Mengapa Perempuan Terpikat Adegan Keintiman di The Early Spring?

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Jaya
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Suci Marini Novianty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa pekan terakhir, The Early Spring menjadi salah satu drama China yang banyak diperbincangkan penonton Indonesia. Di media sosial, diskusi tentang serial ini tidak hanya berkisar pada alur cerita, akting para pemain, atau akhir kisah yang ditunggu-tunggu. Hubungan antara Zhitao dan Luan Nian justru menjadi magnet utama percakapan. Banyak penonton mengaku ikut larut, gemas, bahkan frustrasi mengikuti dinamika keduanya.
Fenomena ini menarik untuk dibaca dari perspektif komunikasi. Mengapa hubungan dua tokoh fiksi mampu memunculkan keterlibatan emosional yang begitu kuat, khususnya di kalangan penonton perempuan?.
Keintiman yang Tumbuh dari Konflik
The Early Spring berkisah tentang Zhitao, lulusan baru yang bekerja di sebuah biro iklan di Beijing, dan Luan Nian, atasannya yang dingin, perfeksionis, dan sulit mengungkapkan perasaan. Relasi mereka berkembang di tengah tuntutan pekerjaan, ambisi profesional, perbedaan posisi, serta berbagai kesalahpahaman yang membuat hubungan keduanya berjalan tidak mulus. Kedekatan yang muncul tidak terjadi secara instan, tetapi melalui rangkaian konflik dan proses emosional yang panjang.
Mungkin, di sinilah letak daya tarik utamanya. Penonton tidak sekadar menyaksikan dua orang jatuh cinta. Mereka mengikuti perjalanan rumit yang mengantar kedua tokoh menuju titik tersebut.
Dalam kajian komunikasi, kondisi ini dapat dipahami melalui teori uses and gratifications yang memandang khalayak sebagai pihak aktif dalam memilih media (1974). Penonton datang membawa kebutuhan tertentu, mulai dari hiburan, pelarian dari rutinitas, hingga kebutuhan emosional. Bagi banyak perempuan usia produktif, pergulatan Zhitao terasa dekat dengan pengalaman keseharian mereka. Ia harus menavigasi tekanan pekerjaan, menjaga harga diri, sekaligus berhadapan dengan perasaan yang tidak selalu mudah dikelola. Karena itu, setiap perkembangan hubungan yang terjadi antara dirinya dan Luan Nian menghadirkan kepuasan emosional tersendiri bagi penonton.
Keterikatan tersebut semakin kuat karena penonton membangun hubungan yang oleh Horton dan Wohl (1956) disebut sebagai hubungan parasosial, yakni kedekatan psikologis dengan tokoh media. Meskipun sadar bahwa karakter tersebut fiktif, penonton tetap dapat merasakan afeksi, empati, bahkan rasa memiliki terhadap tokoh yang mereka sukai. Tidak mengherankan jika banyak komentar di media sosial membahas Luan Nian seolah-olah ia adalah sosok nyata. Penonton tidak hanya mengikuti ceritanya, tetapi juga menginvestasikan emosi mereka ke dalam hubungan yang dibangun di layar.
Pengalaman menonton menjadi semakin intens ketika seseorang tenggelam dalam dunia cerita. Green dan Brock menyebut fenomena ini sebagai narrative transportation (2000). Pada kondisi tersebut, penonton untuk sementara meninggalkan realitas sehari-hari dan masuk ke dalam pengalaman para karakter. Ketika Zhitao merasa kecewa, penonton ikut merasakan kekecewaan. Ketika hubungan mereka membaik, penonton ikut merasakan kelegaan. Akibatnya, adegan keintiman yang muncul di tengah perjalanan cerita terasa jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar ekspresi romantis biasa.
Ketika Penonton Ikut Terlibat Secara Emosional
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah cara drama ini menampilkan pengalaman perempuan. Selama bertahun-tahun, kajian media banyak mengkritik kecenderungan industri hiburan yang memosisikan perempuan sebagai objek pandangan laki-laki atau male gaze. Dalam The Early Spring, fokus cerita justru banyak diarahkan pada perspektif Zhitao: apa yang ia rasakan, pikirkan, khawatirkan, dan perjuangkan. Penonton diajak memahami cinta bukan hanya sebagai hubungan romantis, tetapi juga sebagai pengalaman yang berkelindan dengan identitas, pekerjaan, dan pilihan hidup.
Pendekatan seperti ini membuat banyak perempuan lebih mudah menemukan ruang identifikasi. Mereka tidak hanya menyaksikan seorang perempuan dicintai, tetapi juga melihat seorang perempuan yang berupaya mempertahankan agensi dan tujuan hidupnya di tengah relasi yang kompleks.
Namun, respons penonton terhadap serial ini tentu tidak seragam. Ada yang melihat hubungan Zhitao dan Luan Nian sebagai kisah cinta dewasa yang penuh dinamika emosional. Ada pula yang mengkritisi ketimpangan kuasa antara atasan dan bawahan yang menjadi fondasi cerita. Perbedaan pembacaan tersebut mengingatkan kita pada gagasan Stuart Hall (1997) bahwa makna media tidak pernah diterima secara tunggal. Setiap penonton menafsirkan teks media berdasarkan pengalaman, nilai, dan latar sosialnya masing-masing.
Karena itu, menarik melihat bagaimana diskusi tentang The Early Spring terus berkembang di luar layar. Penonton menafsirkan ulang adegan, memperdebatkan keputusan para tokoh, membandingkan adaptasi dengan novel aslinya, hingga mendiskusikan apakah hubungan yang ditampilkan dapat dianggap sehat. Dalam proses tersebut, mereka tidak lagi berperan sebagai konsumen pasif, melainkan turut memproduksi makna bersama komunitas penggemar lainnya.
Meskipun demikian, popularitas sebuah drama tidak berarti ia bebas dari kritik. Relasi yang dibangun di atas ketimpangan posisi, dinamika komunikasi yang tidak sehat, atau penggambaran cinta yang sarat luka tetap perlu dibaca secara kritis. Menikmati cerita dan mempertanyakan pesan yang dibawanya bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru di situlah pentingnya literasi media.
Pada akhirnya, daya tarik adegan keintiman dalam The Early Spring tidak terletak pada romantisme semata. Yang membuatnya berkesan adalah konteks yang melingkupinya: konflik yang panjang, emosi yang terakumulasi, serta karakter yang terasa dekat dengan pengalaman penonton. Ketika sebuah cerita berhasil membuat audiens memahami alasan di balik setiap tatapan, keraguan, dan keputusan tokohnya, keintiman tidak lagi menjadi sekadar adegan. Ia berubah menjadi pengalaman emosional yang terus dibawa penonton bahkan setelah layar dimatikan.
