Sedikit Tantangan dari Pengalaman Memelihara Kucing

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada
Tulisan dari Syifa Maulida Hajiri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hewan peliharaan seringkali menjadi salah satu teman terbaik manusia. Terkadang mereka juga menjadi sumber hiburan di kala suntuk dan stres. Namun, hewan peliharaan tak jarang memberikan tantangan tertentu bagi pemilikinya.

Awal Mula Memelihara Kucing
Saya mulai memiliki hewan peliharaan sekitar dua tahun yang lalu. Awal pandemi dirasa menjadi waktu yang tepat bagi keluarga saya untuk memiliki hewan peliharaan. Pada awalnya saya hanya memelihara satu kucing saja. Kucing campuran jenis Persia dan Maine Coon berwarna putih, yang saat itu berusia kurang lebih tiga bulan. Lambat laun, keinginan untuk menambah kucing di rumah mulai muncul. Satu kucing lagi kemudian menjadi penghuni baru di rumah dan jumlah ini terus bertambah.
Saat Hewan Peliharaan Mulai Membuat Pusing
Kucing pertama saya sangat jarang membuat ulah. Waktu awal memelihara kucing pertama ini saya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti. Hanya saja satu masalah yang dimiliki kucing pertama ini adalah kerontokan bulu. Bulu kucing akhirnya banyak bertebaran di rumah. Mulai dari sofa hingga lantai, hampir semua tempat dihiasi bulu kucing. Yang membuat saya kesal adalah, bulu-bulu ini pasti menempel di baju. Ketika akan keluar, terkadang saya tidak percaya diri dan merasa risih dengan bulu-bulu di baju itu.
Kucing pertama saya semakin besar. Ia jadi semakin aktif. Tenaganya semakin kuat. Masalah baru mulai muncul. Kucing pertama saya jadi sering kabur dari rumah. Setiap ada pintu rumah yang terbuka, ia langsung berlari pergi dari rumah. Saya dan keluarga pasti langsung mengejarnya. Kami yakin kalau dia kabur pasti sudah tidak akan kembali lagi. Kucing pertama ini kucing yang paling disayangi keluarga. Ia sangat dekat dengan adik saya. Setiap kali ia kabur, adik saya langsung menangis kencang dan mengamuk. Hal itu kemudian membuat keluarga saya sangat tertekan dan stres.
Kucing kedua saya benar-benar memberikan tantangan baru. Dia sering buang air sembarangan, tidak pada tempatnya. Kemungkinan hal itu memang sudah menjadi kebiasaannya juga saat bersama pemilik yang sebelumnya. Selain itu, keluarga saya sempat kebingungan melihat tekstur kotorannya yang selalu cenderung cair seperti diare. Saya dan keluarga berusaha menemukan penyebab masalahnya. Kami beberapa kali mengganti makanannya untuk menemukan yang cocok. Namun, tidak terjadi perubahan yang signifikan. Karena tidak kunjung berubah, akhirnya kami menyerah dan memaklumi hal itu.
Kedua kucing saya akhirnya bereproduksi dan menghasilkan anak-anak kucing. Pada kelahiran pertama, lahir seekor anak kucing. Sementara itu, pada kelahiran kedua lahir empat ekor anak kucing. Saya sangat senang dengan anak-anak kucing. Mereka lebih menggemaskan dibandingkan jika sudah menjadi kucing dewasa. Sayangnya, kami tidak bisa memelihara semua anak kucing itu karena biaya yang dikeluarkan semakin banyak. Anak-anak kucing itu kemudian diadopsi oleh orang lain. Saat berpisah dengan anak-anak kucing itu menjadi berat bagi saya karena saya masih senang-senangnya bersama mereka.
Bagi saya, memelihara kucing ataupun peliharaan lainnya memberikan beban tertentu. Beban pikiran menurut saya adalah yang paling berat. Seringkali kita terus-menerus terpikir akan hewan peliharaan kita saat sedang tidak di rumah. Memikirkan apakah mereka baik-baik saja atau tidak. Hingga ketakutan jika mereka kabur dari rumah.
