Konten dari Pengguna

Cerita Umroh (20): Thawaf di Baitullah

Sugeng Winarno

Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langkah itu terasa bergetar ketika kaki pertama kali menjejak lantai marmer putih Masjidil Haram. Malam masih menyisakan kesejukan, sementara lampu-lampu besar menerangi seluruh area dengan cahaya lembut.

Kami, semua jamaah Mitra Umroh, saling menatap tanpa kata. Pandangan kami tertuju ke satu titik, ke arah bangunan sederhana yang menjadi pusat dunia yakni Ka’bah.

Air mata menetes. Tak ada yang bisa menahan getaran jiwa ketika untuk pertama kali menyaksikan Ka’bah. Selama ini, kami hanya melihatnya dari gambar, televisi, atau cerita orang-orang yang sudah pulang dari Tanah Suci.

Namun kini, rumah Allah itu berdiri nyata di hadapan kami. Bentuknya sederhana, namun keagungannya menusuk ke dalam jiwa.

Jamaah Umroh Thawaf mengitari Ka'bah.

Di sekitar Ka’bah, ribuan jamaah dari berbagai bangsa bergerak melingkar, melantunkan do,a dan zikir. Lantunan do’a dalam beragam bahasa berpadu menjadi satu irama.

Tidak ada sekat bangsa, warna kulit, atau bahasa. Semua adalah hamba Allah, sama-sama kecil di hadapan Sang Maha Besar.

Ustad Hilman selaku muthowwif mengingatkan agar menata niat sebelum memulai thawaf. “Ingat, kita thawaf bukan sekadar mengelilingi bangunan. Kita sedang melakukan ibadah yang mengikuti sunnah Nabi Ibrahim dan Rasulullah. Luruskan hati, kuatkan niat.”

Kami pun mendekat ke arah Hajar Aswad. Dari jauh, terlihat orang-orang berebut untuk menciumnya. Namun Ustad Hilman menenangkan, “Cukup kita mengangkat tangan sambil mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar. Jika tidak bisa menyentuh, do’a kita tetap sampai.”

Jamaah Umroh sedang melakukan Thawaf mengitari Ka'bah sebanyak 7 kali.

Putaran pertama dimulai. Kami mengangkat tangan, mengucapkan takbir, lalu berjalan mengikuti arus jamaah. Hati terasa dipenuhi energi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti ada kekuatan yang mengikat, membuat langkah ringan meski tubuh lelah setelah perjalanan panjang.

Hati kami dipenuhi doa syukur. “Ya Allah, Engkau telah memanggil kami ke rumah-Mu. Terimalah kedatangan kami, meski kami penuh dosa.”

Air mata banyak yang tak terbendung. Ada yang berjalan sambil menunduk, ada yang menatap Ka’bah lekat-lekat, seakan tak ingin kehilangan satu detik pun.

Pada putaran kedua, do’a berubah menjadi permohonan ampun. Setiap langkah seakan menggugurkan dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Putaran ketiga, suasana semakin haru. Banyak dari kami mulai melantunkan do’a-do’a pribadi. Ada yang berdo’a untuk anak-anaknya, ada yang memohon kesehatan bagi orang tuanya, ada pula yang meminta agar keluarga diberi keberkahan hidup. Seorang ibu dalam rombongan kami berjalan sambil membawa foto kecil anaknya, menempelkan di dadanya, lalu berdoa dengan suara bergetar.

Putaran keempat, terasa semakin ringan. Meski tubuh mulai lelah, jiwa terasa kuat. Pandangan kami terus tertuju pada Ka’bah. Setiap kali melewati Multazam, hati seakan meledak oleh doa.

Putaran kelima banyak dari kami mulai larut dalam tangis. Tangis yang bukan karena kesedihan, tetapi karena merasakan kedekatan dengan Allah. Seakan tidak ada jarak, seakan semua doa langsung terhubung.

Pada putaran keenam, do’a kami semakin khusyuk. Ada rasa takut waktu thawaf akan segera berakhir.

Kepadatan Jamaah saat Thawaf mengelilingi Ka'bah.

Putaran terakhir, ketujuh, doa penutup thawaf. Kami mengangkat tangan, menatap Ka’bah, lalu melantunkan do’a dengan suara bergetar. Air mata tak terbendung lagi.

Dalam hati, kami berkata, “Ya Allah, saksikanlah thawaf kami. Terimalah amal ibadah kami. Jadikan ini awal dari kehidupan baru yang lebih Engkau ridai.”

Selesai thawaf, kami berkumpul di belakang Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Jamaah padat, namun kami berusaha mencari tempat terbaik.

Ketika sujud, air mata kembali mengalir. Bagaimana tidak, sujud ini terasa begitu dekat dengan Allah, seolah seluruh dosa terangkat dan seluruh doa terangkat ke langit.

Setelah itu, kami bergerak menuju Zamzam. Air suci itu mengalir seakan tiada henti. Kami minum dengan do’a khusus masing-masing. Ada yang berdo’a untuk kesehatan, ada yang memohon panjang umur dalam ketaatan, ada yang meminta rezeki halal. Air itu dingin, segar, dan penuh berkah.

“Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan wāsi‘an, wa shifā’an min kulli dā’in wa saqamin.”

(Ya Allah, aku memohon ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit).

Thawaf itu menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang perjalanan umroh kami. Setiap putaran bukan sekadar langkah fisik, melainkan perjalanan batin.

Jamaah Mitra Umroh berfoto setelah Thawaf.

Kami merasa seolah sedang membersihkan diri, melepaskan beban masa lalu, dan mengikat janji baru dengan Allah.

Banyak dari kami yang setelah thawaf merasa seperti terlahir kembali. Hati lebih ringan, wajah lebih tenang, dan jiwa lebih damai.

Thawaf bukan hanya mengelilingi Ka’bah. Ia adalah perjalanan hati mengelilingi cinta. Cinta kepada Allah yang Maha Kuasa, cinta yang tak pernah padam, cinta yang akan selalu membuat kami rindu untuk kembali. (*)

(bersambung, ……….)