Menelusuri Jejak Sejarah Masjid Jami An-Naawier Pekojan

Mahasiswa Fotografi di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Suganda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
JAKARTA BARAT — Di tengah hiruk-pikuk kawasan padat penduduk Kampung Arab Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, berdiri sebuah mahakarya arsitektur bernilai sejarah tinggi yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yaitu Masjid Jami An-Naawier.
Dikenal juga sebagai salah satu masjid tertua di Jakarta, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi saksi bisu dinamika sejarah perjuangan bangsa serta pusat penyebaran Islam di tanah Betawi sejak abad ke-18.
Saksi Bisu Perjalanan Tiga Abad
Masjid Jami An-Naawier pertama kali dirintis dan dibangun pada tahun 1760 Masehi oleh seorang ulama sekaligus tokoh dermawan keturunan Arab Hadrami, Habib Abdullah bin Husein Alaydrus, di atas lahan yang diyakini merupakan wakaf dari seorang perempuan dermawan bernama Syarifah Baba Kecil.
Pada awal pendiriannya, bangunan masjid ini tidak seluas sekarang, yakni hanya berukuran sekitar 500 meter persegi. Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah jemaah dan pesatnya perkembangan komunitas Muslim di kawasan Pekojan, masjid ini mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan besar-besaran menjelang akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 hingga mencapai luas sekitar 2.000 meter persegi. Dalam catatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, kawasan Pekojan dan kompleks Masjid An-Naawier juga menyimpan memori penting. Menara masjid yang tinggi menjulang konon sempat dimanfaatkan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai tempat persembunyian dari kejaran tentara kolonial Belanda.
Keunikan arsitekturnya yakni memiliki perpaduan gaya Neo-Klasik dan Filosofi Islam
Sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi, keaslian struktur fisik Masjid An-Naawier tetap dijaga ketat hingga hari ini. Arsitektur masjid ini menampilkan perpaduan gaya bangunan Eropa (khususnya gaya neo-klasik yang mendominasi kawasan Kota Tua) dengan sentuhan budaya Arab dan lokal.
Beberapa keunikan ikonik dari Masjid Jami An-Naawier meliputi:
Masjid 33 Tiang: Ruang utama masjid disangga oleh 33 pilar kokoh. Angka ini memiliki filosofi mendalam yang merepresentasikan jumlah butiran tasbih dalam zikir umat Islam. Alas tiang berbentuk segi delapan dengan badan tiang bulat bergalur vertikal menyerupai pilar-pilar bangunan klasik Eropa.
Menara Bergaya Mercusuar: Di sisi timur laut masjid, terdapat menara tinggi menjulang yang bentuknya menyerupai mercusuar masa lampau. Pada masanya, muazin harus mendaki hingga ke puncak menara tersebut untuk mengumandangkan adzan agar terdengar ke seluruh penjuru kampung.
Filosofi Pintu Utama: Masjid ini memiliki pintu-pintu besar dengan ukiran kayu jati kuno. Keberadaan pintu-pintu tersebut dirancang dengan jumlah khusus yang melambangkan rukun Islam, rukun iman, hingga empat sahabat utama Nabi (Khulafaur Rasyidin).
Mimbar Bersejarah: Di bagian depan ruang utama terdapat mimbar kayu tua berukir indah dengan sentuhan warna cokelat tua dan keemasan, yang konon merupakan hadiah dari Sultan Pontianak pada masa lampau.
Nama An-Naawier sendiri memiliki arti "cahaya" atau "yang bersinar". Nama ini disematkan dengan harapan agar masjid tersebut dapat terus memancarkan nilai-nilai pencerahan, ilmu agama, dan kedamaian bagi masyarakat sekitar maupun umat Islam secara luas.
Hingga kini, status Masjid Jami An-Naawier sebagai cagar budaya menuntut komitmen bersama—baik dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), pemerintah daerah, maupun masyarakat untuk terus merawat kelestariannya. Di tengah kepungan modernisasi Kota Jakarta, Masjid Jami An-Naawier tetap berdiri kokoh sebagai penjaga memori kolektif sejarah Islam, merajut masa lalu dan masa kini dalam balutan keagungan arsitektur tempo dulu.
