Belajar sembari Berpetualang di Jepang, selalu Menyenangkan

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda, Bidang Mikrobiologi dan Biologi Molekular, Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). ASNation.
Konten dari Pengguna
1 Juni 2022 12:18
·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sri Surati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengunjungi Jepang merupakan salah satu impian saya sejak menginjak bangku perkuliahan. Tak disangka, tak hanya berkunjung, saya berkesempatan dua kali menimba ilmu di negeri Sakura ini. Kesempatan pertama yakni ketika saya harus mengikuti pelatihan di salah satu Universitas Negeri di Tokyo dan salah satu institusi pemerintah, Yokohama Quarantine Station, yang disponsori oleh Badan Kerjasama Internasional Jepang atau yang biasa dikenal dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) yang bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pada kesempatan tesebut, hampir setiap hari sepulang pelatihan, saya bersama rekan sejawat menyempatkan mengunjungi tempat-tempat populer di sekitaran Tokyo dan Yokohama. Pulang larut malam akhirnya menjadi kebiasaan baru kami dan kami menikmatinya. Jika diingat kembali, mungkin hampir semuatempat ternama di Tokyo sudah kami sambangi. Puas sekali rasanya ketika seluruh perencanaan jalan-jalan kami terlaksana dengan efektif dan efisien.
Kali kedua saya menginjakkan kaki di Jepang yaitu ketika saya memperoleh beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) untuk melanjutkan studi di salah satu Universitas ternama di Osaka. Tentu saja saya tidak menyianyiakan kesempatan berharga tersebut. Disela-sela kesibukan, berpetualang di Jepang bersama anak-anak pun saya jalani.
Hidup bertiga di Jepang dengan dua anak yang masih duduk di bangku kelas lima SD dan satunya lagi masih berumur 5 tahun, sembari saya melanjutkan studi ternyata tidak semerepotkan yang dibayangkan asalkan mampu mengatur strategi dengan baik.
Sejak awal mereka memutuskan untuk menetap bersama saya di Jepang, saya telah gambarkan segala sisi positif dan negatif yang harus mereka hadapi. Walaupun usia mereka terbilang muda, saya mengajak mereka untuk membangun komitmen agar dapat melalui kehidupan kami di Jepang dengan mulus.
Mereka mengiyakan dan petualangan pun dimulai. Banyak sekali hal berkesan yang kami lalui namun menempuh perjalanan jauh bersama kedua bocah ini dengan menggunakan tiket murah yang dapat dibeli pada musim-musim tertentu adalah yang paling menantang.
Kesibukan kuliah membuat saya hanya memiliki waktu sedikit untuk membuat perencanaan perjalanan yang matang. Menyusun beberapa rencana cadangan, itulah yang saya lakukan jika harus menyusun rencana perjalanan jauh dengan sistem kebut semalam. Jangan lupa sebelum menyusun rencana tersebut, lakukan studi kecil-kecilan mengenai biaya perjalanan, penginapan dan rute perjalanan yang paling efektif jika ingin mengunjungi beberapa temoat wisata sekaligus.
Karena biaya hidup di Jepang itu mahal, apalagi kami bertiga, melakukan perjalanan sehemat mungkin menjadi favorit kami. Hal ini saya sampaikan kepada anak-anak agar mental mereka pun siap dengan tantangan yang mungkin menghadang dalam perjalanan kami.
Untuk jenis transportasi pun saya menerapkan sistem demokrasi agar mereka dapat memilih angkutan paling ekonomis mana yang mereka inginkan. Bus, kereta atau pesawat kah? Tentu kereta cepat (shinkansen) tidak ada dalam daftar transportasi ekonomis tersebut.
Karena perencanaaan yang mepet, pilihan pesawat terbang pun kami eliminasi. Jika direncanakan jauh-jauh hari, perjalanan dengan pesawat terbang akan lebih nikmat. Selain harganya bersahabat, menghemat waktu juga menjadi kelebihannya. Pilihan pun akhirnya jatuh kepada kereta karena anak saya yang kecil memang mencintai kereta.
Bermodalkan satu koper berukuran sedang, niat yang kuat dan tentu saja nekad, kami harus menempuh perjalanan pertama kami sejauh kurang lebih 520 km selama 13 jam dan 9 kali berganti kereta. Ini pertama kalinya kami bertiga merasa muak untuk duduk karena lamanya perjalanan. Berkebalikan dengan kondisi pada umumnya, berdiri di kereta terasa lebih menyenangkan saat itu. Namun, lelah dan lamanya perjalanan terbayarkan dengan pemandangan2 pedesaan, kota kecil sekaligus kota besar yang mampu memanjakan mata sepanjang perjalanan. Tak hentinya saya bersyukur sembari mentafakuri alam.
