65 Tahun yang Lalu, 1.800 Orang di Belanda Meninggal Akibat Banjir

Setiap hari banyak tahu.
Tulisan dari Sudah Tahu Belum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belanda dan air merupakan identitas yang tak bisa dipisahkan. Sekitar 20 persen wilayah negeri ini berada di bawah permukaan laut, dan 50% lainnya berada kurang dari 1 meter di atas permukaan laut. Keadaan itu membuat Belanda rentan diterjang banjir akibat pasang surutnya air laut.
Pada 31 Januari 1953 malapetaka itu terjadi. Sebuah banjir besar melanda Belanda akibat dari gelombang badai musim semi dan angin Eropa di laut utara yang menyebabkan air laut naik kepermukaan. Gelombang besar dan angin kencang merusak pertahanan laut dan menyebabkan banjir besar di Belanda. Bukan hanya Belanda, Inggris dan Belgia juga merasakan dampak dari gelombang besar tersebut.
Tercatat 1.835 orang warga belanda tewas akibat banjir dahsyat tersebut, dan di Inggris, 307 orang terbunuh di daerah Lincolnshire, Norfolk, Suffolk dan Essex. 19 orang tewas di Skotlandia dan 28 orang lainnya dikabarkan tewas di Flandres Barat, Belgia.
Selain menimbulkan korban jiwa, gelombang ganas ini juga memporak-porandakan kapal dan bangunan-bangunan yang ada di sepanjang pantai Eropa Utara. Kerugian material dari bencana ini ditaksir hingga ratusan juta Euro.
1 Ferbuari merupakan mimpi buruk bagi orang-orang Belanda. Menyadari hal itu, Belanda dan Inggris melakukan studi ekstentif mengenai penguatan pertahanan pesisir. Imbas dari bencana tersebut, Pada 18 Februari, Belanda langsung membangun Delta Works, yakni sistem bendungan dan pertahanan untuk menahan gelombang laut, dan banjir. Selain itu, Inggris juga membangun gelombang badai di Sungai Thames, dan di Sungai Hull.
Tahun 1953 merupakan peradaban baru bagi Belanda, yang ditandai dengan keberhasilannya membuat sebuah bendungan terbesar di Dunia. Dan kini Belanda menjadi negara maju yang berhasil bangkit dari keterpurukan.
