Konten Media Partner

Siswa SMA 1 Tuban Ditemukan Gantung Diri

Suara Banyuurip

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Siswa SMA 1 Tuban Ditemukan Gantung Diri
zoom-in-whitePerbesar

GEMPAR : Warga sekitar memadati TKP siswa SMA 1 Tuban meninggal gantung diri.

Tuban- Dunia pendidikan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, hari Jumat (27/7/2018) sedang berduka. Tepatnya lima hari setelah mendapatkan penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA), salah satu siswa SMA 1 Tuban bernama Rahmad Noval Atthoriq (17) ditemukan meninggal dengan cara gantung diri di rumah bibiknya di Perumahan Cokroaminoto, Blok A nomor 34, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding.

Bibiknya bernama Mujayanah lemas tak berdaya, saat melihat keponakannya sudah tidak bernyawa tergantung kaku di salah satu pintu rumahnya. Dia tak menyangka, korban menghadap ke Illahi secepat ini.

Kepada suarabanyuurip.com, Mujayanah sembari berlinang air mata menjelaskan, kalau korban dikenal aktif kegiatan di sekolahnya. Pelajar yang semangat berorganisasi tersebut, aktif di ekstra Pasukan Pengibar Bendera Khusus (Pasgasus) SMA unggulan di Jalan Pahlawan Tuban.

"Keponakan saya tinggal sendiri, karena rumah ini belum ditempati olehnya," ujar saksi pertama korban meninggal.

Dijelaskan, kalau hari Jumat dan Sabtu biasanya pihaknya ikut tidur ke rumahnya yang dekat dengan Pasar Sapi Tuban ini. Selepasnya kembali ke aktifitas semula, dan korban yang lahir di Desa Dahor, Kecamatan Grabagan tinggal sendiri sehari-harinya.

"Rencana mau tidur disini, karena biasanya begitu," jelasnya kepada awak media di lokasi kejadian.

Usai melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Kapolsek Semanding, AKP Desis Susilo, belum mengetahui motif bunuh diri dari siswa SMA unggulan di Bumi Wali ini. Dugaan kuat pelajar itu nekat mengakhiri hidupnya karena depresi. Dikabarkan sebelumnya sering mengeluh sakit dibagian kemaluan pasca menjalani operasi.

"Keterangan bibiknya, korban ini pernah operasi, dan sering mengeluh sakit setelah aktifitas berat, dugaan kuat depresi karena itu," sergah Desis.

Hasil pemeriksaan petugas medis, tidak ditemukan tanda penganiayaan ditubuh korban. Atas dasar pemeriksaan itu, kasus kematian remaja ini murni dipastikan bunuh diri.

Mendengar kabar duka, Kepala Sekolah SMA 1 Tuban, H. Mukti, M.Pd, sangat terpukul dan tak menyangka anak asuhnya harus mengakhiri hidupnya dengan cara tak wajar. Selama ini siswa tersebut aktif di Ekstra Pasgasus.

"Iya itu siswa kami, dan aktif di Pasgasus," terangnya.

Saat dikonfirmasi Suara Banyuurip, Wakil Ketua Komisi C DPRD Tuban, Tri Astuti, sangat prihatin dengan kejadian ini. Padahal pendidikan karakter dan akhlak mulia sudah di tanamkan dalam dunia pendidikan kita.

Bahkan di Kabupaten Tuban, pendidikan agama merupakan titik awal dari pembentukan karakter anak-anak kita. Ini semua dimaksudkan bahwa agar anak-anak memiliki pondasi yang kuat, di dalam membentuk karakter diri dengan berbasis pada ajaran agama.

"Dengan kejadian ini tentunya saya berharap tidak terulang kembali," harap politisi Gerindra Tuban.

Sebagaimana kita ketahui, bunuh diri adalah tindakan yang tidak terpuji dan agama apapun melarangnya. Pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, antara guru dan siswa juga antara guru dan orang tua. Tentunya menjadi media yang baik untuk mengetahui perkembangan siswa, baik itu permasalahan yang dihadapi prestasi yang diraih maupun solusi yang terbaik.

Tuban Layak Anak baru saja kita raih, bahkan Perdanya juga sudah mulai kita godok. Untuk itu, harapannya kejadian seperti ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita smua. Permasalahan anak haruslah kita tau, dan komunilasi dan keterbukaan sangatlah penting.

"Sebagai orang tua sesibuk apapun kita jangan pernah kita cuekin anak, dan sebaiknya kita didik anak-anak kita untuk terbuka dengan kita melalui komunilasi yang baik," terang Astuti sapaan akrabnya.

Siswa yang bunuh diri ini, diduga sedang mengalami depresi yang sangat berat. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali, dan keluarga yang ditinggalkan di berikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan.

Bulu kuduk Direktur LSM Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, Nunuk Fauziyah, langsung berdiri ketika mendengar kabar siswa SMA 1 gantung diri. Peristiwa ini harus disikapi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, yang baru saja menerima penghargaan KLA dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise pada 23 Juli 2018 kemarin.

"Besok kita akan lakukan advokasi ke rumah keluarga korban di Grabagan," janji aktivis perempuan yang getol memperjuangkan hak perempuan dan anak.

Nunuk sapaan akrabnya, menjelaskan, ada empat indikator yang perlu disoroti yakni, indikator keluarga, sekolah, sosial, dan ekonomi. Bagaimana korban di sekolah, bagaimana hubungan dengan keluarga, bagaimana temannya di sekolah maupun di lingkungan bermainnya, dan terakhir bagaimana kondisi ekonomi keluarganya.

Atas peristiwa ini, KPR meminta Pemkab Tuban memberikan perhatian lebih kepada anak-anak. Karena anak bukan hanya sebatas komoditi yang berkewajiban sekolah, tapi juga harus mengikuti aturan di keluarganya.

Pemkab jangan abai, dan jangan hanya memberi perhatian sebatas sosial dan ekonominya. Dikarenakan anak-anak millenial sekarang ini, memiliki kebutuhan yang nyaris sama dengan orang dewasa.

"Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi Pemkab setelah menerima KLA," pungkas mantan aktivis PMII Tuban. (Aim)