Pintar Bicara tapi Miskin Etika

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Stefansen Zebua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, kemampuan berbicara seolah menjadi mata uang baru. Siapa yang pandai merangkai kata, percaya diri tampil, dan cepat merespons, sering kali dianggap cerdas, berwawasan, bahkan layak diikuti. Namun, di balik derasnya arus komunikasi itu, muncul persoalan yang kian nyata: banyak orang pintar bicara, tetapi miskin etika. Mereka mampu menyampaikan pendapat dengan lancar, tetapi mengabaikan sopan santun, empati, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi. Artikel ini berpandangan bahwa kecakapan berbicara tanpa etika bukanlah keunggulan, melainkan potensi masalah yang dapat merusak kualitas interaksi sosial dan ruang publik.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Platform digital memberi ruang bagi siapa pun untuk menyuarakan pendapat tanpa batas yang jelas. Di satu sisi, hal ini positif karena memperluas partisipasi publik. Namun, di sisi lain, kebebasan tersebut sering disalahgunakan. Banyak individu merasa tidak perlu mempertimbangkan dampak kata-kata mereka terhadap orang lain.
Data dari berbagai survei literasi digital di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat kesantunan berkomunikasi di ruang digital masih menjadi tantangan. Komentar bernada kasar, sarkastik, hingga ujaran kebencian kerap ditemukan dalam diskusi daring. Ironisnya, pelaku tidak selalu orang yang tidak terdidik. Banyak di antaranya justru memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tetapi tidak diimbangi dengan etika.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kecerdasan verbal dan kecerdasan sosial. Seseorang mungkin mampu berbicara dengan logis dan sistematis, tetapi gagal memahami konteks, perasaan orang lain, atau norma yang berlaku. Akibatnya, komunikasi yang seharusnya membangun justru menjadi sumber konflik.
Salah satu contoh nyata dapat dilihat dalam perdebatan di media sosial. Tidak jarang diskusi yang awalnya konstruktif berubah menjadi saling serang. Argumen digantikan oleh sindiran, bahkan hinaan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan berbicara tidak lagi digunakan untuk mencari solusi, melainkan untuk “menang” dalam perdebatan.
Fenomena ini juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan dan kerja. Ada individu yang mampu berbicara dengan meyakinkan, tetapi cenderung meremehkan orang lain. Mereka menggunakan kata-kata sebagai alat untuk mendominasi, bukan untuk berkolaborasi. Sikap seperti ini tidak hanya merusak hubungan interpersonal, tetapi juga menghambat terciptanya lingkungan yang sehat.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya penekanan pada pendidikan etika dalam berkomunikasi. Selama ini, banyak orang lebih fokus pada bagaimana cara berbicara dengan baik secara teknis—seperti retorika, diksi, dan penyampaian—tetapi kurang memperhatikan nilai-nilai di balik komunikasi itu sendiri. Padahal, etika adalah fondasi utama dalam setiap interaksi.
Selain itu, budaya populer juga turut memengaruhi. Konten yang provokatif, kontroversial, atau sensasional sering kali lebih menarik perhatian. Akibatnya, banyak orang meniru gaya komunikasi tersebut demi mendapatkan perhatian atau popularitas. Dalam konteks ini, etika sering dianggap sebagai penghambat, bukan kebutuhan.
Padahal, komunikasi tanpa etika memiliki dampak yang luas. Tidak hanya merusak hubungan antarindividu, tetapi juga menurunkan kualitas diskursus publik. Ketika ruang publik dipenuhi oleh komunikasi yang tidak sehat, maka sulit untuk mencapai kesepahaman atau solusi bersama.
Lebih jauh lagi, kebiasaan ini dapat membentuk pola pikir yang keliru. Individu menjadi terbiasa mengutamakan kemenangan dalam berbicara, bukan kebenaran atau kebaikan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan nilai-nilai sosial seperti saling menghormati dan toleransi.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan perubahan cara pandang. Pertama, penting untuk memahami bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga membangun hubungan. Kata-kata memiliki kekuatan, dan setiap orang bertanggung jawab atas dampaknya.
Kedua, etika harus menjadi bagian integral dari kemampuan komunikasi. Ini mencakup sikap menghargai pendapat orang lain, menghindari bahasa yang merendahkan, serta mempertimbangkan konteks sebelum berbicara. Etika bukan berarti membatasi kebebasan, tetapi mengarahkan agar kebebasan tersebut digunakan secara bijak.
Ketiga, literasi digital perlu ditingkatkan. Masyarakat harus dibekali pemahaman tentang cara berkomunikasi yang sehat di ruang digital. Ini termasuk kemampuan menyaring informasi, mengelola emosi, dan berinteraksi secara konstruktif.
Keempat, peran institusi pendidikan sangat penting. Sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter. Pendidikan etika komunikasi harus menjadi bagian dari kurikulum, baik secara formal maupun melalui praktik sehari-hari.
Kelima, media dan tokoh publik juga memiliki tanggung jawab. Mereka dapat menjadi contoh dalam berkomunikasi yang baik. Dengan menyajikan konten yang edukatif dan beretika, media dapat membantu membentuk budaya komunikasi yang lebih sehat.
Pada akhirnya, setiap individu memiliki peran dalam menciptakan ruang komunikasi yang lebih baik. Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Hal sederhana seperti memilih kata dengan bijak, mendengarkan dengan empati, dan menghargai perbedaan sudah merupakan langkah penting.
