Wabi Sabi dalam Arsitektur: Estetika Era Desain Modern

student at Airlangga University, Faculty of Humanities, Japanese Studies
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Stefany Bintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jepang merupakan sebuah negara yang terdapat banyak tradisi dan budaya, dan salah satu tradisi Jepang yang terkait dengan filosofi estetika yang unik disebut sebagai Wabi Sabi 侘び寂び . Konsep tradisi inilah yang biasa dapat kita lihat secara jelas sebagai penggambaran estetika negara Jepang. Wabi Sabi mencerminkan keindahan yang ditemukan dalam ketidaksempurnaan, kesederhanaan, dan sifat yang sementara.Filosofi ini mengajarkan bahwa kehidupan termasuk dengan objek yang diciptkan pada dasarnya bersifat sementara dan tidak sempurna, namun hal ini lah yang menjadikan objek tersebut indah dan bernilai. Wabi Sabi sangat tertanam kuat dalam tradisi tradisonal Jepang sehingga pengaruhnya bahkan semakin berkembang di dunia modern. Konsep estetika ini tidak hanya pada kesenian, namun dalam dunia arsitektur Jepang juga banyak digunakan. Desain arsitektur modern Jepang, banyak menerapkan konsep Wabi Sabi sebagai acuan dalam keindahan. Di era modern yang pada umumnya arsitektur futuristiknya menonjolkan bentuk dan warna yang beragam, konsep wabi sabi memberikan pandangan yang berbeda dan lebih menekankan pada keseimbangan. Hal inilah yang membuat wabi sabi dikenal sebagai nilai estetika yang didalamnya terdapat kesederhanaan, penerimaan atas ketidaksempurnaan, dengan acuan ini dunia arsitektur modern yang menerapkan konsep ini, menciptakan ruang yang tidak hanya estetis namun juga fungsional dan memberikan kesan emosional yang dapat tersalur dari desain futuristiknya.
Sejarah adanya konsep wabi sabi tidak terlepas dari pengaruh Zen Buddhisme dan budaya tradisional Jepang. Konsep ini terlihat jelas dalam kehidupan Jepang mulai dari seni keramik, tata letak taman, dan desain rumah. Kemudian pada masa modern arsitektur yang menggunakan basis wabi sabi semakin meningkat karena adanya kesadaran pentingnya keberlangsungan hubungan harmonis dengan alam. Banyak dari arsitektur dan desainer yang mempertimbangkan bagaimana cara mereka memandang ruang dan bahan bangunan agar tidak terlepas dari konsep wabi sabi. Mereka menolak adanya tren desainyang mengagunkan polesan sempurna dan mulai memilih untuk menggunakan bahan alami, seperti kayu yang memudar atau bahan logam yang berkarat. Menurut mereka dalam desain modern elemen-elemen ini tidak terlihat sebagai kekurangan, melainkan sebagai bukti bahwa bangunan memiliki kehidupan dan sejarah. Dilihat dari cara pandang, konsep ini tidak menggunakan estetika modern dan mendorong agar para arsitek untuk menciptakan ruang ruang yang lebih berfokus dari makna didalamnya atau pun sejarahnya. Pemilik pandangan ini berpikir bahwa mereka tidak hanya memberikan kenyamanan secara fisik tetapi juga dapat memberikan rasa damai yang refleksi bagi penggunanya.
Wabi- Sabi (侘び寂び) dalam Arsitektur Modern
Seperti yang diketahui diatas bahwa pada masa modern banyak arsitek Jepang yang masih menggunakan konsep wabi sabi dalam desainnya. Arsitek seperti Tadao Ando dan Kengo Kuma merupakan arsitek yang terkenal dengan karya karyanya yang menerapkan konsep wabi sabi dalam bangungan modern.
Arsitek Tadao Ando ; Church of the light & Chichu Art Museum
Church of the light di Ibaraki, Osaka adalah salah satu bangunan karya Tadao Ando yang menggunkan beton sebagai bahan utama dalam bangunannya. Penggunaan beton ini tidak untuk menciptakan kesan kekuatan ataupun kemegahan, melainkan untuk menciptakan kesan ketenangan dan kesederhanaan. Dalam desain church of the light menggunakan beton yang dipadukan dengan pencahayaan alami yang masuk melalui celah berbentuk salib di dinding gereja. Bangunan yang dibuat oleh Tadao Ando tidak memiliki dekorasi yang benar benar mencolok, namun meskipun begitu perpaduan antar beton dan permainan Cahaya yang diberikan, dapat meciptakan ruang yang tenang dan selaras dengan konsep wabi sabi.
