Konten dari Pengguna

Bukan Salah Agamanya, Tapi Pola Pikirnya: Mengapa Kita Sulit Maju?

Stefani Farren Gushendra

Stefani Farren Gushendra

Siswi SMAS Citra Berkat. Menulis tentang isu sosial, opini, dan inspirasi anak muda. Mimpiku adalah menjadi seorang news anchor di masa depan. Menulis di kumparan adalah salah satu langkah awal untuk mengasah kemampuan komuni

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Stefani Farren Gushendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Dek, ayo pengajiannya sudah mau mulai!” seru ibu dari teras rumah. Di momen seperti inilah saya sadar bahwa perayaan hari besar bukan sekadar rutinitas–hal ini menggambarkan masyarakat Indonesia melekat dengan nilai-nilai spiritual. Bahkan, menurut survei Pew Research Center (2023), Indonesia termasuk negara dengan tingkat religiusitas tertinggi di dunia, lebih dari 87% penduduknya adalah Muslim. Namun, hal ini memunculkan pertanyaan: “Mengapa Indonesia sebagai negara religius justru kesulitan untuk berkembang menjadi negara maju?” Padahal, ada negara lain yang juga religius seperti Uni Emirat Arab, Polandia — namun mereka bisa lebih maju, dari aspek pendidikan, teknologi, ekonomi dan infrastruktur yang baik. Fenomena ini menimbulkan pernyataan lebih dalam: “Benarkah perilaku religiusitas yang tinggi dapat menghambat kemajuan sebuah bangsa?”

Sumber Ilustrasi: dengan Bantuan AI (Open AI, 2025)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Ilustrasi: dengan Bantuan AI (Open AI, 2025)

Meskipun terdengar sepele, ungkapan seperti “Yang penting akhirat, bukan dunia” jika terus-menerus menanamkan mindset seperti ini, mau seperti apa negara kita? Di tambah ada yang beralasan hadist seperti “Dunia adalah penjara bagi mukmin, sedangkan surga tempat untuk kafir”. Jika anda memahami maknanya secara lebih dalam, kalimat itu sebagai pengingat bahwa perjuangan orang beriman di dunia memang berat—namun hal itulah yang membuat mereka semakin gigih. Seharusnya, ajaran agama yang dipelajari harus dipahami dan menerapkannya dalam kehidupan.

Mindset sempit punya efek yang nyata sekali. Kemajuan pendidikan terhambat karena lebih banyak energi digunakan untuk memperdebatkan halal-haram daripada mengembangkan solusi atau inovasi. Akibatnya, hubungan antar warga melemah, sehingga kesempatan untuk bersaing secara global pun hilang. Potensi bangsa yang besar akhirnya terbuang percuma akibat pemikiran yang enggan mau berkembang.

Coba lihat Negara Turki. Turki mampu terus berkembang di bidang teknologi dan industri pertahanan berkat masyarakatnya yang mampu menyatukan nilai-nilai Islam dengan semangat belajar dan berinovasi. Di saat banyak negara lain masih mengandalkan impor, negara ini telah berhasil memproduksi drone tempur canggih yang diakui dunia. Ini bukan soal tentang bersifat islamis atau tidak, tetapi soal mindset—bahwa keyakinan bisa menjadi pendorong untuk maju, bukan menjadi penghalang. Saya pun seorang muslimah, namun saya percaya bahwa jika kita bisa berpikir secara terbuka dan mau belajar dari mana saja adalah kunci agar bangsa ini tidak ketinggalan zaman.

Sumber Ilustrasi: dengan Bantuan AI (Open AI, 2025)

Terkadang saya heran, kenapa sebagian kalangan islamis di Indonesia punya mindset yang kurang tepat? Bukan karena ajaran agamanya, tapi karena doktrin yang salah dari oknum ustad dan mental “Tempe” yang melekat di masyarakat Indonesia. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam pola pikir miskin, malah mudah menyalahkan orang lain. Memang benar adanya kelompok elite yang mengendalikan sektor finansial. Namun, kalau sudah tahu, seharusnya kita bisa menciptakan produk tandingannya. Restoran halal lokal juga semakin banyak dan rasanya enak, tinggal bagaimana strateginya bisa menembus pasar internasional.

Jika umat Islam di Indonesia ingin bersatu dengan pola pikir yang sehat, sebenarnya kita memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mendorong perubahan. Bayangkan jika seluruh partai dan organisasi Islam benar-benar bersih dari korupsi dan mandiri—tentu politik kita akan menjadi lebih kuat. Dalam bidang ekonomi, kita sudah memiliki modal berupa bank syariah dan restoran halal lokal yang berkualitas, tinggal mengembangkannya agar mampu bersaing di tingkat global. Kesimpulannya bukan islamismenya yang buat negara gak maju—tapi mindsetnya, kalau mindset ini di perbaiki, saya yakin Indonesia pasti bisa meraih “Golden Age” kembali yang dulu pernah ada dalam sejarah peradaban Islam.