Girls, Bingung Pilih Logika atau Perasaan? Simak ini Agar Kalian Gak Salah Arah!

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS)
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Stephanie Alieta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Cinta dan karier gak bisa dikejar bersamaan. Kalahkan salah satunya, atau keduanya akan hancur bersamaan" - Logic vs Feelings
Pernah kah kalian mendengar buku self growth yang berjudul "Logic vs Feelings"? Buku ini ditulis oleh Aurellia Sapphire, baru saja terbit di tahun 2025, dengan 172 halaman, dan diterbitkan oleh Media Kita, buku ini banyak sekali diminati oleh para wanita. Kenapa ya?
Mengintip Isi Buku "Logic vs Feelings"
Dari cover buku ini, kita bisa melihat judul yang menarik, "Logic vs Feelings, Memikat dengan Feminine Energy" dengan dominasi sampul warna merah muda, yang sekali lihat, kita tahu bahwa buku ini ditulis untuk para wanita. Buku ini memberikan banyak "sentilan" kecil dan pemaparan mindset yang membantu meningkatkan value, boundaries, memberikan saran bagi para kaum wanita, bagaimana kita menghadapi situasi yang sangat sensitif saat jatuh cinta, bagaimana kita menghadapi perasaan, emosi, dan pikiran yang muncul saat sedang jatuh cinta, bagaimana banyaknya kemungkinan-kemungkinan terjadi saat sedang jatuh cinta, dan bagaimana saran, langkah, dan tips untuk para wanita berperilaku dan merespon perasaan ketika sedang jatuh cinta, dengan tetap menghargai diri sendiri tentunya.
Terdiri dari 5 bab, buku ini menuliskan bagaimana kita sebagai wanita seringkali terjebak antara pilihan logika ataupun perasaan, pada hubungan, apakah sebagai wanita, kita perlu mempertahankan suatu hubungan, atau justru melepaskannya. Buku ini memberikan konsep agar para wanita bisa menggunakan logika dan perasaan secara seimbang. Artinya, walaupun sebagai wanita, kita tidak hanya melulu mengutamakan perasaan dalam mengambil keputusan, namun juga perlu mempertimbangkan dan memiliki standar, batasan secara logik untuk selalu menghargai diri sendiri, menekankan konsep "feminine energy" dalam pembawaannya, buku ini memberikan banyak tips dan refleksi yang sesuai realita, dan memberikan arahan bagaimana cara wanita mengatasi kebingungan dalam sebuah hubungan sesuai porsinya.
Gaya "Pop-Self Help" yang Ringan, Tapi Berkesan
Dalam buku ini, Aurel menggunakan bahasa yang cukup ringan dan mudah dipahami. Aurel membawakannya dengan konsep ringan seolah-olah para pembaca sedang "ngobrol" dengan penulisnya. Penggunaan kata "aku" (diartikan sebagai penulis) dan "kamu" (para pembaca) yang ada dalam buku ini, membuat pembaca merasa nyaman untuk larut dalam bacaan dan secara tidak langsung dapat memengaruhi pemikiran pembaca dengan apa yang disampaikan dalam buku, karena pembaca merasa bahwa penulis adalah teman curhatnya.
Dengan gaya kepenulisan tersebut, buku ini adalah salah satu buku self-growth yang ringan, dan tidak terlalu akademis dalam teori. Karena, Aurel juga memberikan kutipan yang relevan, dan gaul, sesuai dengan pengalaman yang pernah dialaminya.
Walau buku ini tergolong ringan dan mudah dipahami, Aurel tidak lupa untuk menekanan hal-hal penting yang menjadi main course dalam bacaannya. Aurel memberikan pertanyaan langsung seperti "Coba kamu bayangkan..." "Kalau kamu..." atau ajakan ajakan langsung yang gaul seperti "Stop it girls!", "Jangan biarin diri kamu terlalu larut" yang secara tidak langsung memberikan penekanan hal penting, memancing para pembaca untuk berpikir kritis secara logika, dan seolah-olah memberikan "kesadaran" untuk para pembacanya.
Gaya bahasa gaul dengan tambahan pengalaman yang relatable dan relevan itulah, yang membuat para wanita merasa nyaman dan relate dengan bacaannya, yang walaupun ringan, tapi tetap berkesan dan menusuk dalam pikiran pembacanya untuk sadar dan mengubah mindset.
Catatan yang Perlu Diperhatikan
Walaupun begitu, dalam buku ini masih terdapat beberapa kelemahan. Untuk kalian, yang terbiasa membaca buku self growth, mungkin akan merasa bahwa buku ini terlalu ringan, dan kurang dari sisi Psikologis yang mendalam dan teoritis. Karena, buku ini berisi lebih banyak mengenai quotes, dan refleksi yang dialami oleh penulis.
Selain itu, topik seperti cinta yang sehat, konflik antara logika dan perasaan, boundaries dalam suatu hubungan, cenderung diulang dan terkesan repetitif, dengan gaya bahasa yang mirip. Buat kalian yang kritis dan terbiasa dengan bacaan yang "bold" mungkin akan sedikit bosan dan merasa bahwa topiknya hanya berputar pada tema yang itu-itu saja.
Kesimpulan
Secara garis besar, Aurellia Sapphire berhasil menyampaikan sudut pandang yang realitis untuk para wanita, yang mungkin sedang atau sering terjebak antara logika dan perasaan saat sedang jatuh cinta. Gaya bahasa yang ringan, khas, dan terkesan santai membuat para wanita akan terasa nyaman saat membacanya dan akan merasa relate dengan kisah mereka. Untuk kalian yang suka membaca buku ringan, namun masih memiliki banyak value dan pembahasan penting di dalamnya, buku ini menjadi salah satu buku best seller yang cocok untuk kalian. Apa kalian sudah membacanya?
