Pekerjaan Hijau: Dari Ancaman Kehilangan Kerja Menuju Peluang Ekonomi Baru

Pokemon Trainer - Auditor sektor publik. Daydreaming about utopia while walking on the treadmill every day, and trying to write it all down.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari stevanorichard tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengenal peran pekerjaan hijau dalam mewujudkan transisi yang berkeadilan dan ekonomi yang berkelanjutan.
Transisi menuju ekonomi rendah karbon sering kali dipandang sebagai ancaman bagi lapangan kerja. Pengurangan penggunaan batu bara, peningkatan standar emisi, hingga penerapan teknologi yang lebih bersih diperkirakan akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada sektor-sektor intensif karbon. Kekhawatiran tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan, mengingat jutaan pekerja di berbagai negara masih bergantung pada industri intensif karbon sebagai sumber penghidupan.
Namun, transisi hijau tidak semata-mata berarti hilangnya pekerjaan. Dalam konsep just transition (transisi yang berkeadilan), perubahan menuju ekonomi rendah karbon harus disertai dengan penciptaan peluang kerja baru sehingga pekerja tidak menjadi korban dari transformasi tersebut. Dengan kata lain, tantangannya bukan sekadar mengganti teknologi, tetapi juga mentransformasi pasar tenaga kerja.
Dalam konteks inilah pekerjaan hijau (green jobs) menjadi elemen penting. Menurut Bappenas, pekerjaan hijau adalah pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan sekaligus mempromosikan pekerjaan yang layak (decent work). Pekerjaan ini dapat muncul melalui tugas yang mendukung lingkungan, penggunaan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, kebutuhan keterampilan baru, maupun menghasilkan produk dan jasa yang berkelanjutan.
Seiring berkembangnya industri hijau, permintaan terhadap tenaga kerja dengan kompetensi baru akan meningkat. Perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan teknisi panel surya atau operator pembangkit energi terbarukan, tetapi juga analis ESG, auditor emisi, spesialis efisiensi energi, ahli pengelolaan limbah, hingga tenaga profesional yang mampu mengembangkan sistem pelaporan emisi karbon. Dengan demikian, transisi hijau bukan sekadar mengubah jenis industri, tetapi juga menciptakan struktur pasar kerja yang baru.
Berdasarkan hasil pemodelan dalam Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia, Bappenas memproyeksikan jumlah tenaga kerja hijau mencapai sekitar 5,3 juta orang pada 2029 dalam skenario pertumbuhan ekonomi tinggi. Selain itu, sekitar 56 juta pekerjaan pada 2025 diperkirakan memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi pekerjaan hijau, dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 72 juta pekerjaan pada 2029. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan di Indonesia sesungguhnya memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi lebih ramah lingkungan melalui adopsi teknologi, peningkatan keterampilan, dan perubahan proses bisnis, sehingga peluang penciptaan pekerjaan hijau jauh lebih besar dibandingkan sekadar menggantikan pekerjaan yang hilang akibat transisi energi.
Besarnya potensi tersebut tentu tidak akan terwujud secara otomatis. Munculnya jutaan pekerjaan hijau baru juga berarti meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja dengan kompetensi yang relevan. Oleh karena itu, investasi pada pendidikan vokasi, reskilling, dan upskilling menjadi prasyarat utama agar tenaga kerja Indonesia mampu memenuhi kebutuhan industri hijau. Tanpa pengembangan keterampilan yang memadai, peluang penciptaan jutaan pekerjaan hijau justru berisiko tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja domestik.
Lebih dari sekadar menciptakan lapangan kerja baru, pekerjaan hijau juga diharapkan menjadi decent jobs yang memberikan upah layak, kondisi kerja yang aman, perlindungan sosial, serta peluang pengembangan karier. Peningkatan jumlah pekerjaan formal yang produktif dan berkualitas pada akhirnya akan memperkuat kelas menengah Indonesia. Ketika semakin banyak rumah tangga menikmati pendapatan yang stabil dan daya beli yang lebih tinggi, konsumsi domestik yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin kuat. Dengan
demikian, pengembangan pekerjaan hijau tidak hanya mendukung pencapaian target iklim, tetapi juga menjadi strategi untuk memperluas kelas menengah dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif dalam jangka panjang.
