Empat Jebakan Bagi Pemimpin Saat Melewati Krisis

Blogger di www.pinuji.net untuk tulisan mengenai kepemimpinan, kiat-kiat, dan personal development | E: [email protected] | T: @sdpinuji
Konten dari Pengguna
5 April 2020 10:26
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Sridewanto Pinuji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Krisis karena pendemi COVID-19 mengikuti garis waktu, seperti berbagai krisis lainnya. Kondisi tersebut seperti saat suatu peristiwa bencana terjadi. Garis waktu yang dimaksud adalah pra, saat, hingga pasca terjadinya krisis.
ADVERTISEMENT
Kita sudah mengalami pra atau sebelum terjadinya krisis, saat ini berada dalam krisis atau saat krisis terjadi, dan belum mengetahui apa yang akan terjadi nanti setelah atau pasca krisis terjadi.
Bagi dunia usaha dan institusi lainnya, rangkaian peristiwa sebelum, saat, dan setelah terjadinya krisis akan menentukan ketangguhan, kegagalan, dan keberhasilan mereka melalui ini semua.
Salah satu komponen yang sangat menentukan adalah bagaimana aksi dari para pemimpin dan tim di belakangnya di tengah berbagai situasi ini. Tindakan yang mereka ambil akan menentukan nasib dari usaha yang mereka miliki.
Krisis karena pandemi memiliki kompleksitas dan perubahan yang cepat. Situasi ini kemudian perlu direspon oleh para pemimpin dengan melakukan perubahan yang cepat pula, melakukan pilihan-pilihan segera, dan mengalokasikan sumber daya. Semua itu, perlu dilakukan secara cepat, melalui pengambilan keputusan dan aksi yang cepat pula.
ADVERTISEMENT
Memimpin juga termasuk memandu anggota untuk menghasilkan kebijakan terbaik seiring garis waktu krisis. Fokus yang perlu dilakukan adalah memahami apa yang akan terjadi kemudian dan bersiap-siap untuk memenuhi kebutuhan saat itu.
Artinya, pemimpin melihat jauh ke depan, melewati tiga, empat, atau lima tantangan.
Dari pengamatan oleh Harvard Bussines Review kepada para pemimpin yang telah melalui berbagai situasi sulit, maka dapat dipetik pelajaran bahwa sebuah krisis seringkali terlalu dipimpin (over-lead) atau justru kurang dipimpin (under-lead).
Pada situasi krisis tersebut, pemimpin diharapkan mampu menahkodai kapal yang dipimpinnya dengan baik, menyelamatkan kehidupan, memberi semangat pada organisasi, dan memberikan inspirasi kepada masyarakat.
Namun, yang terjadi justru banyak pemimpin jatuh dalam jebakan-jebakan berikut:
ADVERTISEMENT
1. Memiliki pandangan yang sempit
Sebagai bagian dari perlindungan diri, maka otak manusia didesain untuk fokus pada ancaman-ancaman yang terlihat. Kondisi ini menyebabkan kecenderungan untuk menyempitkan sudut pandang dan hanya berfokus pada ancaman yang akan segera terjadi.
Pemimpin di sisi lain diharapkan untuk mengambil jarak. Dengan begitu, dia bisa berada di tengah untuk melihat berbagai hal baik yang berada di depannya, di sekitarnya, hingga yang ada di belakangnya.
Umumnya, proses ini sering dinamakan meta-leadership, ketika seorang pemimpin menggunakan sudut pandang yang luas dan lengkap serta menyeluruh. Dia melihat bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang.
Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membuat peta hubungan. Dalam peta ini menyajikan berbagai hal terkait dan situasi yang mungkin terjadi, yang disebabkan oleh dan berhubungan dengan krisis.
ADVERTISEMENT
Beberapa hal itu di antaranya mengenai kebijakan, peraturan, hukum, kelanjutan bisnis, politik, ekonomi, sosial, hingga kesehatan. Isu lain yang terkait seperti komunitas terdampak, dampak terhadap lingkungan, koordinasi dengan berbagai institusi, dan masih banyak lagi.
2. Terlalu Asyik Mengelola
Meskipun memimpin saat krisis bisa jadi begitu menantang dan memicu adrenalin. Namun, jebakan yang terjadi adalah seringkali seorang pemimpin kembali ke zona nyamannya yang lebih fokus untuk memimpin saat ini.
Padahal saat krisis, diperlukan pandangan jauh ke depan. Pemimpin dalam situasi krisis perlu mengantisipasi apa tantangan yang akan terjadi minggu depan, bulan depan, hingga tahun-tahun mendatang. Semua ini diperlukan untuk menyiapkan organisasi akan perubahan yang akan terjadi di masa datang.
ADVERTISEMENT
Pemimpin saat krisis juga harus mampu mendelegasikan tugas dan mempercayai anggota saat mereka membut keputusan yang sulit, memberikan dukungan yang cukup, dan arahan berdasarkan pengalaman tanpa tergoda untuk mengambil alih.
Krisis dapat terjadi setiap saat, organisasi di industri yang berisiko tinggi, seperti energi dan penerbangan, memiliki fungsi yang mumpuni dalam diri mereka khususnya untuk bidang kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan. Semua itu diperlukan untuk membantu pengelolaan saat krisis terjadi.
