Kenali Bahaya Gangguan Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Zat

Stefanie Elva Daviana sebagai Mahasiswa. Ia menyukai hal-hal tentang isu politik, dan praktik diplomasi. Ia gemar bermain musik dan menyanyi.
Konten dari Pengguna
11 Januari 2023 8:43
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari STEFANIE ELVA DAVIANA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto ; Ilustrasi kematian. Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Foto ; Ilustrasi kematian. Shutterstock.
Gangguan kesehatan mental merupakan kondisi kesehatan seseorang yang memengaruhi pikiran, perasaan, suasana hati, perilaku, atau kombinasi dari keadaan tersebut. Kondisi ini dapat terjadi dalam waktu yang atau dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama bahkan dapat menyebabkan kematian.
Penggunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) juga dapat menyebabkan kematian jika digunakan secara terus menerus dan digunakan untuk mengalihkan pikiran yang mengganggu. Tingkat kematian akibat gangguan kesehatan mental dan penggunaan zat berbahaya ini masih cukup tinggi di beberapa negara.
Our World In Data menunjukkan tingkat kematian akibat gangguan kesehatan mental dan penggunaan zat dari tahun 1990 sampai tahun 2017 dari beberapa negara. Survei Nasional Penggunaan Narkoba dan Kesehatan telah mengalami beberapa perubahan metodologi besar pada tahun 2017, termasuk peralihan ke wawancara berbasis web di kuartal.
Selain itu, tahun 1990 menandai tahun pertama gangguan penggunaan zat di evaluasi menggunakan kriteria yang ditentukan dalam manual diagnostik dan statistik gangguan mental edisi ke-5. Kriteria ini berlawanan dengan kriteria yang ditentukan dalam manual diagnostik dan statistik gangguan mental edisi ke-4.
Seberapa banyak sih pengguna alkohol, tembakau, dan rokok sehingga menyebabkan kematian? Di antara remaja yang berusia 12 tahun atau lebih pada tahun 2020, ada sebanyak 162,5 juta orang yang meninggal akibat menggunakan tembakau dan alkohol. Angka ini termasuk 138,5 juta orang yang mengonsumsi alkohol, 51,7 juta orang yang menggunakan produk tembakau, dan 37,3 juta orang yang menggunakan obat-obat terlarang. Sebanyak 57,3 juta remaja berusia 12 tahun juga menggunakan rokok elektrik atau perangkat rokok elektrik lainnya untuk mengisap nikotin. Hal ini menyebabkan meningkatnya penggunaan rokok yang di konsumsi oleh remaja yang berusia 12 tahun atau lebih.
Banyaknya orang yang mengisap nikotin tertinggi di antara orang dewasa muda berusia 18 hingga 25 tahun berada di posisi tertinggi karena penggunanya ada sebanyak 3,9 juta orang. Angka yang tinggi ini diikuti oleh remaja berusia 12 hingga 17 tahun sebanyak 1,3 juta orang, dan orang dewasa berusia 26 tahun sebanyak 2,4 juta orang.
Penggunaan nikotin yang banyak dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan denyut jantung, peningkatan risiko terkena resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit jantung, bahkan kematian. Penggunaan nikotin merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi dan utama di dunia. Nikotin dalam rokok merupakan satu-satunya produk legal yang dapat membunuh sepertiga hingga setengah penggunanya dengan korban rata-rata meninggal 15 tahun lebih cepat.
Pengguna NAPZA yang mengalami Substance Use Disorder atau pengguna obat terlarang dan zat berbahaya secara terus menerus meskipun ada konsekuensi merugikan akibat dari penggunaannya, seharusnya mendapatkan perawatan penggunaan NAPZA di fasilitas khusus.
Namun, pada kenyataannya, ada sebanyak 38,4 juta remaja berusia 12 tahun pada tahun 2020 yang mengalami Substance Use Disorder tidak mendapatkan layanan pengobatan di fasilitas khusus. Sementara sebanyak 37,5 juta orang tidak merasa membutuhkan pengobatan dan tidak berusaha untuk berobat. Hanya sedikit orang yang merasa perlu berobat dan berusaha berobat yaitu sekitar 211.000 orang.
Selain pelayanan bagi para pengguna NAPZA, ada juga layanan perawatan bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Hanya sedikit yang menerima layanan perawatan bagi penderita gangguan kesehatan yaitu 6.000 orang. Hal ini membuat banyak pengidap gangguan kesehatan mental belum terobati dan kematian akibat gangguan kesehatan mental dan penggunaan zat berbahaya cukup tinggi.
Saya merasa prihatin dengan kondisi ini dan sudah seharusnya memiliki kesadaran akan tingginya angka kematian akibat gangguan kesehatan mental dan penggunaan zat berbahaya ini. Terutama bagi para remaja dari usia 12 tahun ke atas.
Maka dari itu, bagaimana cara untuk mengurangi kecanduan alkohol dan merokok? Hal yang paling penting untuk berhenti dari kecanduan merokok dan konsumsi minuman yang mengandung alkohol adalah dengan memiliki tekad untuk berhenti merokok, berhenti secara bertahap, dedikasi, meminta dukungan dari keluarga atau sahabat, olahraga secara teratur, dan konsistensi untuk berhenti.
Adapun cara untuk mengobati sendiri yaitu seperti menunda dan mengurangi penggunaan rokok dan alkohol. Jika cara mandiri belum dirasa ampuh, pengguna dapat melakukan konsultasi dengan dokter dan dokter biasanya akan menawarkan beberapa cara seperti konseling, terapi perilaku kognitif, terapi pengganti nikotin dan obat-obatan sesuai anjuran. Konsultasi dengan psikolog dan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter kejiwaan juga dapat membantu mengurangi gangguan kesehatan mental dan penggunaan zat.