Jangan Buka Usaha Sebelum Hitung Ini Dulu

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari sriwulan020204 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pola yang sering terulang di sekitar kita. Seseorang melihat kedai kopi dekat kampus selalu penuh, lalu yakin usaha serupa pasti laku. Modal dikumpulkan, tempat disewa, mesin dibeli. Tiga atau empat bulan kemudian, uangnya menipis dan pemiliknya bingung kenapa pengunjung tidak seramai yang dibayangkan.
Masalahnya jarang ada di idenya. Biasanya ada di langkah yang dilewati sebelum usaha dimulai: menghitung dulu apakah usaha itu memang layak dijalankan. Langkah ini namanya studi kelayakan bisnis.
Sebenarnya apa itu studi kelayakan bisnis?
Singkatnya, ini kajian untuk menjawab satu pertanyaan: rencana usaha ini masuk akal atau tidak? Jawabannya tidak berupa "bagus" atau "jelek" saja. Kajian ini menunjukkan seberapa besar peluangnya, apa saja risikonya, berapa modal yang dibutuhkan, dan kira-kira kapan modal itu kembali.
Cara gampang membayangkannya adalah seperti mencoba rute perjalanan di peta sebelum berangkat. Kalau di peta saja sudah ketahuan jalannya buntu, lebih baik putar arah dari awal.
Dan ini bukan urusan perusahaan besar saja. Pemilik warung, penjual online, mahasiswa yang menyusun proposal usaha, sampai orang yang mau mengajukan kredit ke bank sama-sama butuh. Bank dan investor biasanya memang meminta kajian seperti ini sebelum mencairkan dana.
Apa saja yang dinilai
Sebuah usaha tidak cukup dinilai dari satu sisi. Pasarnya besar pun bisa gagal kalau hitungan uangnya meleset. Biasanya ada enam sisi yang dilihat.
Pasar. Siapa yang akan membeli, berapa banyak jumlahnya, dan seberapa kuat daya beli mereka? Siapa pesaing yang sudah ada, dan apa yang membuat produk kita berbeda? Kesalahan yang paling sering muncul di sini adalah menganggap semua orang calon pembeli. Semakin spesifik target pasarnya, semakin gampang menyusun cara berjualan.
Teknis dan operasional. Ini soal urusan dapur sehari-hari: lokasi, peralatan, sumber bahan baku, dan kapasitas produksi. Tempat sewa yang murah belum tentu menguntungkan kalau letaknya jauh dari pembeli atau pemasok.
Manajemen dan tenaga kerja. Siapa yang menjalankan, berapa orang yang dibutuhkan, dan apakah mereka mampu? Di usaha kecil, semuanya sering bertumpu pada satu orang. Kalau orang itu sakit, siapa yang menggantikan?
Hukum dan perizinan. Mulai dari bentuk usaha, NIB, sampai izin edar untuk produk makanan. Mengurusnya memang melelahkan di awal, tapi jauh lebih melelahkan kalau baru diurus setelah usaha berjalan dan tiba-tiba ditegur.
Keuangan. Bagian inilah yang paling sering menentukan. Berapa modal awal, berapa biaya bulanan, berapa perkiraan pemasukan, dan kapan balik modal. Cara menghitungnya dibahas di bawah.
Lingkungan dan sosial. Penting terutama untuk usaha yang menimbulkan limbah, bau, atau kebisingan. Usaha yang tidak diterima warga sekitar akan sulit bertahan lama, seberapa pun lakunya.
Alat hitung yang biasa dipakai
Untuk sisi keuangan, ada empat istilah yang sering muncul.
Payback period adalah lama waktu yang dibutuhkan sampai modal awal kembali. Makin cepat biasanya makin aman.
Break even point atau titik impas adalah titik ketika pemasukan sama dengan seluruh biaya. Belum untung, tapi juga tidak rugi. Dari sini kita tahu target penjualan minimal supaya usaha tidak tekor.
Net present value (NPV) berangkat dari ide bahwa uang hari ini lebih berharga daripada uang di masa depan. Seluruh arus kas yang diperkirakan akan masuk nanti dihitung ulang ke nilai sekarang. Kalau hasilnya positif, usaha dianggap layak.
Internal rate of return (IRR) adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan sebuah investasi. Kalau angkanya lebih tinggi dari bunga pinjaman atau target keuntungan yang kita pasang, usaha itu menarik.
Untuk usaha kecil, dua yang pertama sudah sangat membantu. NPV dan IRR lebih sering dipakai untuk investasi yang nilainya besar atau jangka panjang.
Contoh hitungan sederhana
Anggap seseorang ingin membuka kedai kopi kecil dengan modal awal Rp100 juta. Angka di bawah ini hanya ilustrasi.
Biaya tetap per bulan, yaitu sewa, gaji, dan listrik, totalnya sekitar Rp15 juta. Keuntungan kotor dari setiap cangkir kopi sekitar Rp12 ribu. Maka titik impasnya adalah Rp15 juta dibagi Rp12 ribu, yaitu 1.250 cangkir sebulan atau sekitar 42 cangkir per hari.
Sekarang pemiliknya bisa bertanya dengan lebih jernih: apakah di lokasi itu realistis menjual 42 cangkir sehari? Kalau hasil pengamatan langsung menunjukkan paling banter 25 cangkir, ada yang harus diubah, entah lokasinya, harganya, atau skala usahanya.
Bagaimana kalau ternyata bisa menjual 60 cangkir sehari? Berarti sekitar 1.800 cangkir sebulan. Keuntungan kotornya Rp21,6 juta, dikurangi biaya tetap Rp15 juta, sisa Rp6,6 juta per bulan. Dengan sisa segitu, modal Rp100 juta baru kembali dalam kurang lebih 15 bulan. Angka seperti ini membantu kita memutuskan apakah sanggup menunggu selama itu.
Kesalahan yang sering terjadi
Yang paling umum adalah terlalu optimis soal penjualan. Hampir semua orang membayangkan usahanya langsung ramai, padahal dikenal orang butuh waktu.
Berikutnya, biaya-biaya kecil sering terlupa: kemasan, ongkos kirim, servis alat, biaya promosi. Satu per satu kelihatan sepele, tapi kalau dijumlahkan bisa menggerus untung cukup dalam.
Lalu soal dana cadangan. Jarang ada usaha yang langsung untung di bulan pertama. Siapkan uang untuk bertahan beberapa bulan tanpa mengandalkan pemasukan dari usaha itu sendiri.
Terakhir, kajian yang dibuat sekadar untuk memenuhi syarat pinjaman, lalu angkanya diatur supaya kelihatan bagus. Kalau begitu, kajiannya tidak berguna karena yang dibohongi adalah diri sendiri.
Terakhir
Studi kelayakan tidak menjamin usaha pasti sukses. Yang ia berikan adalah dasar untuk memutuskan dengan angka, bukan hanya dengan perasaan. Kalau hasilnya layak, kita melangkah dengan lebih mantap. Kalau belum, rencana masih bisa diperbaiki selagi modal belum keluar.
Jadi, sebelum menyewa tempat atau membeli peralatan, sempatkan waktu untuk menghitung. Capek menghitung di awal hampir selalu lebih murah daripada rugi karena salah langkah.
