Orang Tua di Era Digital: Menemani atau Sekadar Mengawasi?

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Jaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Suci Marini Novianty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Bu, anak saya kalau tidak dikasih HP bisa tantrum. Gimana ya?"
Pertanyaan seperti ini hampir selalu muncul ketika saya berbicara tentang anak dan teknologi. Bukan pertanyaan yang mengejutkan, karena faktanya gawai telah menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga. Bahkan, bagi sebagian anak, layar menjadi benda yang pertama dicari ketika bangun tidur dan terakhir dilihat sebelum tidur malam.
Kita hidup pada masa ketika internet hadir begitu dekat dengan anak-anak. Video, permainan, media sosial, dan berbagai aplikasi digital dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari. Anak-anak tidak perlu lagi menunggu dewasa untuk mengenal dunia digital. Mereka tumbuh bersama teknologi sejak usia dini.
Di satu sisi, kondisi ini menawarkan banyak manfaat. Teknologi dapat menjadi sarana belajar yang menarik, memperluas akses terhadap informasi, serta membantu anak mengenal berbagai hal baru. Namun di sisi lain, kemudahan akses tersebut juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil bagi orang tua.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah anak boleh menggunakan teknologi atau tidak. Pertanyaannya adalah: apakah kita siap mendampingi mereka?
Tantangan Terbesar Bukan Teknologinya
Banyak orang tua menganggap persoalan digital identik dengan remaja yang aktif di media sosial. Padahal, tantangan tersebut justru mulai muncul jauh lebih awal. Anak usia prasekolah saat ini sudah terbiasa menonton video melalui platform digital, bermain gim di telepon pintar, atau menggunakan aplikasi edukasi yang diunduh orang tuanya.
Masalahnya, kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami risikonya.
Anak mungkin mampu membuka aplikasi sendiri, memilih video yang ingin ditonton, bahkan mencari konten yang mereka sukai. Namun mereka belum memahami konsekuensi dari apa yang mereka lihat, dengar, atau bagikan. Mereka belum mampu membedakan informasi yang aman dan tidak aman. Mereka juga belum memahami mengapa ada informasi pribadi yang tidak boleh dibagikan kepada orang lain.
Karena itu, peran orang tua tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.
Parental control memang bisa dipasang. Fitur pembatas waktu layar juga tersedia di banyak perangkat. Namun tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan percakapan sederhana antara orang tua dan anak.
Pendampingan digital sesungguhnya bukan hanya soal pengawasan. Pendampingan berarti kehadiran.
Hadir ketika anak menggunakan perangkat digital. Hadir untuk bertanya apa yang sedang mereka tonton. Hadir untuk menjelaskan mengapa suatu konten tidak layak dikonsumsi. Hadir untuk membantu anak memahami bahwa dunia digital memiliki aturan dan konsekuensi yang sama seperti dunia nyata.
Sering kali kita terlalu fokus pada durasi penggunaan gawai. Padahal yang tidak kalah penting adalah kualitas pendampingan selama anak menggunakan teknologi tersebut.
Anak Belajar dari Orang Tuanya, Termasuk di Ruang Digital
Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah jejak digital yang dibangun sejak anak masih kecil. Banyak orang tua dengan mudah membagikan foto, video, atau cerita tentang anak di media sosial tanpa memikirkan dampaknya di masa depan. Padahal setiap unggahan yang kita buat dapat menjadi bagian dari identitas digital anak.
Ini bukan berarti orang tua tidak boleh berbagi cerita tentang anak. Namun ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu: apakah informasi ini aman untuk dibagikan? Apakah suatu hari nanti anak akan nyaman jika unggahan tersebut masih tersimpan dan dapat ditemukan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu merupakan bagian dari pengasuhan digital yang sering terlupakan.
Di sisi lain, anak juga belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya. Sulit meminta anak mengurangi waktu layar jika kita sendiri terus-menerus memegang ponsel. Sulit mengajarkan etika digital jika orang dewasa di sekitarnya masih mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Pengasuhan digital pada akhirnya bukan hanya tentang membatasi penggunaan teknologi. Pengasuhan digital adalah proses belajar bersama. Orang tua belajar memahami dunia yang dihadapi anak, sementara anak belajar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Internet memang sudah ada di genggaman anak. Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa di genggaman orang tua tetap ada pengetahuan, kesadaran, dan kemauan untuk mendampingi mereka tumbuh di dalamnya.
Sebab pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukanlah teknologi yang semakin canggih, melainkan orang tua yang hadir. Orang tua yang mau mendengarkan, berdialog, memberi batasan yang sehat, dan menjadi teladan dalam menggunakan teknologi secara bijaksana. Di tengah dunia yang semakin digital, kehadiran orang tua tetap menjadi perlindungan terbaik bagi anak-anak.
Internet memang sudah ada di genggaman anak.
Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa di genggaman orang tua tetap ada kesadaran, pengetahuan, dan kemauan untuk mendampingi mereka tumbuh di dalamnya.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan teknologi yang lebih canggih. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir. Orang tua yang mau mendengarkan, berdiskusi, memberi batasan, sekaligus menjadi contoh dalam menggunakan teknologi secara bijaksana.
Sebab di dunia yang semakin digital, kehadiran orang tua tetap menjadi perlindungan terbaik bagi anak-anak.
