Konten dari Pengguna

Gowes Kota Gudeg (1): Gowes Napak Tilas Kiai Dahlan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jarum jam baru saja melewati pukul sembilan ketika halaman Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mulai lengang. Sebagian besar sivitas akademika sudah pulang menikmati akhir pekan.

Namun, di sudut parkiran, justru tampak kesibukan kecil yang berbeda. Tujuh orang berdiri mengelilingi dua mobil. Pintu bagasi dibuka, tujuh sepeda lipat (seli) ditata di dua mobil.

Menata Seli di dalam mobil. (Sumber foto: Penulis).
zoom-in-whitePerbesar
Menata Seli di dalam mobil. (Sumber foto: Penulis).

Malam itu kami bukan hendak menghadiri seminar, rapat, ataupun kegiatan akademik. Kami sedang bersiap menjalani perjalanan yang sejak beberapa hari sebelumnya telah kami nanti.

Saya, Pak Zakariya—yang akrab kami panggil Pak Jek—Prof. Mahfud, Pak Eka Kadharpa, Pak Adhyatman, Mas Kusno, dan Mas Nurudin tergabung dalam komunitas kecil Gowes UMM. Berbeda latar belakang, berbeda usia, bahkan berbeda jabatan. Namun ketika sudah mengenakan kaos gowes dan helm, semua sekat itu perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah sesama pesepeda yang sama-sama menikmati kayuhan.

Di bagasi dua mobil telah tersusun rapi tujuh sepeda lipat—atau yang akrab disebut seli. Ukurannya memang kecil, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Mudah dibawa ke mana-mana dan memberi kebebasan menjelajahi kota tanpa harus direpotkan kendaraan besar.

Tujuan kami kali ini adalah Yogyakarta.

Bagi sebagian orang, Jogja adalah kota wisata. Bagi sebagian lainnya, kota pelajar. Namun bagi warga Muhammadiyah, Jogja memiliki makna yang jauh lebih dalam. Di kota inilah sejarah besar Persyarikatan Muhammadiyah dimulai.

Berfoto di kantor PP Muhammadiyah. (Sumber Foto: Pak Jek).

Di jalan-jalan inilah Kiai Ahmad Dahlan menanamkan benih pembaruan Islam yang kelak tumbuh menjadi gerakan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang menjangkau seluruh Indonesia.

Karena itulah perjalanan ini sejak awal tak sekadar kami rancang sebagai agenda bersepeda. Kami ingin mengayuh sambil menapaki jejak sejarah.

Dua mobil perlahan meninggalkan kampus menuju akses Tol Malang–Prambanan. Lampu-lampu jalan membentuk garis panjang yang seolah mengantar perjalanan malam kami. Di dalam mobil, obrolan mengalir ringan. Mulai dari rute gowes, kuliner Jogja, sampai cerita-cerita lama yang membuat sesekali kami tertawa bersama.

Perjalanan jauh memang memiliki caranya sendiri dalam mendekatkan orang.

Ada sesuatu yang berbeda ketika perjalanan dilakukan bersama teman-teman yang memiliki hobi sama. Tidak ada pembicaraan yang terlalu serius, tetapi justru percakapan-percakapan sederhana itu sering kali menghadirkan keakraban yang sulit dijelaskan.

Perjalanan malam menuju Yogyakarta berlangsung lancar. Jalan tol memang memperpendek jarak, tetapi tidak mengurangi rasa antusias kami untuk segera mengayuh sepeda di Kota Gudeg.

Sebelum lanjut laju menuju pintu Tol Prambanan, kami sengaja keluar pintu tol Madiun. Lewat tengah malam dua mobil kami memasuki kota Madiun. Tujuan kami ke daerah Stasiun. Di area parkir stasiun Madiun ada warung pecel langganan kami.

Nama Warung Bu Sugeng. Disini ada pecel asli Madiun yang beda dengan pecel di Malang. Jadah bakar dan kopi juga menjadi menu andalan di sini.

Warung Pecel Bu Sugeng Madiun. (Sumber Foto: Penulis).

Beberapa diantara kami bernostalgia di warung ini karena saat touring motor ke Solo beberapa waktu silam diantara kami juga mampir ke warung yang pemiliknya temannya Pak Jek ini.

