Konten dari Pengguna

Generasi Muda Muak, Politik Membisu

Stevanus Debrian

Stevanus Debrian

Mahasiswa yang aktif berkuliah di Universitas Pancasila, Jakarta Selatan.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Stevanus Debrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Generasi muda muak karena Politik yang membisu (Sumber foto: freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generasi muda muak karena Politik yang membisu (Sumber foto: freepik.com)

Generasi muda bukan sekadar angka statistik dalam daftar pemilih. Mereka adalah denyut nadi perubahan, potensi masa depan, sekaligus cermin dari kondisi hari ini. Namun, di tengah hiruk-pikuk politik yang seharusnya membuka ruang aspirasi, justru yang terdengar adalah suara-suara sumbang dari elit yang sibuk menjaga kuasa. Ketika politik memilih membisu di hadapan keresahan, generasi muda memilih untuk muak. Dan dari kemuakan itulah, lahir sebuah kesadaran kritis: bahwa perubahan tidak akan datang dari atas, melainkan dari bawah, dari mereka yang selama ini dianggap sekadar penonton.

Kita sedang hidup dalam masa ketika demokrasi seakan berjalan tanpa arah. Pemilu menjadi ritual lima tahunan yang gemerlap di permukaan, tapi hampa makna di kedalaman. Partai politik berkutat pada transaksi elektoral, membentuk koalisi tanpa ideologi, menjual narasi kosong lewat baliho dan iklan digital. Di balik itu semua, ada suara-suara muda yang menggeliat namun tak diberi ruang. Aspirasi mereka kerap dibungkam dengan tuduhan belum matang, belum cukup pengalaman, atau terlalu emosional. Padahal, keberanian bertanya dan mengkritik adalah bagian dari proses pendewasaan politik.

Muaknya generasi muda bukan tanpa sebab. Lihat saja bagaimana isu-isu yang menyentuh kehidupan mereka sehari-hari kerap diabaikan. Pendidikan yang makin mahal, lapangan kerja yang makin sempit, krisis iklim yang tak kunjung direspons serius, dan ruang berekspresi yang makin menyempit. Belum lagi kultur politik yang anti kritik, penuh buzzer bayaran, serta media yang seringkali ikut bermain dalam narasi penguasa. Di sinilah generasi muda berdiri di persimpangan: antara ikut dalam arus pasrah atau menciptakan gelombang perubahan baru.

Sayangnya, politik membisu. Membisu bukan karena tak tahu, tapi karena memilih untuk tak peduli. Elit politik lebih sibuk memainkan simbol dan pencitraan. Mereka hadir hanya ketika butuh suara, lalu menghilang ketika suara itu sudah didapat. Representasi politik bukan lagi tentang keterwakilan ide, tapi sekadar penguasaan kursi. Mereka lupa, atau sengaja melupakan, bahwa generasi muda hari ini bukan generasi yang mudah dibohongi dengan gimik. Mereka skeptis, dan skeptisisme itu tumbuh dari pengalaman pahit menyaksikan kegagalan demi kegagalan.

Namun kemuakan bukan berarti apatisme. Justru dari titik muak itulah tumbuh gerakan-gerakan alternatif. Generasi muda mulai membentuk komunitas, melakukan kampanye digital, membuat petisi, bahkan menyuarakan protes lewat seni dan budaya. Mereka tak lagi menggantungkan harapan pada politisi, tapi pada solidaritas horizontal antarsesama warga. Di sinilah terlihat benih-benih politik baru politik yang lahir dari empati, bukan ambisi; dari kesadaran, bukan pencitraan.

Di media sosial, mereka membongkar kebohongan, mengkritik kebijakan, dan membangun kesadaran kolektif. Di jalanan, mereka turun dengan poster, nyanyian, dan orasi. Di kampus-kampus, ruang diskusi kembali hidup, memperbincangkan masa depan yang ingin mereka rebut. Meskipun kerap dihadapkan pada represi, tuduhan subversif, atau dianggap terlalu vokal, mereka terus berjalan. Karena mereka tahu, diam adalah bentuk pengkhianatan pada masa depan.

Politik hari ini, dengan segala kebisuannya, sebenarnya sedang diuji. Ujian itu datang dari suara-suara yang tak bisa lagi ditahan. Generasi muda bukan ingin merebut kekuasaan semata, tapi ingin mengembalikan makna dari kekuasaan itu sendiri: sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan bersama, bukan memperkaya segelintir orang. Mereka ingin politik yang jujur, terbuka, dan bisa dipercaya. Dan kepercayaan itu tak bisa dibeli dengan janji manis atau gimik media. Ia harus dibangun lewat tindakan nyata.

