Konten dari Pengguna

TKA yang Memerdekakan

Muh Adnin

Muh Adnin

Alumni Universitas Bhayangkara Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muh Adnin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : kemendikdasmen
zoom-in-whitePerbesar
sumber : kemendikdasmen

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini mulai berlaku diperuntukkan bagi siswa siswi di Indonesia. Melalui Kementerian Pendidikan Dasar & Menengah (Kemendikdasmen), kebijakan ini dihadirkan guna melihat sejauh mana target pembelajaran yang diraih oleh siswa selama menempuh pendidikan. Secara nasional, hasil dari TKA nantinya digunakan sebagai dasar dalam melakukan Evaluasi Pembelajaran yang akan dilangsungkan pada periode berikutnya.

Pelaksaan TKA diperuntukan bagi siswa kelas 6, 9, 12 & kelas 13 (bagi SMK Program 4 tahun) di masing-masing jenjang pendidikan. (Detik.com, 2025). Meskipun demikian, di tahun 2025 ini pelaksanaannya hanya diperuntukkan bagi jenjang SMA sederajat. Dikutip dari laman Kemendikdasmen, tujuan TKA antara lain; memetakan capaian akademik siswa secara adil, terukur, dan kredibel, serta memberikan informasi tentang kemampuan berpikir, termasuk pemahaman dan penalaran. (Kemendikdasmen, 2025).

Bersifat Reflektif

Karena sifatnya yang menyeluruh, peranan TKA tentu nantinya begitu sentral, apalagi hasilnya akan meninjau capaian pendidikan secara nasional. Namun kedudukannya justru bukan sebuah kewajiban, TKA bakal dijalani bagi siswa yang memang berminat melakukannya, bagi yang enggan, pilihannya tidak akan meninggalkan beban konsekuensi. Bagi mereka yang berminat, hasil TKA tetap akan diakui secara absah, hasil TKA menjadi salah satu komponen penilaian dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SMPB) untuk pendidikan selanjutnya, seperti SD ke SMP dan SMP ke SMA. (Devi Lianovanda, 2025).

Konsepsinya lebih kepada upaya reflektif, bukan sekedar kewajiban administratif. Dibandingkan dengan asasment atau ujian yang seringkali bersifat wajib, TKA adalah upaya keberpihakan mekanisme evaluasi pendidikan agar lebih condong kepada siswa. Dalam TKA, setiap siswa nantinya akan menekankan diri pada nilai-nilai positif seperti kejujuran (atas pilihannya mengikuti TKA atau tidak) dan penuh Integritas (atas perilaku dan komitmen melaksanakan TKA dengan penuh tanggung jawab).

Sumber: Pixabay.com

Ujian yang Memerdekakan

Dalam pendidikan yang baik, ketersediaan ruang dan kesempatan yang inklusif guna mengembangkan potensi diri setiap siswa adalah ihwal pokok. Sekolah sebagai sebuah metode tidak hanya menjadi ajang yang menerapkan sebuah sistem 'pemberlajaran' secara kaku, tapi juga bersifat responsif pada kebutuhan siswa. Siswa yang memiliki kecenderungan pada potensi keterampilan kretatif seperti olahraga, seni dan berbagai kegiatan fisik tentu akan berbeda dengan mereka yang lebih suka dengan kegiatan akademik yang seringkali berkutat dengan aktifitas tekstual.

Tiap pribadi memiliki karakter yang berbeda pula. Dengan demikian, alat ukur dalam pembelajaran yang telah dilakukan juga meski berbeda. Dengan alat ukur yang berbeda inilah, nantinya hasil dari pembelajaran mampu dilihat secara mendetail. TKA yang bersifat opsional berusaha mengakomodasi konsepsi tersebut, karena sifatnya yang non wajib bagi siswa nantinya menjadi mereka baik siswa yang cakap secara akademik maupun kreatif secara non akademik sama kedudukannya. Bagi siswa yang hendak mengikuti TKA, hasilnya juga bisa diakui sebagai alat ukur seleksi masuk perguruan tinggi. Sedang bagi mereka yang tidak ikut serta, tidak akan akan kesan yang mendeskreditkan kedudukan.

Wujud pendidikan yang memerdekakan adalah dimana pendidikan mampu memberikan kebebasan, dan memberdayakan murid untuk mengembangkan potensi mereka secara holistik. Pendidikan yang memerdekakan bertujuan untuk mengatasi segala bentuk penindasan dan keterbelakangan, serta memberikan akses yang adil kepada semua murid. Pendekatannya mencakup pemberdayaan murid, penghormatan terhadap keberagaman, dan penerapan strategi pembelajaran yang memerdekakan. Selain itu, pendidikan juga harus mempromosikan keterampilan sosial dan emosional, serta nilai-nilai seperti kesetaraan, toleransi, dan saling menghormati TKA juga berupaya memberikan keabsahan hasil belajar yang telah dilakukan. (Silvia Wardani, dkk; 2023)