Konten dari Pengguna

Hunian Terjangkau: Ketika Regulasi dan Desain Justru Menciptakan Kegagalan Pasar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Stevanus J Manahampi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan via kumparan
zoom-in-whitePerbesar
hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan via kumparan

Selama dua dekade terakhir, Jakarta termasuk kota yang cukup aktif dan progresif dalam upaya penyediaan hunian. Berbagai skema telah dijalankan, mulai dari pembangunan rumah susun sewa dan rumah susun milik, program hunian vertikal berbasis MBR, hingga pemberian berbagai insentif serta kemudahan perizinan untuk mendorong pembangunan hunian berbiaya lebih rendah. Dari sisi fisik dan administratif, kapasitas Jakarta dalam membangun hunian sesungguhnya terus meningkat, terutama melalui pengembangan hunian berkepadatan tinggi.

Namun, di balik capaian tersebut, muncul fenomena yang sulit diabaikan. Banyak hunian yang pada awalnya diposisikan sebagai hunian terjangkau, ternyata tidak bertahan lama dalam segmen keterjangkauannya. Harga naik, segmen penghuni bergeser, dan dalam waktu relatif singkat hunian tersebut keluar dari jangkauan kelompok sasaran awal, terutama kelas menengah bawah dan menengah awal. Secara fisik bangunannya tetap ada, tetapi secara fungsional pasokan hunian terjangkau justru menyusut.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar mengapa hunian terjangkau sulit dibangun, tetapi: Mengapa hunian terjangkau yang berhasil dibangun di Jakarta sulit dipertahankan sebagai hunian terjangkau? Dan mengapa kelompok kelas menengah justru menjadi pihak yang paling terdampak oleh kegagalan ini?

Tulisan ini berangkat dari hipotesis bahwa penyebab utama kegagalan tersebut bukan karena keterbatasan lahan, kapasitas teknis, atau niat pengembang, melainkan akibat dari desain regulasi dan standar arsitektur yang terlalu generik dan tidak sensitif terhadap target kelas penggunanya.

Dalam konteks ini, regulasi bangunan dan pendekatan desain, yang seharusnya dapat menjadi instrumen penjaga keterjangkauan, justru berkontribusi pada kegagalan penyediaan dan kegagalan mempertahankan pasokan hunian terjangkau, khususnya bagi kelas menengah di Jakarta.

Pasokan Hunian Terjangkau yang Tidak Pernah Stabil

Jika persoalan hunian terjangkau hanya dipahami sebagai persoalan kuantitas produksi, maka peningkatan kapasitas pembangunan hunian vertikal seharusnya sudah cukup menjawab tantangan tersebut. Namun kenyataannya, persoalan utama justru terletak pada ketidakstabilan pasokan hunian terjangkau dari waktu ke waktu.

Hunian yang pada awalnya dibangun dan dipasarkan sebagai hunian terjangkau tidak memiliki mekanisme yang menjaga agar hunian tersebut tetap berada dalam segmen keterjangkauannya. Ketika harga meningkat dan segmen penghuni bergeser, hunian tersebut secara de facto keluar dari kategori hunian terjangkau, meskipun tidak terjadi perubahan fisik pada bangunannya.

Ilustrasi apartemen. Foto: kumparan

Dengan kata lain, masalah yang dihadapi Jakarta bukan hanya kegagalan menyediakan hunian terjangkau, tetapi juga kegagalan mempertahankan hunian yang sudah dibangun agar tetap berfungsi sebagai hunian terjangkau bagi kelompok sasaran.

Kelas Menengah sebagai Blind Spot dalam Kebijakan Hunian

Fenomena ini paling nyata dirasakan oleh kelompok kelas menengah, khususnya kelas menengah bawah dan menengah awal. Dalam struktur kebijakan hunian yang ada saat ini, kelompok ini berada pada posisi yang kurang menguntungkan.

Kelompok berpenghasilan rendah masih memiliki akses terhadap berbagai skema bantuan dan subsidi hunian. Sementara itu, kelompok berpenghasilan tinggi relatif tidak bergantung pada kebijakan hunian untuk memenuhi kebutuhannya. Kelas menengah berada di antara keduanya: tidak memenuhi kriteria untuk menerima bantuan, tetapi juga tidak cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga yang terus terjadi.

