningkat, ruang untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lainnya otomatis semakin sempit.

Menurut saya, inilah alasan mengapa istilah “inflasi terkendali” terkadang terdengar berbeda dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat. Dari sisi ekonomi makro, inflasi memang dapat berada dalam kondisi yang terkendali. Namun dari sisi rumah tangga, persoalannya bukan hanya seberapa cepat harga naik, melainkan berapa mahal harga yang harus dibayar hari ini dibandingkan sebelumnya.

Maka, menjaga inflasi tetap terkendali memang penting, tetapi belum cukup. Pengendalian harga kebutuhan pangan dan menjaga kelancaran distribusi juga perlu mendapat perhatian karena barang-barang tersebut bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pengendalian inflasi bukan hanya terlihat dari angka yang muncul dalam laporan statistik. Masyarakat juga perlu merasakan bahwa pendapatan mereka masih mampu mengejar biaya hidup. Sebab bagi masyarakat, inflasi bukan sekadar angka 3,19 persen di atas kertas. Inflasi terasa ketika uang yang biasanya cukup untuk memenuhi satu keranjang belanja, sekarang hanya cukup untuk mengisi setengahnya.Kalau untuk Kumparan, menurutku tulisan ini akan lebih kuat kalau dibuat dengan gaya seperti opini mahasiswa yang kritis tetapi tetap santai, bukan terlalu akademis. Data tetap ada, tapi fokusnya pada pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.