Setibanya di tempat tujuan, kami berusaha mencari lokasi penginapan murah yang telah kami pesan beberapa hari sebelumnya melalui aplikasi airBnB. Mencari penginapan murah di kota besar di Jepang bukan perkara mudah namun bukan hal yang tidak mungkin. Bermodalkan kesabaran dan ketekunan, saya berhasil mendapatkan penginapan dengan harga sangat bersahabat. Seperti ibu-ibu pada umumnya, puas rasanya untuk pencapaian saya ini.
Hujan deras mengguyur kota tersebut pada malam kedatangan kami. Dinginnya winter, berangin, hujan deras, perut kosong karena belum sempat makan malam hampir merusak mood saya. Alih-alih sedih, kedua anak saya terlihat bahagia sekali karena mereka sudah lama tidak hujan-hujanan, begitu celoteh si kecil. Saya biarkan saja mereka menikmati hujan dan saya amini mereka akan sehat2 saja. Tawa mereka seperti energi baru untuk saya.
Saya mengucap syukur kesekian kalinya karena anak-anak saya mudah untuk diajak bekerja sama. Karena malam sudah sangat larut, mereka tetap mau memakan bekal yang saya bawa dari rumah untuk makan malam kami. Sepanjang perjalanan pun, mereka terlihat puas walau hanya menyantap beberapa onigiri tuna mayonese yang saya beli sebelumnya.
Pada akhirnya, kami pun berhasil mengunjungi semua tempat dalam daftar rencana perjalanan kami. Beberapa tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya ketika pelatihan juga sempat kami kunjungi kembali. Karena beberapa tempat tersebut merupakan motivasi anak-anak saya untuk menetap di Jepang.
Rencana sempat sedikit berubah ketika seharian hujan deras dan akhirnya kami terpaksa membatalkan perjalanan hari itu. Namun disayangkan, karena mendadak kami pun tidak berhasil memperpanjang penginapan kami karena seseorang telah memesannya pada keesokan harinya. Akhirnya kami titipkan koper di salah satu stasiun besar dan tetap melanjutkan perjalanan sesuai daftar yang kami buat.
Rencana sebelumnya kami akan langsung pulang pada malam harinya menggunakan bus malam. Namun, kereta memang selalu menarik untuk kedua anak saya. Walaupun melelahkan, saya terkejut mereka memilih perjalanan kembali ke Osaka menggunakan kereta lokal seperti keberangkatan kami walaupun waktu yang dibutuhkan lebih lama dibandingkan bus malam.
Karena saya menjunjung tinggi demokrasi dan mempertimbangkan kenyamanan anak-anak, saya putuskan untuk menginap satu malam lagi. Saat itu waktu menunjukkan pukul 22.00 JST dan kami masih berada di stasiun yang sangat besar dan belum menemukan tempat tinggal. Mencari tempat menginap murah dengan waktu singkat tidaklah mudah. Lelah rasanya, namun ketika saya melihat kedua anak saya yang justru asik berlarian seolah mereka tidak baru saja melakukan perjalanan ke beberapa tempat, lagi-lagi mood saya kembali. Ketekunan ini berbuah manis, saya berhasil menemukan hotel bintang tiga yang jika biaya menginapnya digabung dengan biaya kepulangan dengan kereta esok hari masih lebih murah daripada memaksakan naik bus malam itu.
Walau harus menginap semalam lagi, petualangan kami selama seminggu mampu menghemat biaya sebesar 80% dibandingkan jika melakukan perjalanan dengan kereta cepat, pesawat atau bus dengan selalu menginap di hotel. Selama seminggu tersebut, hampir setiap hari selalu sampai di penginapan di atas pukul 10 malam. Sudah tidak terhitung berapa kali kami tersesat di stasiun besar hanya untuk mencari pintu keluar, pindah jalur kereta, atau mencari lokasi penitipan koper kami.
Aplikasi maps terkadang terlihat membingungkan di stasiun besar seperti ini karena kemampuan tiga dimensi saya yang lemah. Yang terparah adalah ketika kami berencana untuk makan malam di salah satu restoran Indonesia yang masih berada dalam kompleks stasiun tersebut dan hanya berjarak 3 menit, akan tetapi kami baru berhasil menemukannya 30 menit kemudian dan saat kami tiba mereka sudah tidak menerima pelanggan karena sudah melebihi waktu last order bahkan untuk take away sekalipun.
Perut keroncongan dan kekecewaan yang terlihat di kedua bola mata anak-anak saya tidak dapat disembunyikan. Akhirnya kami mendapatkan makan malam yang terbaik di salah satu restoran Italia yang terbilang muslim friendly namun ternyata tiga kali lipat lebih murah dari restoran Indonesia yang ingin kami tuju sebelumnya.
Sungguh perjalanan yang sangat menantang namun penuh dengan kenangan manis. Sepertinya tidak ada kata jera dalam kamus anak-anak. Kami bahagia dengan cara kami dan ingin mencobanya lagi suatu hari nanti.
Belajar sembari Berpetualang di Jepang, selalu Menyenangkan (672)
zoom-in-whitePerbesar