Konten dari Pengguna

Standar Sukses Usia 20 Itu Nyata atau Cuma Ilusi Medsos?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Steven Christian Abraham tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Pixabay.

TikTok dan Instagram, bagi banyak anak muda, adalah pelarian dari rutinitas dan tempat cari hiburan. Tapi coba perhatikan lagi isi FYP atau Reels kita: di antara konten hiburan, selalu ada saja video tentang "kesuksesan" — umur 20 sudah punya bisnis, penghasilan sendiri, sering traveling, punya mobil, menjalani gaya hidup tertentu. Kalau konten semacam ini muncul terus-menerus, lama-lama ia membentuk standar baru di kepala kita: kesuksesan harus dicapai sejak muda.

Yang Kita Lihat Cuma Potongan, Bukan Cerita Utuh

Di media sosial, yang tampil bukan cuma pencapaian — tapi juga liburan, makan di tempat mahal, barang branded, kendaraan bagus. Masalahnya, kita tidak pernah melihat gambaran utuhnya. Apakah itu hasil kerja keras sendiri, bantuan keluarga, atau memang kondisi ekonomi yang sudah mendukung sejak awal — kita tidak tahu. Dan wajar saja tidak ada yang mau menunjukkan sisi sulit atau saat sedang tidak punya uang; yang dibagikan memang hanya bagian yang ingin ditunjukkan.

Ketika konten seperti ini terus-menerus kita konsumsi dalam jumlah besar, otak kita pelan-pelan menganggapnya normal. Ditambah FOMO, muncul pikiran: "Kalau mereka bisa hidup seperti itu di usia muda, kenapa gue belum?" Dari situlah standar "usia muda harus sudah sukses" mulai terbentuk — bukan dari realita, tapi dari linimasa.

Standar Sukses yang Ikut Bergeser

Setiap orang sebenarnya punya definisi sukses masing-masing. Tapi setelah terus-menerus melihat pencapaian orang lain, standar itu ikut bergeser mengikuti apa yang normal di media sosial. Dulu, punya penghasilan sendiri saja sudah dianggap pencapaian. Tapi setelah melihat orang lain punya bisnis dan penghasilan besar di usia 20-an, pencapaian yang sama tiba-tiba terasa “kurang” — bukan karena benar-benar kurang, tapi karena tidak sesuai dengan gambaran sukses yang terus kita lihat.

Akhirnya kita bukan lagi mengejar apa yang benar-benar kita inginkan, tapi mengejar gambaran hidup yang terlihat sukses di media sosial.

Kapan Motivasi Berubah Jadi Tekanan?

Melihat pencapaian orang lain sebenarnya tidak selalu buruk — bagi sebagian orang, itu bisa jadi pemicu untuk berkembang atau mengejar target yang memang sudah diinginkan sejak awal. Tapi motivasi berubah jadi tekanan begitu kita mulai merasa harus mencapai hal yang sama karena takut tertinggal. Rasa “belum cukup” muncul terus, bahkan sampai merasa tidak berguna hanya karena belum berada di posisi yang sama dengan orang lain — padahal target itu belum tentu benar-benar milik kita sejak awal, bisa jadi hanya muncul karena terlalu sering melihat orang lain memilikinya.

Jadi masalahnya bukan pada keinginan untuk sukses di usia muda, melainkan ketika kesuksesan orang lain membuat kita merasa selalu tertinggal.

Media Sosial Bukan Musuh, Tapi Bukan Cermin Realita

Media sosial tidak perlu dihindari — ia tetap jadi ruang di mana orang bisa berbagi sisi baik dari hidup dan pencapaian mereka. Tapi penting diingat: apa yang kita lihat di sana hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang, bukan tolok ukur yang harus dikejar semua orang. Punya target sukses di usia muda tidak salah — tapi ada baiknya bertanya dulu, apakah target itu memang datang dari keinginan sendiri, atau sekadar lahir dari rasa takut tertinggal. Setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing.