Konten dari Pengguna

Diskon Bukan Berarti Hemat: Perilaku Konsumsi Bijak dalam Perspektif Islam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari STEFANI NOVITASARI 40226040 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perilaku konsumsi bijak dalam perspektif Islam. (Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT, 2026.)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perilaku konsumsi bijak dalam perspektif Islam. (Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT, 2026.)

"Memahami konsumsi bijak dan mengendalikan keinginan sesuai ajaran Islam"

Stefani Novitasari

Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah

UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Ilustrasi pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan saat berbelanja.(Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT, 2026)

Pernah nggak, kamu awalnya hanya berniat melihat-lihat barang di aplikasi belanja, tetapi akhirnya membeli sesuatu karena tergiur diskon? Apalagi ketika ada promo tanggal kembar, potongan harga besar-besaran, atau gratis ongkir. Rasanya sayang kalau kesempatan itu dilewatkan. Padahal, barang yang dibeli belum tentu benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa keputusan konsumsi terkadang lebih dipengaruhi keinginan sesaat daripada kebutuhan. Tanpa disadari, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk hal penting justru habis untuk barang yang jarang dipakai.

Diskon memang bisa membantu konsumen mendapatkan harga lebih murah. Namun, harga murah tidak otomatis membuat seseorang lebih hemat. Jika kita membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan hanya karena harganya turun, tetap saja ada uang yang dikeluarkan. Misalnya, membeli pakaian baru saat ada promo, padahal pakaian di rumah masih layak digunakan. Pengeluaran itu mungkin terasa kecil, tetapi jika dilakukan berulang kali, jumlahnya bisa bertambah dan mengganggu anggaran. Karena itu, belanja hemat bukan hanya soal mencari harga paling rendah, melainkan juga mempertimbangkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan.

Dalam ilmu ekonomi, konsumsi merupakan kegiatan menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Setiap orang melakukan konsumsi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membeli makanan hingga memenuhi kebutuhan pendidikan. Namun, keputusan konsumsi tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Iklan, tren media sosial, dan penawaran dengan waktu terbatas dapat mendorong seseorang membeli sesuatu secara spontan. Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung tanpa pertimbangan, seseorang bisa terjebak dalam perilaku konsumtif. Oleh sebab itu, konsumen perlu belajar menentukan prioritas dan mengelola uang secara bijak.

Pengaruh lingkungan juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengikuti keinginan belanja. Ketika melihat teman membeli barang baru atau menemukan produk yang sedang ramai dibicarakan di media sosial, muncul keinginan untuk memilikinya juga. Perasaan takut ketinggalan tren terkadang membuat seseorang membeli barang tanpa memikirkan manfaatnya. Padahal, apa yang dibutuhkan orang lain belum tentu menjadi kebutuhan kita. Membiasakan diri untuk tidak selalu mengikuti tren merupakan langkah penting agar keputusan konsumsi didasarkan pada pertimbangan pribadi, bukan sekadar dorongan lingkungan.

Salah satu langkah sederhana adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang penting untuk menunjang kehidupan, sedangkan keinginan berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki tetapi belum tentu harus dipenuhi segera. Contohnya, mahasiswa membutuhkan buku atau alat tulis untuk kuliah. Sementara itu, membeli tas baru hanya karena sedang tren, padahal tas lama masih bisa digunakan, lebih dekat dengan keinginan. Perbedaan ini bukan berarti keinginan selalu salah. Kita tetap boleh membeli barang yang disukai, asalkan tidak mengabaikan kebutuhan utama dan kemampuan keuangan.

Sebelum menekan tombol pembayaran, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, apakah pembeliannya bisa ditunda, dan apakah uang untuk kebutuhan lain masih cukup? Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih tenang. Membuat daftar belanja dan menetapkan batas pengeluaran juga bisa menjadi kebiasaan yang bermanfaat. Jika suatu barang hanya menarik karena sedang diskon, kita bisa menunggu beberapa waktu sebelum memutuskan membelinya. Dengan begitu, keputusan belanja tidak semata-mata mengikuti dorongan sesaat.

Dalam Islam, penggunaan harta juga perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Islam membolehkan manusia menikmati rezeki yang dimiliki, tetapi mengingatkan agar tidak berlebihan. Salah satu pedomannya terdapat dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 31, yang mengajarkan manusia untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Pesan ini dapat menjadi pengingat bahwa memenuhi kebutuhan dan menikmati sesuatu tetap perlu disertai pengendalian diri. Dalam kegiatan belanja, artinya kita perlu mempertimbangkan manfaat barang dan kewajaran pengeluaran, bukan hanya rasa senang ketika berhasil membeli sesuatu.

Islam juga mengenal konsep israf, yaitu sikap melampaui batas kewajaran, serta tabdzir, yaitu menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak semestinya. Kedua konsep tersebut mengingatkan bahwa harta sebaiknya digunakan dengan pertimbangan yang baik. Meski begitu, bukan berarti setiap pembelian barang yang diinginkan otomatis termasuk pemborosan. Hal yang perlu dilihat adalah tujuan pembelian, manfaatnya, kondisi keuangan, serta apakah pengeluaran itu membuat kebutuhan yang lebih penting terabaikan. Konsumsi bijak bukan berarti harus hidup serba kekurangan, melainkan belajar menggunakan harta sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Kebiasaan ini penting diterapkan oleh siapa pun, termasuk mahasiswa yang sering harus membagi uang untuk makan, transportasi, tugas kuliah, dan keperluan sehari-hari. Jika sebagian besar uang digunakan untuk mengikuti tren atau mengejar promo, kebutuhan utama bisa terganggu. Mengatur anggaran sederhana dapat membantu kita mengetahui batas pengeluaran dan menyisihkan uang untuk hal yang lebih penting. Kita juga tidak perlu merasa harus memiliki barang yang sama dengan orang lain. Setiap orang mempunyai kebutuhan dan keadaan keuangan yang berbeda, sehingga keputusan belanja pun tidak harus sama.

Pada akhirnya, diskon bukan sesuatu yang harus dihindari. Promo bisa bermanfaat jika digunakan untuk membeli barang yang memang dibutuhkan dan sesuai anggaran. Namun, membeli sesuatu hanya karena murah belum tentu membuat kita hemat. Perilaku konsumsi yang bijak dimulai dari kemampuan mengendalikan keinginan, menentukan prioritas, dan menghargai harta yang dimiliki. Nilai-nilai Islam mengingatkan kita untuk tidak berlebihan serta menggunakan rezeki secara bertanggung jawab. Jadi, sebelum tergoda tulisan “diskon besar”, ada baiknya kita memastikan satu hal: apakah kita benar-benar membutuhkan barang itu, atau hanya ingin memilikinya?