Konten Media Partner

Lapangan Banyu Urip Sumbang Pendapatan Negara Rp4,5 Triliun/bulan

Suara Banyuurip

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lapangan Banyu Urip Sumbang Pendapatan Negara Rp4,5 Triliun/bulan
zoom-in-whitePerbesar

Senior Vice President ExxonMobil, M. Nurdin saat menyampaikan capaian produksi Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu.

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro - Pengembangan Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu, di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), telah memberikan pendapatan besar kepada negara. Jumlahnya mencapai USD 325 - 350 juta per bulan.

"Kalau itu dirupiahkan sebanyak 4.500 miliar atau 4,5 triliun rupiah setiap bulannya. Itu semua masuk ke kas negara," kata Senior Vice President ExxonMobil, Mohammad Nurdin saat malam Silaturahmi Banyu Urip bertajuk "Kemitraan Sejati Membangun Bojonegoro" di Aston Hotel Bojonegoro, Rabu (24/7/2019).

Revenue tersebut dari hasil produksi minyak mentah Banyu Urip. Saat ini produksinya mencapai 225 ribu barel per hari (bph), atau setara 32 juta liter per hari.

"Itu kurang lebih 30% dari total produksi minyak nasional," ucap pria asal Mojokerto, Jawa Timur, yang sudah 21 tahun bekerja di ExxonMobil itu.

Capaian produksi ini menjadikan Lapangan Banyu Urip menjadi produsen terbesar minyak di Indonesia. Produksi minyak Banyu Urip terus mengalami peningkatkan signifikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Pada Oktober 2016, produksi minyak Banyu Urip masih sebesar 185 ribu bph. Kemudian meningkat pada Januari 2017 menjadi lebih dari 200 ribu bph.

Produksi tersebut kembali meningkat pada April 2018 dari 210 ribu bph menjadi 212 ribu -215 ribu bph, dan Desember 2018 meningkat lagi menjadi 220 ribu bph, hingga sekarang sebesar 225 ribu bph.

"Desain awal fasilitas Banyu Urip hanya 185 ribu bph. Tapi berkat kerja keras teman-teman di lapangan dengan memperhatikan faktor keselamatan dan lingkungan, semua ini bisa dicapai," tegas pria yang sebelumnya menjabat Vice President EMCL itu.

Prestasi dari segi produksi ini, tambah Nurdin, didukung dengan keselamatan di Lapangan Banyuurip. Tercatat, sejak 2016 tidak ada kecelakaan baik kepada karyawan, lingkungan dan masyarakat sekitar.

"Bagi kami itu hal yang penting," tandasnya.

Namun demikian, Negara Indonesia masih sangat memerlukan minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sehingga impor dari luar negeri. Oleh karena itu diperlukan memproduksi minyak lebih banyak lagi di dalam negeri agar devisa pembelian minyak impor bisa dikurangi.

Asisten II Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Pemkab Bojonegoro, Setyo Yuliono, mengakui jika produksi minyak Banyu Urip telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan APBD Bojonegoro.

"Biasanya pada triwulan ke empat kita tidak mendapat transferan dana bagi hasil migas, tapi tahun lalu dapat," sambungnya.(suko)