Konten Media Partner

Sejak 1990, Kyai Kusma Geluti Kesenian Barongsai

22 Februari 2018 16:30 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:11 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
ADVERTISEMENT
SuaraBanyuurip.com - Ali Imron
Tuban - Menjadi berbeda jika seorang tokoh agama atau kyai menggeluti kesenian barongsai dan naga liong untuk menyebarkan agama dan kebajikan di Dusun Penebusan, Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
Sejak 1990 sampai sekarang, guru agama yang juga pesilat kungfu itu menjadi satu-satunya pengrajin kesenian Cina di Bumi Wali (sebutan lain Tuban).
"Saat masih muda saya terinspirasi film Jet Li yang memainkan Barongsai," ujar Kyai Kusma (47), saat ditemui suarabanyuurip.com, di tempat latihannya di desa yang menjadi jalur lintas pipa minyak dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu menuju FSO Gagak Rimang Utara Tuban, Kamis (15/2/2018).
Berkat keinginan yang kuat, dibelilah Barongsai pertama di Kabupaten Bojonegoro. Tak berhenti disitu, pria yang lahir di Tuban 28 Maret 1971 juga ingin memiliki barongsai lebih banyak. Perlahan dan tekun, membawanya bisa membuat sendiri barongsai dan liong naga.
Diakuinya, proses dakwah menggunakan kesenian Cina tidaklah mudah. Di awal perjuangannya, masyarakat sekitar tidak mempersoalkannya. Yang jadi tantangan, ketika tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang kurang setuju barongsai menjadi media dakwah.
ADVERTISEMENT
"Waktu itu ramai dibahas di forum Bahtsul Masail tingkat kecamatan," terang pria yang menyelesaikan studi Sarjana Hukum (SH) di Lamongan itu.
Lebih dari itu, persoalan barongsai juga ditanyakan ke Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan di Kecamatan Widang dan wilayah Jawa Timur. Saat itu, Kusma menjelaskan semua media dakwah harus dikembalikan pada niat. Selama niatnya baik tentu tidak ada masalah.
Sebaliknya jika dikatakan meniru kesenian umat non muslim, sejak dulu umat muslim juga menggunakan produk luar. Diantaranya pakaian yang dulunya banyak memakai sarung, sekarang sudah beralih menggunakan celana.
"Itu juga sama bukan produk muslim," jelasnya.
Ketekunan dan niat baik mendirikan barongsai, kini telah menarik puluhan pemuda untuk belajar agama. Sekaligus berlatih silat kungfu kelompok Kera Sakti, dan kesenian diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17 ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan.
ADVERTISEMENT
"Pesilat muda di Plumpang diarahkan ke kesenian bukan berkelahi," tambahnya.
Lebih dari 15 tahun menggeluti barongsai, sekarang Kusma memiliki koleksi tujuh buah barongsai, dan dua buah liong naga. Sedangkan, kerajinan tangannya telah menyebar di kabupaten/kota di Jatim, Jateng, bahkan sampai luar Jawa.
Untuk menyelesaikan satu barongsai, paling cepat butuh waktu sepekan. Harganya kisaran Rp2,5 sampai Rp3 juta untuk barongsai bulu sintetik. Sementara untuk bulu domba, dibandrol harga Rp4 sampai Rp4,5 juta. Apabila ada pesanan liong naga, biasanya dihargai Rp6,5 juta per buah.
"Alhamdulillah sebulan ada 2-3 barongsai yang terjual," imbuhnya.
Selain membuat barongsai, anak asuhnya juga kerap tampil di beberapa even. Mulai kegiatan di daerah, festifal di Jogja, sampai ke even olahraga nasional.(Aim)
ADVERTISEMENT