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Menjelang dini hari, kendaraan mulai meninggalkan jalan tol dan memasuki ruas jalan arteri menuju pusat Kota Yogyakarta. Langit masih gelap ketika kami melewati jalan-jalan yang perlahan mulai hidup. Beberapa pedagang bersiap membuka lapak.

Ada sensasi yang selalu berbeda ketika memasuki Jogja pada waktu subuh. Kota ini seolah bangun dengan tenang. Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak benar-benar diam.

Tujuan pertama kami bukan Malioboro ataupun Tugu Jogja.

Kami langsung menuju Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Bangunan itu bukan sekadar kantor organisasi. Ia adalah salah satu simpul penting perjalanan sejarah Muhammadiyah. Dari tempat inilah berbagai keputusan strategis, gagasan pembaruan, dan gerakan dakwah terus dirancang untuk menjangkau berbagai penjuru negeri.

Setelah perjalanan semalam suntuk, kami beristirahat sejenak.

Suasana subuh terasa begitu teduh. Kami menunaikan salat Subuh berjamaah sebelum mempersiapkan sepeda masing-masing.

Helm mulai dikenakan. Ban diperiksa kembali. Botol minum diisi penuh. Jersey dirapikan. Semua dilakukan tanpa banyak instruksi karena setiap orang sudah memahami rutinitas sebelum mengayuh.

Di halaman kantor PP Muhammadiyah, tujuh sepeda lipat mulai dibuka satu per satu. Dalam hitungan menit, kendaraan mungil itu berubah siap mengantar kami menjelajahi kota.

Matahari perlahan muncul dari ufuk timur.

Udara pagi Jogja terasa ramah bagi pesepeda. Belum banyak kendaraan memenuhi jalan. Pepohonan masih menyisakan hawa sejuk. Jalanan yang biasanya padat masih memberi ruang bagi kami menikmati setiap kayuhan.

Melintas di Jalan Malioboro. (Sumber Foto: Mas Kusno).

Tidak ada target kecepatan.

Tidak ada kompetisi.

Kami sepakat bahwa perjalanan kali ini adalah gowes santai.

Karena sesungguhnya tujuan utama kami bukan mengejar kilometer, melainkan menikmati setiap jengkal perjalanan.

Bersepeda memiliki cara unik dalam memperkenalkan sebuah kota.

Berbeda dengan mobil yang membuat kita sekadar melintas atau berjalan kaki yang membutuhkan waktu lebih panjang, sepeda menghadirkan keseimbangan yang pas. Cukup cepat untuk menjelajah banyak tempat, tetapi cukup lambat untuk menangkap detail-detail kecil yang sering luput dari perhatian.

Kita bisa mendengar suara burung pagi.

Merasakan aroma makanan dari dapur-dapur rumah warga.

Menyapa orang-orang yang berpapasan.

Bahkan berhenti kapan saja ketika menemukan sudut kota yang menarik.

Mungkin itulah sebabnya banyak kota-kota tua di dunia justru paling nikmat dinikmati dengan sepeda.

Jogja termasuk salah satunya.

Bagi kami, mengayuh di kota ini bukan sekadar olahraga pagi. Ia menjadi perjalanan batin yang mempertemukan tubuh, ruang, sejarah, dan kenangan.

Kami sadar bahwa roda-roda kecil sepeda lipat yang kami kayuh pagi itu sedang melintasi kota yang pernah menjadi saksi lahirnya salah satu gerakan pembaruan Islam terbesar di Indonesia.

Berpose di Titik Nol Yogyakarta. (Sumber Foto: Pak Jek).

Setiap kayuhan seolah mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi juga dapat dirasakan melalui perjalanan.

Dan perjalanan terbaik selalu dimulai dengan rasa ingin tahu.

Pagi itu, dari halaman Kantor Pusat Muhammadiyah, tujuh pesepeda Gowes UMM mulai mengayuh perlahan memasuki jalan-jalan Kota Yogyakarta.

Di depan kami telah menunggu berbagai jejak Kiai Ahmad Dahlan, kisah-kisah Muhammadiyah, dan sudut-sudut kota yang akan kami temui satu per satu.

Perjalanan napak tilas itu pun resmi dimulai.

…..

Bersambung,……(Seri 2: Menyusuri Kampung Kauman, Langgar Duwur, Langgar Kidul, dan Masjid Gede Kauman).