Konten Media Partner

Berikut Data Teknis Jembatan di Tuban yang Ambruk

Suara Banyuurip

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Jembatan ambruk di Tuban (Foto: ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)
zoom-in-whitePerbesar
Jembatan ambruk di Tuban (Foto: ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

SuaraBanyuurip.com - Ali Imr

Bojonegoro - Jembatan penghubung Babat, Kabupaten Lamongan dengan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang ambruk pada Selasa (17/4/2018) sekitar pukul 11.00 WIB, merupakan jembatan cincin lama. Jembatan ini pernah mengalami kerusakan pada Oktober 2017 dan selesai dilakukan perbaikan di bulan yang sama.

Namun belum genap enam bulan, jembatan yang diresmikan pada 1983 itu patah. Ambruknya jembatan ini ditengarai karena tiang jembatan bergeser akibat hempasan arus sungai Bengawan Solo.

"Karena wilayah hulu banyak penambang pasir tradisional ilegal, akhirnya tiang jembatan geser dan akhirnya ambruk," ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Tuban, Muji Slamet, kepada suarabanyuurip.com di sela waktu meninjau lokasi. 

Sesuai data yang diperoleh suarabanyuurip.com, jembatan ini merupakan jembatan rangka baja callender hamilton dengan panjang total kurang lebih 260 meter yang melintas di atas Sungai Bengawan Solo. Jembatan tersebut terletak di Km 72+240 ruas jalan nasional dan termasuk dalam jaringan jalan lintas utara provinsi Jawa Timur yang menghubungkan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Lamongan. (aim)

Berikut data teknis jembatan tersebut:

Lokasi: Ruas Tuban-Widang (Km Sby 72+240)

Bangunan atas: Rangka baja Callender Hamilton (Type A)

Panjang jembatan: 260 meter (55+55+55+55+40)

Lebar jembatan: 7 meter (belum termasuk trotoar kanan dan kiri)

Bangunan bawah: Pondasi tiang pancang beton