Ketika generasi muda muak, bukan berarti mereka menyerah. Justru itulah momen ketika perlawanan dimulai. Mereka tak butuh panggung besar, karena mereka menciptakan panggung mereka sendiri. Mereka tak butuh legitimasi dari politisi, karena legitimasi mereka datang dari sesama yang percaya bahwa perubahan itu mungkin. Dan dalam setiap langkah, mereka membawa tanggung jawab: untuk bicara, untuk bertindak, dan untuk menjaga agar suara mereka tidak tenggelam dalam kebisingan politik yang palsu.

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari kesepakatan elit semata, tapi dari partisipasi aktif warganya. Ketika suara muda dibungkam, demokrasi kehilangan daya hidupnya. Maka membiarkan politik terus membisu, sama saja dengan membiarkan masa depan dikendalikan oleh mereka yang tak pernah peduli. Di sinilah generasi muda mengambil sikap: menolak diam, menolak tunduk, dan menolak dibungkam.Mereka tahu, perjuangan ini panjang. Tapi mereka juga tahu, sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani melawan ketika yang lain memilih diam. Dan dari muak itu, lahir harapan yang tak bisa dibungkam.

Mereka mulai bertanya: mengapa hanya wajah-wajah lama yang terus muncul dalam pemilu? Mengapa partai politik tak kunjung membuka ruang bagi calon-calon muda yang memiliki integritas dan visi jangka panjang? Mengapa kritik dibalas dengan pelaporan hukum, alih-alih dijadikan bahan introspeksi? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggema di ruang-ruang diskusi anak muda, menjadi bara yang tak kunjung padam.

Tak sedikit dari mereka yang memilih jalur independen: mencalonkan diri sebagai legislatif tanpa partai, membangun media alternatif, menginisiasi forum-forum kebijakan publik di komunitas. Mereka belajar bahwa perubahan bukan sekadar tentang kursi kekuasaan, tapi tentang menggoyang sistem dari akar. Mereka tahu bahwa perbaikan harus dimulai dari hal yang paling kecil: dari ruang kelas, dari tongkrongan, dari forum RT, dari akun-akun media sosial yang jujur.

Dalam dunia yang dikendalikan algoritma, generasi muda memanfaatkan teknologi sebagai alat perjuangan. Mereka tahu cara membangun narasi, menyebarkan kesadaran, dan menantang dominasi wacana arus utama. Mereka menciptakan tagar yang mengguncang, video yang membuka mata, dan tulisan yang menampar kesadaran. Mereka bukan sekadar pengguna internet, tapi penggerak opini.

Namun perjuangan ini tidak ringan. Banyak yang harus mereka korbankan: waktu, tenaga, bahkan rasa aman. Beberapa di antara mereka mengalami doxing, peretasan, ancaman, bahkan kekerasan fisik. Tapi mereka tetap berdiri. Karena bagi mereka, perjuangan bukan pilihan, tapi keharusan. Diam adalah kemewahan yang tak bisa mereka miliki.

Mereka tahu bahwa perubahan tidak instan. Tapi seperti air yang terus menetes, kesadaran kolektif lambat laun akan mengikis batu kekuasaan yang keras dan bebal. Setiap aksi, sekecil apapun, adalah kontribusi pada gelombang yang lebih besar. Setiap suara, setiap tulisan, setiap diskusi adalah bagian dari arus balik yang menolak pasrah.

Pada akhirnya, generasi muda bukan sekadar berharap. Mereka menuntut. Mereka menuntut agar politik kembali kepada rakyat. Agar kebijakan berpihak pada kehidupan, bukan pada kepentingan ekonomi segelintir orang. Mereka menuntut ruang yang aman untuk bersuara, pendidikan politik yang jujur, serta akses yang adil terhadap proses pengambilan keputusan, dan jika politik tetap memilih membisu, maka generasi muda akan terus berteriak lebih keras. Karena mereka tahu, suara mereka adalah harapan terakhir yang masih tersisa, jika politik tak bisa berubah dari dalam, maka generasi muda akan mendobraknya dari luar, karena masa depan bukan milik mereka yang paling kuat, tapi mereka yang paling peduli, dan generasi muda peduli. Dengan muak yang berubah menjadi gerak. Dengan marah yang berubah menjadi karya. Dengan kecewa yang berubah menjadi tekad.

Politik boleh membisu, tapi generasi muda akan terus bersuara.

Sampai perubahan tak lagi ditunda.

Sampai demokrasi benar-benar bermakna.

Sampai suara rakyat kembali berdaulat.