Akibatnya, setiap peningkatan biaya yang bersumber dari desain regulasi dan standar bangunan secara langsung menekan kemampuan kelas menengah untuk mengakses hunian yang layak. Dalam konteks inilah kelas menengah menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kegagalan mempertahankan pasokan hunian terjangkau, meskipun sering kali tidak secara eksplisit menjadi sasaran kebijakan.

Persoalan Struktural: Ketika Hunian Diproduksi sebagai Produk Generik

Untuk memahami akar persoalan ini, penting untuk melihat bahwa banyak kebijakan hunian masih memperlakukan hunian sebagai produk generik yang harus memenuhi satu paket standar yang sama, terlepas dari siapa target penggunanya.

Dalam praktiknya, standar bangunan dan persyaratan perizinan cenderung disusun dengan asumsi kebutuhan dan gaya hidup yang relatif seragam. Padahal, kemampuan ekonomi, preferensi, dan pola hidup kelompok berpenghasilan rendah, kelas menengah, dan kelas atas sangat berbeda.

Ketika hunian untuk kelompok berpenghasilan terbatas diwajibkan memenuhi standar yang secara implisit dirancang untuk kelas yang lebih mampu, maka terjadi ketidaksesuaian antara produk hunian yang dihasilkan dan struktur kemampuan bayar target penggunanya. Di sinilah kegagalan pasar mulai terbentuk secara sistemik.

Kegagalan Pasar Hunian Terjangkau dari Perspektif Mikroekonomi

Dalam perspektif mikroekonomi, pasar hunian dapat dikatakan bekerja dengan baik apabila produk yang dihasilkan mampu mencerminkan preferensi konsumen dan kemampuan membayar masing-masing segmen, sehingga tercapai keseimbangan yang relatif stabil antara permintaan dan penawaran. Pada kondisi ini, harga berfungsi sebagai sinyal yang efektif, dan alokasi sumber daya mendekati optimal.

Hunian terjangkau, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah dan kelas menengah bawah, beroperasi dalam kondisi yang berbeda. Kelompok ini memiliki kendala anggaran (budget constraint) yang ketat dan tingkat toleransi yang rendah terhadap kenaikan harga. Dalam istilah mikroekonomi, kurva permintaan mereka relatif inelastis terhadap harga, terutama terhadap komponen biaya tetap yang bersumber dari regulasi dan standar bangunan.

Ilustrasi apartemen di Jakarta. Foto: kumparan

Ketika biaya produksi hunian meningkat, kelompok ini tidak memiliki ruang penyesuaian yang cukup. Kenaikan harga yang relatif kecil saja sudah cukup untuk mendorong mereka keluar dari pasar.

Pergeseran Penawaran akibat Kenaikan Biaya Struktural

Masalah mulai muncul ketika hunian yang ditujukan bagi segmen berpenghasilan terbatas diproduksi dengan spesifikasi dan paket sarana yang melebihi kebutuhan dasarnya. Dalam konteks Jakarta, kenaikan biaya ini umumnya tidak berasal dari mekanisme pasar murni, melainkan dari struktur biaya yang dibentuk oleh standar dan persyaratan bangunan yang bersifat generik dan berlaku seragam untuk semua segmen.

Secara mikroekonomi, kondisi ini dapat dijelaskan sebagai pergeseran kurva penawaran ke atas, sebagaimana diilustrasikan pada Grafik 1. Pada tingkat harga yang sama, jumlah hunian yang dapat disediakan untuk segmen sasaran menjadi lebih sedikit, sementara kurva permintaan kelompok sasaran tetap berada pada posisi yang sama karena kemampuan dan preferensi mereka tidak berubah. Akibatnya, titik keseimbangan pasar yang semula memungkinkan terjadinya transaksi hunian terjangkau tidak lagi tercapai.

