news-card-video
30 Ramadhan 1446 HMinggu, 30 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten Media Partner

Reaksi Mantan Bupati Haeny di Depan Cagub Khofifah

21 Maret 2018 3:21 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:10 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
SuaraBanyuurip.com - Ali Imron
Reaksi Mantan Bupati Haeny di Depan Cagub Khofifah
zoom-in-whitePerbesar
FOTO BERSAMA : Mantan Bupati Tuban, Haeny (berkacamata) mendukung Khofifah sebagai Gubernur Jatim.
ADVERTISEMENT
Tuban- Di sela-sela agenda kampanye Calon Gubernur (Cagub) Jatim nomor urut 1 di Yayasan Pondok Pesantren Yan'buul Ulum di Desa Sumurgung, Kecamatan/Kabupaten Tuban, mantan Bupati Tuban, Jawa Timur, Haeny Relawati Rini Widyastuti, langsung bereaksi saat berhadapan dengan Cagub Khofifah Indar Parawansa. Sebagai perempuan pertama yang mampu memimpin Tuban selama dua periode, Haeny juga sedikit banyak membeberkan strategi pemetaan suara di 20 kecamatan.
Sebagai Bupati Tuban yang ke-51, dia meminta Khofifah untuk optimis menang di pesta demokrasi yang dihelat tanggal 27 Juni 2018 mendatang. Tim relawan di Bumi Wali (sebutan lain Tuban) pendukungnya sebenarnya jauh lebih besar, dibandingkan dengan yang dikenal maupun yang diketahui mantan Menteri Sosial (Mensos) era Presiden Jokowi itu.
ADVERTISEMENT
"Mereka orang-orang pinggiran yang bekerja tulus dan ikhlas untuk kemenangan Cagub nomor urut 1," ujar Haeny dengan lantang dihadapan Khofifah, Waranggono, Dalang, dan pegiat seni lainnya di Tuban, Selasa (20/3/2018).
Sebagai Bupati Tuban pertama yang dipilih langsung oleh rakyat ini bersaksi, jika Khofifah merupakan sosok pemimpin yang baik. Tak hanya berpeluang menang pada Pilgub Jatim, namun juga menciptakan peluang kesejahteraan bagi masyarakat.
Politikus dari Partai Golkar itu juga terus menyebut Cagub dengan nomor urut 1, dan tak ingin peduli dengan nomor setelahnya. Dengan lugas, dia menyindir pihak yang suka nyinyir kenapa Khofifah sudah jadi Mensos tapi masih berambisi turun menjadi Gubernur Jatim.
"Isu di lapangan Bu Khofifah Kemaruk, tapi tidak bagi saya," seru perempuan yang pernah menjabat Ketua DPRD Tuban masa jabatan 1999-2000.
ADVERTISEMENT
Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menilai itulah bukti kelapangan wawasan dan pengalaman Khofifah. Sebagai sesama perempuan, Heany merasakan betul keresahan yang dialami oleh Cagub kelahiran Surabaya itu.
Keresahan yang dialami Cagub diantaranya, adanya potensi lahan pertanian yang belum digarap secara optimal, maupun kerajinan di 38 Kabupaten/Kota di Jatim. Selain itu, di Tuban sendiri ada 87 motif batik yang sudah dipatenkan di era Heany menjadi Bupati Tuban.
"Di kesempatan inilah Khofifah akan merinci lagi potensi tersebut," tegas perempuan yang menyandang gelar magister Ilmu Politik UGM.
Pada kesempatan ini, perempuan berkacamata itu meminta para pegiat seni dan budaya Tuban tidak hanya cukup mendukung kemudian meminta sesuatu kepada Cagub nomor urut 1. Umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, oleh karena itu setiap pilihan akan menentukan nasib warga Jatim satu periode ke depan.
ADVERTISEMENT
Dalam istilah Jawa, ada Deso Mowo Coro, lan Kuto Mowo Toto. Artinya di 311 desa dan 17 kelurahan di Tuban memiliki tradisi masing-masing serupa manganan sedekah bumi. Di samping itu, para Waranggono juga harus berdoa dan meminta Cagub Khofifah melestarikan siraman wisuda sindir.
Perlu diingat, bangsa yang besar dan makmur itu tak pernah meninggalkan budaya dan tradisinya. Oleh karena itu, saat inilah waktu yang pas untuk menaruh harapan pemimpin Jatim mendatang tak lupa melestarikan pertananian, kerajinan, dan kebudayaan Tuban.
"Jangan hanya cukup dijanjikan tempat latihan seni dan budaya, tapi setelah itu vakum," sindirnya kemudian diikuti gelak tawa para seniman.
Potensi seni budaya, dan kerajinan Tuban sebenarnya mampu go internasional. Untuk memiliki nilai ekspor, tidak perlu menggunakam bahasa asing. Bahasa Jawa telah menjadi salah satu identitas bangsa, ditambah adat istiadat budaya itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Di pesta demokrasi tahun ini, masyarakat perlu mengevaluasi dan mengingat bagaimana hasilnya jika cuma sekedar memilih pemimpin. Soal memenangkan calon merupakan hal mudah, yang terpenting bagaimana keberlanjutan programnya untuk masyarakat.
"Jika Khofifah berniat baik mari kita amini, kalau lupa harus diingatkan," pinta ibu empat anak ini.
Menanggapi reaksi tersebut, Khofifah berterimakasih kepada Heany yang menyempatkan waktunya datang di titik kampanyenya di Desa Sumurgung. Sebagai mantan Bupati Tuban periode 2001-2011, pasti memiliki peta untuk memenangkan pasangan Khofifah-Emil.
"Jatim ke depan harus Harmony," sergah pesaing dari pasangan Gus Ipul-Puti itu.
Jatim harmony intinya harus ada harmony diantara lintas-lintas. Diantaranya ada dialog antara seniman dengan produk seninya. Ada dialog antara budayawan, dengan budayanya. Ada dialog intern antar umat beragama. Terakhir ada dialog antar generasi, dan semua itu masuk dalam kerangka Jatim harmony.
ADVERTISEMENT
Dia mengakui belum semua tokoh di Jatim ditemui dan dimintai restu. Sampai saat ini baru tokoh Suku Tengger, pemangku adat Reog Ponorogo, tokoh pewaris Kerajaan Majapahit, dan tokoh pewaris Kerajaan di Madura yang disapanya.
"Memang belum semuanya tapi saya sudah menyicil," imbuhnya.
Selama bertemu dengan pegiat seni budaya di Jatim, sebenarnya setiap paguyuban atau kelompok keinginan simpel. Diantaranya cukup meminta perhatian dengan disediakan tempat latihan atau ruang berekspresi.
Kondisi ini dinilai ada rantai komunikasi yang putus, tapi entah ada dititik yang mana. Dijanjikan melalui sembilan program unggulannya, masa depan seni budaya akan meningkat demi kesejahteraan masyarakat.(Aim)
Sumber Berita Utama : http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/reaksi-mantan-bupati-haeny-di-depan-cagub-khofifah