Konten dari Pengguna

Gowes Kota Gudeg (2): Menyusuri Kauman-Langgar Duwur-Langgar Kidul-Masjid Gede

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi di Yogyakarta selalu memiliki cara yang lembut untuk menyambut siapa pun yang datang. Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika tujuh sepeda lipat kami mulai meninggalkan halaman Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jalanan masih lengang. Udara terasa sejuk, sementara kota perlahan membuka aktivitasnya.

Kayuhan kami mengarah bundaran kampus UGM, berputar-putar sejenak di kampus itu membersamai banyak orang yang sedang jogging dan bersepeda pagi.

Selanjutnya, rombongan kami melintasi Tugu Jogja, dan Jalan Malioboro. Sepanjang jalan tampak ramai orang jogging dan running. Sepertinya pagi itu sedang ada event lari yang melintasi Jalan Malioboro.

Setelah berhenti sejenak dan berfoto di Titik Nol Kilometer, kami melanjutkan gowes menyambangi Gedung Dakwah Muhammadiyah. Titik kunjungan kami selanjutnya adalah menyusuri Kampung Kauman.

Berpose di Depan Gedung Dakwah Muhammadiyah. (Sumber Foto: Pak Jek).

Bagi saya, perjalanan ini terasa berbeda. Kami bukan sedang mencari destinasi wisata, melainkan sedang membaca sejarah dengan cara yang paling menyenangkan: mengayuh sepeda.

Memasuki Kampung Kauman, suasana kota berubah. Jalan-jalan besar berganti menjadi gang-gang sempit yang bersih dan teduh. Rumah-rumah tua berdiri berdampingan dengan bangunan yang lebih modern.

Sulit membayangkan bahwa lorong-lorong sederhana ini pernah menjadi ruang lahirnya sebuah gerakan pembaruan Islam yang kini telah berkembang ke berbagai penjuru dunia.

Kauman tak sekedar nama kampung. Ia adalah ruang sejarah. Di sinilah Ahmad Dahlan tumbuh, belajar, mengajar, sekaligus membangun gagasan-gagasan besar yang pada awal abad ke-20 dianggap begitu berani. Dari kampung inilah benih Muhammadiyah disemai pada tahun 1912, lalu tumbuh menjadi gerakan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang terus berkembang hingga kini.

Mengayuh sepeda di Kauman menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan. Setiap tikungan terasa seperti membuka halaman baru dalam sebuah buku sejarah. Setiap rumah tua seakan memiliki cerita yang belum selesai diceritakan.

Kami beberapa kali berhenti. Bukan karena lelah, melainkan karena terlalu banyak sudut yang ingin dinikmati.

Langgar Duwur: Tempat Gagasan Besar Dilahirkan.

Salah satu tujuan utama kami adalah Langgar Duwur.

Saya, Pak Jek, Pak Mahfud, Pak Adhyatman, Pak Eka, Mas Kusno, dan Mas Nurudin memasuki gang sempit Langgar Duwur.

Berpose di Depan Jalan Masuk Langgar Duwur. (Sumber Foto: Pak Jek).

Bangunan ini tidak megah. Ukurannya relatif kecil. Bahkan jika tidak mengetahui sejarahnya, mungkin banyak orang akan menganggapnya sebagai musholah biasa.

Namun justru di tempat sederhana inilah lahir percakapan-percakapan besar tentang pembaruan Islam.

Di langgar inilah Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan semangat tajdid. Pengajian-pengajian kecil yang beliau lakukan menjadi ruang diskusi yang hidup. Dari tempat ini pula lahir kader-kader awal Muhammadiyah yang kemudian menyebarkan gagasan pembaruan ke berbagai daerah.

Sulit membayangkan bahwa organisasi sebesar Muhammadiyah ternyata bertumbuh bukan dari gedung yang megah atau fasilitas yang serba lengkap. Ia justru lahir dari ruang sederhana yang dipenuhi semangat keilmuan, keikhlasan, dan keberanian berpikir.

Bangunan di Atas Adalah Langgar Duwur. (Sumber Foto: Penulis).

Kadang-kadang sejarah memang tak dimulai dari tempat yang besar.

Ia dimulai dari gagasan besar yang lahir di tempat yang sederhana.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Langgar Kidul yang tak terlalu jauh dari Langgar Duwur.

Suasananya tenang. Tak banyak pengunjung pagi itu. Kami memarkir sepeda lipat di sisi halaman sebelum memasuki kawasan langgar.

Di sinilah saya kembali merasakan bahwa perjalanan ini bukan sekadar olahraga pagi.