Chichu Art Museum yang juga salah satu bangunan karya Tadao Ando yang terletak di pulau Naoshima. Chichu art musem dibangun sebagaian besar dibangun dibawah tanah, sebagai desain yang meminimalkan visualnya. Adanya pembangunan dengan konsep tersebut, selaras demgan prinsip wabi sabi yaitu kesederhanaan dan kerendahan hati, yang memungkinkan museum berdampingan dengan alam. Penggunaan beton juga masih di gunakan oleh Tadao Ando untuk Chichu Art Museum sebagai bahan utamanya. Beton menunjukan ketidaksempurnaan dari bahan alami, yang menekankan desainnya pada keindahan material yang kasar dan tidak murni namun memiliki makna yang sama dengan wabi sabi yaitu keindahan didalam ketidaksempurnaan.
Arsitek Kengo Kuma ; Asakusa Culture and Tourism & Sunny Hills Tokyo
Asakusa Culture and Tourism salah satu karya yang paling terkenal karya Kengo Kuma. Bangunan ini menggunakan kayu dalam ukuran dan pola yang tidak simetris, hal ini mencerminkan konsep wabi sabi yang mengharagi ketidaksempurnaan dan kealamian bahan. Desain bangunan ini memadukan estetika tradisional dan modern, juga perpaduan dengan bahan alami yang dapat digunakan untuk menciptakan ruang yang menyatu dengan lingkungan perkotaan.
Sunny Hills Tokyo, juga salah satu bangunan karya Kengo Kuma yang menggunakan bahan uatam yang disusun dengan pola tradisional Jepang yang disebut sebagai jigoku gumi. Kayu yang digunakan dalam bangunan tersebut, tidak diwarnai atau dilapisi, sehingga pada akhirnya akan memudar dan berubah seiring waktu. Namun hal itu yang ingin dicapai dan menyelaraskan dengan konsep wabi sabi yang menerima perubahan secara alami, dan keindahan dari hal yang sementara dan dapat berubah.
Keseimbangan antara Tradisi Jepang dan Inovasi
Wabi Sabi yang sudah menjadi prinsip tradisional dan sudah ada di Jepang sejak jaman dahulu memiliki berbagai tantangan, salah satunya yaitu bagaimana konsep wabi sabi diterpakan dalam berbagai arsitektur modern, yang dimana pada masa modern banyak penggunaan alat dan bahan canggih yang dapat digunakan dalam karya bangunan ataupun yang lain. Dalam banyak proyek arsitektur, keseimbangan adanya tradisi dan inovasi menjadi fokus utama pada arsitek. Arsitek modern yang menerapkan konsep wabi sabi sering kali menghadapi tantangan dalam menciptakan ruang yang sederhana dan tidak sempurna, namun tetap harus memenuhi kebutuhan masyarakat yang modern dan kompleks.
Karya bangunan pusat perbelanjaan yang dirancang oleh Yoshio Taniguchi yaitu GINZA SIX, merupakan salah satu contoh karya yang menggunakan keseimbangan antara modernitas dan konsep wabi sabi. Bangunan yang diberikan terlihat modern dan megah, namun desain interiornya tetap memperlihatkan elemen kesederhaan dan kesunyian, sesuai dengan filosofi konsep wabi sabi. Unsur kayu dan ruang yang terbuka dan elemen dari futuristic menjadikan pusat perbelanjaan ginza six contoh dari konsep wabi sabi yang dapat diterpakan dalam zaman yang modern.
Menyimpulkan pemahaman mengenai konsep wabi sabi (侘び寂び) dalam arsitektur modern Jepang, kita dapat melihat bagaimana pandangan ini tidak hanya mengakar dalam tradisi lama, namun juga dapat beradaptasi dan mengikuti seiring dengan adanya perubahan zaman. Konsep wabi sabi mengajarkan bahwa keindahan tidak hanya terletak pada kesempurnaan, melainkan keindahan juga terdapat pada ketidaksempurnaan, kesederhanaan, dan hal- hal yang bersifat sementara dari kehidupan kita. Ini terlihat dalam karya-karya milik arsitek Jepang yang terkenal, memadukan bahan alami dan desain yang harmonis dengan lingkungan. Dalam konteks modern, desain seperti ginza six menunjukan bagaimana konsep wabi sabi dapat beradaptasi juga dalam zaman yang sudah modern, dan tidak menghilangkan nilai-nilai estetikanya. Dengan demikian konsep wabi sabi tidak hanya sekedar konsep estetika, tetapi juga sebuat filosofi hidup untuk menghargai keindahan dalam ketidaksempurnaan dan hubungan harmonis dengan alam. Hal ini juga dapat mengingatkan kita pentingnya menciptakan ruang yang lebih bermakan dan berkelanjutan dalam era yang semakin modern.
