Kota sebagai Sumber Devisa, Apa yang bisa Jakarta Pelajari dari Bangkok?

Pokemon Trainer - Auditor sektor publik. Daydreaming about utopia while walking on the treadmill every day, and trying to write it all down.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Stefano Richard D tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangkok Sebagai Salah Satu Mesin Devisa, Apa Yang Bisa Dipelajari Jakarta?
Selama Indonesia berdiri, salah satu sumber utama devisa Indonesia berasal dari kemampuan menjual kekayaan alamnya kepada dunia. Batu bara, minyak dan gas, kelapa sawit, nikel, serta berbagai komoditas berbasis sumber daya alam menjadi bagian penting dari struktur ekspor Indonesia. Bahkan hingga saat ini, kinerja ekspor non-migas Indonesia masih banyak ditopang oleh komoditas berbasis sumber daya alam. Pada Mei 2026, misalnya, Bank Indonesia mencatat bahwa surplus perdagangan nonmigas Indonesia terutama didukung oleh ekspor mineral fuel serta nikel dan produk turunannya.
Ketergantungan terhadap komoditas bukanlah sesuatu yang dengan sendirinya buruk. Sektor tersebut telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa yang penting bagi Indonesia. Namun, mengandalkan satu kelompok sumber devisa juga menyimpan risiko. Harga komoditas bergerak mengikuti siklus global, permintaan dari negara mitra dapat berubah, dan transisi menuju ekonomi rendah karbon berpotensi mengubah struktur permintaan terhadap sejumlah komoditas yang selama ini menjadi andalan Indonesia. Ketika harga dan permintaan komoditas melemah secara bersamaan, kemampuan ekspor untuk memasok valuta asing ke dalam negeri ikut menghadapi tekanan.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Indonesia harus meninggalkan komoditas, melainkan bagaimana Indonesia mendiversifikasi sumber devisanya. Dan salah satu jawabannya mungkin bukan di bawah tanah, melainkan di jalanan Jakarta.
Ketika Satu Kota Mengalahkan Satu Negara
Indonesia membutuhkan lebih banyak aktivitas ekonomi yang dapat mendatangkan valuta asing tanpa selalu bergantung pada kemampuan mengekstraksi dan menjual sumber daya alam. Salah satu sumber yang masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan adalah ekspor jasa melalui pariwisata. Ketika seorang wisatawan asing datang ke Indonesia, menginap di hotel, makan di restoran, menggunakan transportasi, berbelanja, hingga membayar tiket atraksi wisata, pada dasarnya Indonesia sedang menjual jasa kepada konsumen asing. Devisa masuk bukan karena Indonesia mengirim barang ke luar negeri, melainkan karena konsumen asing datang dan membelanjakan uangnya di dalam negeri.
Dalam konteks ini, pengalaman Thailand pantas menjadi bahan renungan, bukan sekadar inspirasi, tapi juga tamparan angka. Sepanjang 2025, Bangkok saja tercatat menarik lebih dari 30 juta kunjungan wisatawan mancanegara, menjadikannya kota paling banyak dikunjungi di dunia (https://www.bangkokpost.com/thailand/general/3159768/bangkok-crowned-worlds-most-visited-city-in-2025-with-30-million-arrivals), mengungguli Hong Kong, London, maupun Paris. Bandingkan dengan capaian seluruh Indonesia pada tahun yang sama: 15,39 juta kunjungan wisman (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260204155947-269-1324579/kunjungan-wisman-ke-ri-pada-2025-capai-1539-juta-malaysia-422-juta) . Artinya, satu kota di Thailand menarik hampir dua kali lipat wisatawan dibanding seluruh wilayah Indonesia.
Selisihnya makin tajam kalau bicara devisa. Belanja wisatawan internasional di Bangkok pada 2024 saja tercatat lebih dari 1.223 miliar baht, setara puluhan miliar dolar AS dari satu kota. Sementara itu, total devisa pariwisata seluruh Indonesia sepanjang 2025 diproyeksikan sekitar 18,91 miliar dolar AS, dengan rata-rata pengeluaran 1.267 dolar AS per kedatangan wisatawan. Angka-angka ini bukan untuk merendahkan capaian Indonesia, melainkan untuk menunjukkan skala peluang yang masih terbuka lebar, khususnya di kota-kota besar yang belum benar-benar dioptimalkan sebagai destinasi, bukan sekadar pintu masuk.
Jakarta, Sang Kota Transit
Pertanyaan yang muncul: jika pariwisata dapat menjadi salah satu mesin devisa Thailand, mengapa Indonesia belum mengoptimalkan kota-kota besarnya sebagai mesin devisa serupa? Pertanyaan itu membawa kita kepada Jakarta.
Selama ini Jakarta lebih sering dipandang sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, dan pintu masuk menuju destinasi wisata lain di Indonesia. Wisatawan asing yang mendarat di Jakarta tidak jarang menjadikan kota ini hanya sebagai titik transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bali, Yogyakarta, Labuan Bajo, atau destinasi lainnya. Padahal Jakarta memiliki hampir seluruh elemen yang dibutuhkan untuk membangun sebuah ekonomi pariwisata perkotaan: jaringan penerbangan internasional, hotel, pusat perbelanjaan, kuliner, museum, seni, budaya, pusat bisnis, MICE, hiburan, hingga akses menuju kawasan pesisir dan Kepulauan Seribu.
