Konten dari Pengguna

Susah Fokus dan Gampang Bosan: Saat 'Attention Span' Siswa Makin menipis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti maelani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda melihat anak SMP atau SMA yang baru membuka buku pelajaran selama lima menit, tetapi jempolnya sudah refleks meraih ponsel untuk membuka TikTok atau Instagram Reels? Fenomena ini bukan lagi sekadar kebiasaan malas, melainkan alarm serius bagi dunia pendidikan kita.

Siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Foto: Dok. Pribadi

Siswa sekolah menengah masa kini tumbuh di tengah gempuran konten berdurasi belasan detik yang menyajikan stimulasi visual cepat dan paparan dopamin instan. Dampaknya, ketika mereka dihadapkan pada aktivitas belajar di kelas yang membutuhkan konsentrasi sustained (seperti membaca teks panjang atau mendengarkan penjelasan guru) otak mereka dengan cepat merasa bosan dan kelelahan.

Dalam sudut pandang psikologi pendidikan, kemampuan untuk mempertahankan fokus pada satu tugas dalam jangka waktu tertentu dikenal sebagai sustained attention. Proses kognitif ini sangat penting bagi remaja usia sekolah menengah karena pada fase inilah kemampuan berpikir abstrak, analisis kritis, dan pemecahan masalah kompleks sedang berkembang pesat.

Sayangnya, paparan media sosial berdurasi pendek secara terus-menerus membentuk pola pikir yang terbiasa dengan serba instan. Akibatnya, rentang perhatian (attention span) siswa menjadi jauh lebih pendek. Ketika pemrosesan informasi di otak terbiasa berpindah-pindah topik secara cepat (micro-tasking), daya ingat jangka panjang (long-term memory) siswa terhadap materi pelajaran pun ikut melemah.

Menyalahkan siswa sepenuhnya tentu bukan solusi yang bijak. Masa remaja adalah periode pencarian identitas dan dinamika emosional yang tinggi, di mana kontrol diri (executive functioning) di otak bagian depan belum sepenuhnya matang. Ketika metode pembelajaran di kelas masih didominasi oleh ceramah satu arah yang monoton, wajar jika perhatian mereka mudah teralih ke layar ponsel yang jauh lebih menarik.

Untuk mengatasi krisis fokus ini, pendekatan psikologi pendidikan menawarkan beberapa langkah adaptif. Pertama, guru dapat menerapkan teknik pemecahan materi (chunking method), yaitu membagi durasi pelajaran menjadi segmen-segmen kecil yang diselingi dengan diskusi interaktif atau aktivitas fisik ringan. Kedua, sekolah dan orang tua perlu bekerja sama membangun digital detox yang teratur serta melatih kesadaran (mindfulness) agar siswa mampu mengendalikan dorongan impulsif mereka terhadap gawai.

Pendidikan tidak boleh kalah bersaing dengan algoritma media sosial. Mengembalikan fokus dan ketahanan belajar siswa sekolah menengah memang membutuhkan proses yang tidak instan, tetapi ini adalah investasi penting agar generasi muda kita tidak kehilangan kemampuan berpikir mendalam di tengah arus informasi yang serba cepat.