Saya merasakan sejarah secara berbeda. Saya berjalan di ruang yang pernah dipijak Kiai Ahmad Dahlan. Saya melihat bangunan yang menjadi saksi lahirnya ide-ide besar. Ada jarak waktu lebih dari satu abad, tetapi jejaknya masih terasa begitu dekat.

Langgar Kidul Kiai Dahlan. (Sumber Foto: Penulis).

Saya teringat sebuah ungkapan sejarawan Prancis, Pierre Nora, tentang lieux de memoire (tempat-tempat ingatan). Ada ruang-ruang tertentu yang menyimpan memori kolektif sebuah bangsa atau komunitas. Nilainya bukan terletak pada kemegahan bangunannya, melainkan pada makna yang dikandungnya.

Cagar Budaya Langgar Kidul. (Sumber Foto: Penulis).

Langgar Duwur dan Langgar Kidul adalah contoh nyata tempat-tempat ingatan itu.

Di sana, sejarah tak hanya dikenang. Ia terus dihidupkan.

Perjalanan kami lanjutkan menelusuri gang-gang sempit di Kauman.

Sampailah di Masjid Gede Kauman.

Bangunan masjid berdiri anggun dengan arsitektur khas Jawa yang sarat makna. Halamannya luas dan rindang. Beberapa wisatawan mulai berdatangan, sementara warga sekitar menjalankan aktivitas pagi seperti biasa.

Masjid ini bukan hanya ikon Yogyakarta, tetapi juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan perjalanan hidup Kiai Ahmad Dahlan. Di sinilah beliau pernah menjadi khatib dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Sejarah mencatat bahwa dari lingkungan Masjid Gede Kauman inilah muncul keberanian Kiai Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaruan dalam praktik keberagamaan. Salah satunya adalah upaya meluruskan arah kiblat masjid berdasarkan perhitungan ilmu falak. Gagasan yang sekarang terdengar sederhana itu pada masanya memicu perdebatan panjang.

Namun bagi Kiai Ahmad Dahlan, kebenaran ilmiah dan ketepatan ibadah harus berjalan beriringan.

Perubahan memang hampir selalu lahir bersama resistensi.

Tetapi sejarah menunjukkan bahwa pembaruan yang didasari ilmu pengetahuan, kesabaran, dan dialog pada akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Kami duduk sejenak di pelataran masjid.

Diantara kami tak banyak percakapan. Mungkin masing-masing diantara kami sedang menikmati ruang heningnya sendiri. Burung-burung beterbangan di halaman. Angin pagi berembus pelan melewati pepohonan tua yang telah berdiri jauh lebih lama daripada usia kami.

Kami menyadari ternyata bersepeda bisa menjadi cara membaca sejarah.

Selama ini kita sering memahami sejarah sebagai kumpulan tanggal, nama tokoh, dan peristiwa yang harus dihafalkan. Padahal sejarah juga bisa dialami. Bersepeda memberi kesempatan itu.

Kami tidak sedang berpindah dari satu objek wisata ke objek berikutnya. Kami sedang menyusuri ruang-ruang yang melahirkan gagasan.

Kami menghubungkan jalan-jalan kecil dengan cerita-cerita besar. Kami belajar bahwa perubahan sosial sering kali berawal dari langkah-langkah yang sederhana, dari komunitas kecil, dari pengajian yang pesertanya tak banyak, atau dari sebuah langgar yang ukurannya jauh dari kata megah.

Kiai Ahmad Dahlan tak membangun peradaban dengan kemewahan. Beliau membangunnya dengan ilmu, keteladanan, pendidikan, dan keberanian melakukan pembaruan. Dari gang-gang sempit Kauman lahirlah gelombang perubahan yang kini menjangkau jutaan orang melalui sekolah, universitas, rumah sakit, panti asuhan, hingga berbagai amal usaha Muhammadiyah.

Berfoto di Depan Masjid Gede Kauman. (Sumber Foto: Penulis).

Perlahan, rombongan kami mengayuh sepeda meninggalkan Kampung Kauman, saya merasa tak hanya membawa foto-foto perjalanan di telepon genggam. Saya juga membawa pulang pengingat bahwa jejak besar selalu berawal dari langkah kecil.

Roda-roda sepeda kami terus berputar meninggalkan Kauman. Namun pikiran kami masih tertinggal di langgar-langgar sederhana yang telah mengubah wajah pendidikan dan dakwah di Indonesia.

Perjalanan kami belum usai. Masih banyak sudut Kota Gudeg yang menunggu untuk dijelajahi, masih banyak kisah yang siap dipetik dari setiap kayuhan.

Bersambung,………. (Seri 3: Menyusuri Benteng Keraton Yogyakarta)