Pada keseimbangan baru, harga meningkat dan kuantitas hunian yang dapat diakses oleh kelompok sasaran menyusut. Sebagian kelompok ekonomi bawah dan kelas menengah bawah terdorong keluar dari pasar sejak tahap awal, bukan karena ketiadaan unit secara fisik, tetapi karena harga minimum yang terbentuk melampaui kemampuan ekonominya. Dalam kondisi ini, intervensi berupa pembatasan harga atau subsidi kerap digunakan untuk menutup selisih biaya tersebut, sehingga hunian tetap dapat dipasarkan kepada segmen sasaran. Namun, subsidi pada tahap ini sesungguhnya hanya berfungsi sebagai penutup sementara atas struktur biaya yang tidak selaras dengan target penggunanya.

Grafik 1. Foto: penulis

Keterangan Grafik 1: Kenaikan Biaya Struktural dan Kegagalan Penyediaan Hunian Terjangkau

  • D₀: Kurva permintaan kelompok sasaran awal (MBR dan kelas menengah bawah).

  • S₀: Kurva penawaran awal hunian dengan spesifikasi minimal/tepat sasaran.

  • S₁: Kurva penawaran setelah kenaikan biaya akibat standar bangunan dan kewajiban sarana generik.

  • E₀: Titik keseimbangan awal (harga dan kuantitas masih terjangkau).

  • E₁: Titik keseimbangan baru (harga naik, kuantitas terjangkau menurun).

  • ΔC: Kenaikan biaya struktural akibat regulasi (cost push).

  • Subsidi: Selisih biaya yang harus ditutup agar harga transaksi tetap berada pada tingkat keterjangkauan.

Catatan: Grafik bersifat ilustratif untuk menjelaskan mekanisme ekonomi, bukan besaran numerik aktual.

Distorsi Sinyal Harga dan Masuknya Segmen Lain

Persoalan tidak berhenti pada tahap penyediaan. Ketika hunian untuk segmen berpenghasilan terbatas diproduksi dengan spesifikasi dan kelengkapan sarana yang semakin mendekati hunian kelas menengah, harga dan karakter produk tidak lagi mencerminkan target penggunanya. Dari sudut pandang mikroekonomi, kondisi ini menciptakan distorsi sinyal pasar (market signaling).

Hunian tersebut mulai dipersepsikan sebagai produk yang relevan bagi kelompok ekonomi menengah dan atas. Permintaan dari segmen di atas pun masuk, bukan karena adanya spekulasi, melainkan sebagai respons rasional terhadap kualitas dan kelengkapan produk yang tersedia. Kondisi ini tercermin dalam Grafik 2, di mana kurva permintaan bergeser ke kanan akibat masuknya konsumen baru dengan daya beli lebih tinggi, sementara kurva penawaran relatif tetap karena jumlah unit tidak berubah.

Dengan pergeseran permintaan tersebut, harga keseimbangan terdorong naik dan persaingan dalam pasar meningkat. Kelompok ekonomi bawah dan kelas menengah bawah semakin kalah bersaing, sehingga hunian yang semula dimaksudkan sebagai hunian terjangkau secara bertahap keluar dari segmen keterjangkauannya. Dalam kerangka ini, hunian tidak perlu mengalami spekulasi ekstrem untuk kehilangan keterjangkauannya; mekanisme pasar bekerja dengan sendirinya akibat desain produk dan standar yang tidak sensitif terhadap segmentasi pengguna.

Dua mekanisme ini—kenaikan biaya struktural pada tahap penyediaan dan distorsi sinyal pasar pada tahap pemanfaatan—menjelaskan mengapa hunian terjangkau di Jakarta tidak hanya sulit disediakan, tetapi juga sulit dipertahankan pasokannya dari waktu ke waktu.

Grafik 2. Foto: penulis

Keterangan Grafik 2: Distorsi Sinyal Pasar dan Kegagalan Mempertahankan Keterjangkauan Hunian

  • S₁: Penawaran relatif tetap (stok hunian tidak bertambah signifikan).

  • D₀: Permintaan kelompok sasaran awal.

  • D₁: Permintaan tambahan dari kelas menengah/atas akibat market signaling.

  • E₁: Titik keseimbangan awal pasar sekunder.

  • E₂: Titik keseimbangan baru setelah pergeseran permintaan.

