Pariwisata, Bisnis Menggiurkan yang Tak Mudah

A Book Lover, also Telkom University Digital Public Relations Lecturer
Tulisan dari Sufyan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengelola Industri Pariwisata di Era Global dan Teknologi
Judul: Pembangunan & Pengembangan Pariwisata
Penulis:
Penerbit: PT Refika Aditama
Cetakan: Desember 2018
Halaman: 190
ISBN: 978-602-6322-96-8
Harga: Rp61.000
Ketika terpaan informasi Covid-19 kian meluas, lumpuh segera terjadi. Termasuk di sektor pariwisata, yang belakangan terus menjadi bisnis baru yang menggiurkan. Bahkan hingga pelosok desa, bermunculan badan usaha yang menjual wisata sebagai ujung tombaknya.
Terlebih dengan investasinya yang relatif sudah alam hadirkan, hanya keluar uang untuk kesempurnaan, membuat pariwisata kerap disemat sebagai sektor minyak baru (new oil). Era visual selfie-wefie juga membuat semua berlomba mengejarnya.
Akan tetapi, sebagai sebuah hukum Allah Swt, di mana ada kemudahan, di sana ada tangtangan. Saat Covid-19 makin menyeruak, pariwisata Indonesia cukup terhentak. Destinasi populer semacam Bali disebut tak seramai biasanya. Terutama karena wisatawan Tiongkok (sebagai salah satu turis asing terbesar ke Indonesia) tak datang dulu.
Kisah serupa tapi tak sama datang dari obyek wisata yang pernah tenar di Bandung, Kampung Gajah di Cihideung, Lembang. Saat jayanya dulu, orang antri masuk arena meski keluar duit tak sedikit. Namun beberapa tahun terakhir ini, namanya bukan lagi redup. Bahkan setelah bangkrut, malah sekarang jadi tempat uji nyali saking angkernya.
Demikianlah corak wajah industri pariwisata Indonesia mutakhir, ketika di sisi lain, marak tempat wisata baru bermunculan, bahkan dari pelosok pedesaan yang aksesnya pun relatif belum representatif.
Masih banyak tempat yang mampu kuat bertahan lama, ramai dikunjungi, dan selalu jadi tujuan. Tapi itu tadi, di sisi lain, seperti kasus Kampung Gajah, tak sedikit pula tempat wisata yang ramai dikunjungi pada masanya dan kini hanya terkenang oleh masyarakat.
Buku ini secara umum menjelaskan, industri pariwisata sebagai serangkaian usaha yang satu sama lain terpisah. Karenanya, sangat beraneka ragam dalam skala, fungsi, lokasi dan bentuk organisasi namun mempunyai kaitan fungsional terpadu dalam kepentingan kebutuhan wisatawan.
Industri pariwisata pun lebih tepat digunakan bagi perusahaan yang lagsung memberi pelayanan kepada wisatawan yang tujuannya untuk bersenang-senang. Pada era regional dan global saat ini, pembangunan pariwisata dihadapkan kepada tantangan yang berat, terutama bila dikaitkan dengan kompetisi yang semakin tajam. Era globalisasi telah membawa konsekuensi dan pergerakan penting terhadap perkembangan industri pariwisatanasional, terutama pemanfaatan kemajuan teknologi dan perubahan pola tingkah laku wisatawan internasional.
Bila pembangunan dan pengembangan pariwisata direncanakan dan diarahkan dengan baik, maka akan mendapat banyak manfaat antara lain di bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan, hingga manfaat berbangsa dan bernegara. Industri pariwisata tidak hanya dapat berfungsi sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat, swasta, pemerintah daerah atau negara, tetapi juga berperan positif bagi kegiatan lainnya.
Menilik pijakan situasi ini, maka pemanfaatan teknologi canggih perlu diimplementasikan oleh pelaku industri pariwisata agar tetap berkembang sekaligus membangun citra pariwisata yang lebih baik di kalangan nasional maupun internasional. Konsekuensinya, sumber daya manusia berkualitas unggul sangat diperlukan agar tetap eksis mengikuti perkembangan yang terjadi.
Sumber daya manusia di bidang pariwisata memainkan peran sangat penting dalam perkembangan industri pariwisata. Pembangunan kepariwisataan membutuhkan perencanaan yang seksama dan melalui proses dan pemikiran secara matang.
Ketiga penulis buku ini menekankan, perencanaan pembangunan kepariwisataan terdiri dari empat tahapan yakni: penyusunan rencana, penetapan rencana, pengendalian pelaksanaan rencana, dan evaluasi pelaksanaan rencana.
Jika keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan dan keseluruhan akan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh. Buku ini selain membahas perencanaan industri kepariwisataan, juga membahas tentang Pemasaran Pariwisata (Bab 13), Produk Pariwisata (Bab 14), Perilaku Konsumen (Bab 15), dan Electronic Commerce (Bab 16).
Akhir kata, ketika bisnis pariwisata terus menjadi primadona, bahkan hingga ke pelosok kampung-kampung, di saat itu pula berbagai tantangan datang. Tentu, seperti lazimnya fungsi literasi, terang ilmu dari buku ini bisa membantu mengatasi aneka tangtangan tersebut. (Muhammad Sufyan Abd dan Esti Fauziyah, Prodi Digital PR Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University)