Kepercayaan yang tinggi para pemimpin kepada anggotanya terutama pada bidang-bidang yang sudah disebutkan terdahulu akan membuat mereka fokus pada upaya untuk keluar dari krisis. Bahkan, para pemimpin tersebut dapat merencanakan jalan keluar, sehingga lebih tangguh dari kondisi sebelum terjadinya krisis.
ADVERTISEMENT
Namun, tanpa kepercayaan itu, maka mereka terjebak untuk mengelola hal yang remeh temeh dalam aksi yang dilakukan, mengganggu irama pekerjaan manajer yang melakukan respon, melemahkan keinginan mereka sendiri untuk menghasilkan berbagai hal yang positif.
3. Melakukan Respon yang Terlalu Terpusat
Risiko dan ketidakpastian semakin meningkat saat krisis karena berbagai gejolak dan ketidakpastian. Bagi seorang pemimpin, jebakan yang mungkin terjadi adalah mencoba untuk mengontrol berbagai hal.
Kemudian, karena aksi tersebut, maka pemimpin tersebut membuat lapisan baru untuk keputusan-keputusan yang kecil. Akibatnya, organisasi menjadi kurang responsif dan muncul frustasi pada setiap tantangan.
Manakala kondisi itu terjadi, maka perlu diputuskan keteraturan ketimbang melakukan kontrol. Keteraturan berarti anggota mengetahui apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang bisa diharapkan mereka dari orang lain.
ADVERTISEMENT
Langkah ini, hanya bisa dilakukan jika pemimpin dengan rendah hati mampu mengakui bahwa dia tidak bisa mengontrol berbagai hal. Selanjutnya, pemimpin perlu menetukan apa saja keputusan-keputusan yang perlu diambilnya dan kemudian mendelegasikan lainnya.
Guna melakukan hal tersebut, maka perlu menyampaikan dengan jelas mengenai petunjuk, nilai-nilai, dan prinsip, serta melupakan keinginan untuk melakukan berbagai hal sendiri.
Ilustrasi berikut ini mungkin dapat membantu Anda.
Saat terjadi krisis, maka pemimpin akan datang ke pusat operasi dan menanyakan apa yang bisa dibantu olehnya. Dia menghindari menyuruh orang untuk melakukan berbagai hal.
Sebaliknya, dia tahu persis, apa yang dilakukan oleh setiap orang dan kapasitas masing-masing anggota. Dia pun menyadari apa kapasitas terbesar yang dimilikinya, misalnya sebagai seorang komunikator untuk menenangkan masyarakat, memperoleh bantuan, menghubungkan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dan lainnya.
ADVERTISEMENT
4. Melupakan Sisi Kemanusiaan
Krisis adalah krisis, karena dampaknya pada manusia.
Sementara itu, fokus pemimpin dapat terjebak pada ukuran-ukuran harian seperti , pertumbuhan ekonomi, pasar saham, nilai tukar uang, dan biaya yang mungkin timbul.
Beberapa hal tersebut memang penting, tetapi itu adalah hasil dari koordinasi upaya-upaya manusia yang beragam. Organisasi ada untuk memenuhi secara bersama-sama hal-hal yang tidak mampu kita lakukan sendiri.
Jalan keluar yang bisa dilakukan adalah menyatukan orang-orang ke dalam upaya, tujuan, dan nilai-nilai yang dianut sebagai satu kesatuan tim yang kompak. Upaya itu dapat dilakukan dengan pemahaman yang seragam dan misi yang disampaikan dengan jelas, sehingga mempengaruhi keberhasilan pekerjaan yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
ADVERTISEMENT
Misi ini diwujudkan dalam pendekatan inklusif yang melibatkan banyak pihak dan setiap orang memahami bagaimana dia dapat berkontribusi, serta yang paling penting setiap kontribusi, bahkan yang paling sepele pun diakui.
Sedikit ilustrasi mengenai hal ini adalah ketika krisis terjadi dan seorang pemimpin berfokus pada bisnisnya di satu sisi dan berfokus pada manusia di sisi lainnya. Menurut teori ini, pemimpin yang berfokus pada manusia dengan datang secara pribadi ke pemakaman, melanjutkan gaji dan bonus, serta upaya lain kepada manusia-manusia yang dipimpinnya akan lebih berhasil.
Pemimpin yang berfokus pada manusia percaya, bahwa pada gilirannya isu-isu bisnis akan normal kembali dengan sendirinya saat manusia-manusia yang terlibat sudah kembali seperti sedia kala.
ADVERTISEMENT
Penutup
Kegiatan memimpin dan mengelola (manajer) ibarat dua lingkaran pada sebuah diagram Venn. Saat krisis terjadi, keduanya dapat saling tumpang tindih. Namun, seiring berjalannya waktu, keduanya pun akan terpisah.
Kendati demikian, memimpin dan mengelola tak benar-benar berpisah, sebab saat ini dan masa datang pun saling terkait.
Pemimpin yang paling efektif saat krisis mampu atau memiliki seseorang yang dapat melakukan tindakan pengelolaan (manajerial activities).
Sementara pada saat yang sama, dirinya sendiri berfokus pada upaya mencari jalan keluar dan sekaligus memimpin kita semua keluar dari krisis dan menyambut masa depan yang lebih menjanjikan.
Sumber tulisan: Harvard Bussines Review dengan perubahan.
Jika Anda tertarik isu lain mengenai Kepemimpinan dan Krisis, maka bisa dibaca juga di Blog saya: pinuji.net.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020