Masalah Jakarta mungkin bukan ketiadaan produk wisata. Masalahnya adalah produk-produk tersebut belum sepenuhnya dikonversi menjadi sebuah ekosistem yang mampu menarik wisatawan asing untuk datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uang di Jakarta.
Apa yang Sebenarnya Dapat Dipelajari dari Bangkok
Menyebut "belajar dari Bangkok" mudah diucapkan, tapi yang membuat Bangkok berhasil bukan sekadar karena kotanya punya kuliner, mal, dan kehidupan malam. Hampir semua kota besar Asia punya itu, yang membedakan adalah bagaimana elemen-elemen tersebut sengaja dikonversi menjadi alasan bagi wisatawan untuk datang dan berlama-lama, lewat beberapa mekanisme yang cukup konkret:
Kemudahan masuk
Kebijakan visa dan konektivitas penerbangan langsung Bangkok dari puluhan kota dunia membuat kota ini menjadi pilihan mudah, bukan sekadar pilihan eksotis.
Investasi swasta skala besar di "destination anchor" Kompleks seperti ICONSIAM dan One Bangkok dibangun bukan sekadar sebagai mal, melainkan sebagai destinasi itu sendiri. Lengkap dengan fasilitas transportasi umum yang mendukung aksesibilitasnya. Menjadikan beberapa Icon di Bangkok tempat yang layak menjadi alasan utama sebuah perjalanan, bukan sekadar tempat singgah.
Kalender event yang dikurasi negara
Otoritas pariwisata Thailand secara eksplisit menjadikan festival lokal sebagai agenda berskala internasional dan aktif memburu event-event global untuk digelar di Bangkok, sehingga kota ini punya alasan baru untuk dikunjungi sepanjang tahun, bukan hanya saat musim liburan.
Diversifikasi segmen wisatawan
Bangkok menggarap serius wisata kesehatan dan wellness sebagai segmen tersendiri, bukan sekadar produk sampingan pariwisata umum.
Keempat hal ini adalah keputusan kebijakan dan investasi yang bisa direplikasi. Bukan keunggulan geografis yang tidak bisa ditiru.
Dari Jumlah ke Pengeluaran
Maka, ambisi Jakarta seharusnya tidak berhenti pada target meningkatkan jumlah wisatawan. Yang lebih penting adalah meningkatkan foreign tourist expenditure: berapa banyak devisa yang dibawa masuk oleh setiap wisatawan, berapa lama mereka tinggal, dan berapa besar pengeluaran mereka selama berada di Jakarta. Menambah satu juta kunjungan singkat yang hanya transit semalam jauh lebih kecil dampaknya dibanding menambah seratus ribu wisatawan yang tinggal seminggu, menginap di hotel bintang lima, makan di restoran kelas atas, dan berbelanja produk lokal.
Tantangan yang Perlu Diakui
Ambisi ini tidak akan tercapai hanya dengan slogan. Pada 2027, Jakarta akan merayakan hari jadinya yang ke-500. Pada momen ini, sangatlah tepat untuk dijadikan sebagai titik balik untuk membenahi keseluruhan aset kota, termasuk kekayaan intelektual dan identitas kreatif Jakarta sebagai kota global. Dalam menyongsong 5 abad Jakarta, pemerintah pusat maupun daerah hendaknya gotong royong dalam menjawab hambatan nyata pembangunan yang perlu dijawab secara langsung, seperti kemacetan dan polusi udara yang masih menjadi persepsi negatif di mata wisatawan internasional, minimnya penerbangan langsung dari sejumlah pasar sumber wisatawan utama dibanding Bangkok atau Singapura, serta belum adanya "alasan untuk tinggal lebih lama" yang jelas, mulai dari kehidupan malam yang masih dibatasi regulasi, hingga kurangnya kalender event internasional berskala besar yang konsisten sepanjang tahun.
Solusi dari penguntaian hambatan yang dihadapi Jakarta membutuhkan langkah yang lebih spesifik daripada sekadar promosi destinasi: peninjauan kebijakan visa dan penambahan rute penerbangan langsung, insentif bagi investasi swasta pada destinasi ikonik baru (bukan sekadar mal biasa), kurasi kalender MICE dan event internasional oleh pemerintah kota, serta pengembangan segmen niche seperti wisata kesehatan dan kuliner kelas dunia yang sudah menjadi kekuatan alami Jakarta.
Penutup
Dengan perspektif tersebut, pariwisata Jakarta dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Ia bukan semata-mata kebijakan promosi destinasi, bukan hanya upaya meningkatkan okupansi hotel, dan bukan sekadar strategi menggerakkan ekonomi kreatif. Pariwisata dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendiversifikasi sumber devisa Indonesia dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian.
Jika selama ini Indonesia mendapatkan devisa dengan mengirimkan komoditas ke luar negeri, maka sudah saatnya Indonesia juga mendapatkan devisa dengan membuat dunia datang ke Indonesia. Dan jika Bangkok bisa membuktikan bahwa sebuah kota metropolitan tanpa pantai pun bisa menjadi destinasi wisata dunia, tidak ada alasan Jakarta tidak bisa menjadi "the other Bangkok", kota yang bukan lagi sekadar tempat transit, melainkan tujuan itu sendiri.
