Ketika Tafsir Menyamar Menjadi Fakta

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ade Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Ade Putra

Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, kita sering merasa sudah memahami sebuah peristiwa hanya karena melihat satu video, membaca satu unggahan, atau mendengar satu cerita. Kita lalu segera menilai, menunjuk siapa yang salah, dan menyusun kesimpulan. Padahal, yang kita lihat mungkin baru sebagian kecil dari kenyataan.
Fakta adalah apa yang terjadi. Tafsir adalah makna yang kita tempelkan padanya. Keduanya sering berjalan beriringan, tetapi tidak pernah benar-benar sama.
Seseorang melakukan suatu tindakan: itu fakta. Ia melakukannya dengan niat tertentu: itu tafsir. Sebuah dokumen ditandatangani: itu fakta. Penandatangan pasti memahami seluruh konsekuensinya: itu tafsir.
Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Sebab manusia jarang berhenti pada apa yang terlihat. Kita segera menghubungkan potongan peristiwa, mengisi bagian yang kosong, lalu menyusun cerita. Di titik itulah fakta yang netral dapat dibaca melalui emosi, kepentingan, pengalaman, dan prasangka kita.
Satu peristiwa bisa melahirkan dua cerita berbeda. Bukan karena faktanya berubah, melainkan karena setiap orang melihatnya dari posisi yang berbeda.
Yang satu melihat dari depan, yang lain dari belakang.
Yang satu berada di dalam peristiwa, yang lain hanya menyaksikannya dari kejauhan.
Karena itu, melihat sebuah fakta tidak otomatis berarti memahami seluruh kebenaran. Kita kerap berpegang pada satu potongan: sebuah video, dokumen, kesaksian, atau kalimat. Lalu, dengan penuh keyakinan, kita menyusun kesimpulan seolah-olah telah melihat keseluruhan peristiwa.
Padahal, mungkin kita baru membaca satu halaman dari buku yang sangat panjang.
Di sinilah perbedaan antara fakta dan tafsir menjadi penting.
Fakta mengatakan: seseorang melakukan suatu tindakan.
Tafsir kemudian mengatakan: tindakan itu dilakukan dengan maksud tertentu.
Fakta mengatakan: sebuah dokumen ditandatangani.
Tafsir kemudian mengatakan: orang yang menandatanganinya pasti memahami seluruh konsekuensinya.
Fakta mengatakan: seseorang berada di suatu tempat.
Tafsir kemudian mengatakan: berarti ia pasti terlibat dalam suatu peristiwa.
Padahal, kata "berarti", "pasti", dan "sengaja" sering kali bukan fakta, melainkan kesimpulan. Dan setiap kesimpulan membutuhkan pembuktian.
Dalam hukum, tafsir harus diuji, bukan sekadar dipercaya.
Karena itu, hukum tidak boleh hanya mengikuti cerita yang paling meyakinkan.
Hukum harus bertanya:
Apa faktanya?
Apa buktinya?
Bagaimana fakta itu diperoleh?
Apakah bukti tersebut dapat diuji?
Adakah fakta lain yang memberikan konteks berbeda?
Dalam hukum, persoalannya bukan siapa yang paling pandai bercerita atau paling banyak mendapat simpati. Persoalannya adalah bagaimana sebuah kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan fakta dan alat bukti yang tersedia.
Itulah sebabnya proses hukum penting. Proses hukum merupakan ruang untuk menguji keterangan, bukti, argumentasi, dan, yang tidak kalah penting, tafsir.
Kita semua cenderung mempercayai hal-hal yang sesuai dengan keyakinan yang telah lebih dahulu kita miliki.
Ketika menyukai seseorang, kita mudah memaklumi kesalahannya. Ketika tidak menyukainya, tindakan yang sama dapat kita baca secara berbeda.
Bukankah hal itu sering terjadi?
Kita tidak selalu mencari kebenaran. Kadang-kadang, kita hanya mencari pembenaran.
Di media sosial, tafsir yang belum teruji dapat berubah menjadi penghakiman.
Media sosial memperbesar persoalan itu.
Satu potongan video dapat menjadi viral.
Satu narasi dapat dibagikan ribuan kali.
Satu tuduhan dapat berubah menjadi penghakiman publik.
Sementara itu, fakta lengkapnya mungkin belum pernah benar-benar diperiksa.
Kita terlalu cepat menjadi hakim, jaksa, sekaligus penentu siapa yang salah dan siapa yang benar.
Padahal, kita tidak berada di ruang pemeriksaan, tidak membaca seluruh berkas, tidak mendengar semua keterangan, dan tidak mengetahui seluruh konteks.
Lalu, dari mana keyakinan kita berasal?
Dari fakta?
Atau dari cerita yang paling sesuai dengan keyakinan kita?
Pertanyaan ini penting bukan hanya dalam perkara hukum, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, sering kali konflik menjadi panjang bukan karena faktanya terlalu rumit, melainkan karena tafsir kita terlalu cepat.
Kita melihat seseorang diam, lalu menafsirkannya sebagai kesombongan.
Kita melihat seseorang pergi, lalu menafsirkannya sebagai pengkhianatan.
Kita melihat seseorang menangis, lalu menyimpulkan bahwa ia lemah.
Padahal, kita mungkin belum pernah bertanya:
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Menunda penghakiman adalah latihan keadilan sehari-hari.
Karena itu, kita perlu belajar untuk tidak terburu-buru mengubah apa yang kita lihat menjadi apa yang kita yakini.
Sebab fakta boleh netral, tetapi manusia yang menafsirkannya tidak selalu netral.
Ada pengalaman.
Ada kepentingan.
Ada emosi.
Ada prasangka.
Ada luka.
Semua itu dapat memengaruhi cara kita membaca sebuah peristiwa.
Menjadi dewasa bukan hanya berarti mampu melihat fakta. Menjadi dewasa juga berarti memiliki kerendahan hati untuk berkata:
"Saya mungkin belum mengetahui seluruh ceritanya."
Kebenaran tidak selalu berada pada suara yang paling keras atau narasi yang paling viral. Kebenaran menuntut sesuatu yang lebih sederhana: kesediaan untuk memeriksa fakta sebelum menyimpulkan.
Sebelum mempercayai sebuah tuduhan, periksa sumbernya. Sebelum menyebarkan sebuah cerita, periksa konteksnya. Sebelum menjatuhkan penilaian, pastikan bahwa yang kita pegang benar-benar fakta, bukan tafsir yang menyamar sebagai kepastian.
Di tengah dunia yang semakin cepat menilai, memeriksa fakta bukan sekadar sikap hati-hati. Ia adalah bentuk tanggung jawab, penghormatan terhadap kebenaran, dan keadilan bagi mereka yang mungkin telah dihakimi terlalu cepat.
Sebelum bertanya,
"Siapa yang salah?"
barangkali pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apa sebenarnya yang kita ketahui sebagai fakta, dan sudahkah kita memeriksanya sebelum menyimpulkan?"