  • E₁ → E₂: Kenaikan harga dan tekanan kompetisi akibat masuknya segmen baru.

Catatan: Grafik bersifat ilustratif untuk menjelaskan mekanisme ekonomi, bukan besaran numerik aktual.

Regulasi Bangunan, Struktur Biaya, dan Bias Desain

Regulasi bangunan bersifat deterministik: ketika suatu ketentuan ditetapkan, ia berlaku seragam dan wajib dipenuhi untuk memperoleh izin pembangunan. Dalam praktiknya, regulasi ini secara langsung membentuk struktur biaya minimum dari suatu proyek hunian. Masalah muncul ketika regulasi hanya mengenal satu paket standar bangunan yang berlaku untuk semua proyek, tanpa membedakan target kelas penggunanya. Kewajiban penyediaan sarana tertentu—akses kendaraan, parkir, dan fasilitas pendukung lainnya—secara kumulatif mendorong biaya pembangunan naik dan menjauh dari kemampuan ekonomi kelompok sasaran hunian terjangkau.

Salah satu manifestasi paling nyata dari pendekatan ini adalah keterkaitan antara kepadatan bangunan dan lebar jalan. Hunian berkepadatan tinggi umumnya hanya diizinkan pada ruas jalan dengan lebar tertentu, dengan alasan aksesibilitas dan keselamatan, termasuk akses kendaraan pemadam kebakaran. Pendekatan ini secara implisit mengasumsikan lingkungan hunian yang selalu berorientasi pada kendaraan bermotor. Padahal, untuk hunian yang ditujukan bagi kelompok berpenghasilan rendah dan kelas menengah bawah—yang sering kali tidak memiliki kendaraan pribadi—asumsi tersebut tidak sepenuhnya relevan.

Ilustrasi apartemen di Jakarta. Foto: kumparan

Akibatnya, banyak kawasan jalan lingkungan berlebar 5–6 meter yang strategis dan dekat pusat aktivitas justru tertutup dari potensi pengembangan hunian berkepadatan lebih tinggi sejak tahap perencanaan.

Persoalan keselamatan yang menjadi dasar pembatasan tersebut sejatinya sah dan tidak dapat dikompromikan. Namun, masalah muncul ketika akses kendaraan dijadikan satu-satunya proksi keselamatan. Dalam praktik perancangan, terdapat berbagai pendekatan berbasis kinerja yang dapat memberikan tingkat keselamatan setara—seperti hidran lingkungan, tangki air pemadam internal, sistem sprinkler, kompartemen bangunan, dan jalur evakuasi berbasis pejalan kaki. Pendekatan keselamatan berbasis kinerja membuka ruang fleksibilitas desain tanpa mengorbankan aspek keamanan, sekaligus mencegah regulasi keselamatan secara tidak langsung menaikkan struktur biaya dan menghambat penyediaan hunian terjangkau yang tepat sasaran.

Diferensiasi Sarana dan Penjagaan Segmentasi Pasar

Masalah mendasar lainnya terletak pada kewajiban penyediaan sarana yang bersifat generik, tanpa membedakan target kelas pengguna hunian. Sarana seperti parkir kendaraan bermotor, misalnya, sering kali diwajibkan tanpa mempertimbangkan apakah target penghuni memang memiliki atau membutuhkan kendaraan pribadi.

Keberatan yang kerap muncul—terutama dari sektor perhubungan—adalah bahwa bahkan pada hunian yang sudah menyediakan parkir pun, masalah parkir sembarangan tetap terjadi di badan jalan maupun di lingkungan sekitar. Dari sudut pandang ini, pengurangan atau penghapusan parkir dikhawatirkan justru akan memperburuk kondisi lalu lintas dan ketertiban lingkungan. Namun, argumen tersebut berangkat dari asumsi bahwa masalah parkir harus selalu diselesaikan dengan menambah kapasitas parkir.

Dalam pendekatan berbasis desain dan segmentasi pasar, logikanya justru berbeda. Di sinilah peran arsitek dan perancangan lingkungan menjadi krusial. Lingkungan hunian tidak netral: lebar jalan, ketersediaan parkir, jenis sarana pendukung, hingga tipologi unit secara langsung membentuk siapa yang tertarik untuk tinggal di dalamnya. Jalan lingkungan yang sempit, misalnya, bukan sekadar keterbatasan teknis, tetapi dapat berfungsi sebagai mekanisme penyaring. Jika akses jalan memang tidak memungkinkan untuk mobil, maka calon penghuni yang bergantung pada mobil pribadi secara rasional akan tersaring sejak awal.

Logika yang sama berlaku pada ketiadaan parkir dan sarana lainnya. Hunian tanpa parkir motor atau mobil tidak akan menarik bagi pemilik kendaraan pribadi, sebagaimana hunian tanpa taman bermain anak, TK, atau sekolah tidak akan dipilih oleh keluarga dengan anak. Demikian pula, unit bertipologi asrama dengan model kamar mandi komunal secara alami akan lebih cocok bagi individu lajang atau pekerja muda, dan tidak relevan bagi keluarga dengan dua atau tiga anak. Dalam konteks ini, desain bukanlah kekurangan yang perlu “ditambal”, melainkan alat seleksi pasar yang bekerja secara alami dan efektif.

Ketika hunian untuk kelompok berpenghasilan terbatas diwajibkan menyediakan sarana yang secara implisit mencerminkan gaya hidup kelas menengah, desain hunian tersebut tidak hanya menaikkan biaya pembangunan, tetapi juga mengirim sinyal yang keliru ke pasar. Hunian menjadi menarik bagi segmen ekonomi yang lebih tinggi, sehingga segmentasi pasar menjadi kabur dan keterjangkauan sulit dipertahankan. Sebaliknya, hunian dengan sarana terbatas bukanlah hunian bermutu rendah, melainkan hunian yang dirancang secara tepat sasaran. Diferensiasi standar dan sarana justru menjadi prasyarat untuk menjaga agar hunian tetap berada dalam segmen yang dituju.

Ilustrasi hunian. Foto: kumparan

Dari Regulasi Generik ke Regulasi Berbasis Segmen

Rangkaian pembahasan dalam artikel ini menunjukkan bahwa kegagalan hunian terjangkau di Jakarta bukan semata persoalan jumlah unit atau keterbatasan lahan, melainkan persoalan yang lebih mendasar: regulasi dan desain yang tidak menjaga segmentasi pasar. Ketika standar bangunan dan sarana diterapkan secara seragam, tanpa membedakan kemampuan ekonomi dan kebutuhan tiap kelompok pengguna, maka peningkatan kapasitas pembangunan hampir selalu diikuti oleh kegagalan mempertahankan keterjangkauan, terutama bagi kelas menengah bawah dan menengah awal.

Dalam konteks ini, regulasi bangunan dan desain arsitektur seharusnya tidak dipahami sebagai elemen teknis yang netral. Keduanya adalah instrumen kebijakan yang secara langsung membentuk struktur biaya, karakter produk, serta sinyal yang diterima pasar. Apabila instrumen ini tidak disusun secara sensitif terhadap segmen pengguna, pasar akan bekerja secara rasional—tetapi ke arah yang berlawanan dengan tujuan penyediaan hunian terjangkau.

Pergeseran pendekatan yang dibutuhkan bukanlah penurunan standar keselamatan atau kualitas, melainkan peralihan dari standar yang seragam menuju standar yang berbasis kinerja dan berbasis segmen. Keselamatan tetap dijaga, kualitas tetap dipenuhi, tetapi cara mencapainya disesuaikan dengan konteks, tipologi, dan profil penghuni yang dituju. Dalam kerangka ini, diferensiasi bukanlah pelemahan regulasi, melainkan prasyarat agar regulasi bekerja efektif.

Di sinilah peran arsitek, perencana, dan tim ahli bangunan menjadi strategis. Desain tidak hanya berfungsi membentuk ruang, tetapi juga membentuk pasar—menentukan siapa yang tertarik, siapa yang bertahan, dan siapa yang secara alami tersaring. Ketika desain dan regulasi diselaraskan untuk tujuan tersebut, hunian terjangkau tidak hanya dapat dibangun, tetapi juga dipertahankan keberadaannya dalam segmen yang tepat secara ekonomi dan sosial.