Memeluk Rindu Lebaran

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Sugeng Winarno *
Lebaran itu soal rindu. Soal perasaan untuk saling bertemu. Lebaran juga soal kenangan. Kenangan masa lalu saat masih bersama. Maka, lebaran bisa jadi ajang lepas rindu, lepas kangen, dan mengingat kembali masa-masa lalu.
Lebaran tak hanya ajang lepas rindu dengan yang hidup. Lebaran juga mengingatkan dengan keluarga yang sudah tiada. Oleh karenanya, makam atau kuburan sanak saudara dan leluhur ramai didatangi orang nyekar, menabur bunga dan berkirim do’a.
Pulang ke kampung halaman saat Lebaran sejatinya juga soal rindu. Rindu untuk membongkar kembali memori masa lalu. Napak tilas saat masih tinggal di rumah induk bersama orang tua dan keluarga. Semua kenangan masa lalu yang tertinggal di kampung halaman memang bikin rindu.
Lebaran itu juga soal rindu pada aneka makanan. Kulineran saat Lebaran jadi semacam agenda wajib saat banyak orang pulang mudik Lebaran. Maka, rumah-rumah makan antri pengunjung. Toko-toko pusat oleh-oleh juga di serbu pembeli.
Lapak aneka kuliner khas daerah juga penuh sesak pengunjung. Warung-warung bakso, soto, mie ayam, dan beragam rumah makan yang menjual aneka makanan berbahan daging ayam, bebek, kambing, sapi, dan olahan hasil laut diserbu pembeli yang ingin goyang lidah menikmati kuliner khas daerah.
Di Jogja misalnya, banyak orang menyerbu warung-warung yang menawarkan menu gudeg dan aneka makanan khas kota berplat AB ini. Toko-toko bakpia aneka rupa dengan penciri nomor dan merek juga ramai diserbu pemudik.
Pasar Beringharjo Jogja yang menjual aneka busana batik juga penuh sesak pembeli. Orang keluar pintu pasar dengan bawaan di tangan kanan dan kirinya.
Walaupun cuaca super panas, seperti tak menghalangi gejolak berbelanja barang-barang yang bisa jadi obat penyembuh rasa rindu Lebaran.
Bagi kebanyakan orang, Lebaran itu juga soal bertemu teman lama. Hampir di setiap Lebaran selalu ada undangan reuni bersama teman lama. Lewat WhatsApps group (WAG) kelas saat sekolah atau kuliah undangan reuni disebarkan.
Reuni bertemu teman lama bisa jadi obat lepas kangen dan obati rindu. Kalau setiap hari sudah berkomunikasi lewat WAG, namun komunikasi lewat medium itu masih berjarak, tak seperti komunikasi dalam pertemuan tatap muka langsung.
Bagi sekelompok orang, Lebaran juga bisa jadi ajang pembuktian kesuksesan. Tak sedikit para pemudik yang menampakkan diri dengan simbol-simbol layaknya orang sukses. Para “sultan” kampung mudik dengan kendaraan baru dan aneka aksesoris penampilan agar kelihatan “wah”.
Tak jelas, kendaraan yang dibawa mudik itu mobil rental, pinjaman, atau memang membeli baru. Tak pasti juga kendaraan yang ditungganginya itu sudah dibeli dan dibayar lunas atau masih kredit dengan tenor waktu hingga puluhan tahun. Semua dilakukan demi Lebaran.
Lebaran itu juga tentang rekreasi keluarga besar. Tak jarang kemacetan mengular di jalanan tempat menuju lokasi wisata. Tak soal harus berjam-jam terjebak dalam antrean panjang kemacetan, yang penting bisa berrekreasi bareng keluarga.
Justru tak sedikit orang rindu merasakan kemacetan panjang itu, terutama bagi keluarga di kampung yang tak sering berkendara di kepadatan jalanan perkotaan. Lalu lalang aneka kendaraan menuju lokasi wisata menjadikan Lebaran semakin semarak.
Sejumlah stasiun televisi juga sibuk menyiarkan kemacepatan dari pintu-pintu jalan tol, lokasi wisata, atau tempat-tempat lain yang memungkinan banyak orang berkumpul.
Orang dari daerah pegunungan seperti kota Batu Malang berekreasi ke daerah pantai. Sementara mereka yang sehari-hari tinggal di daerah pantai pergi rekreasi Lebaran di daerah laut.
Tak sedikit pula yang memilih rekreasi di pusat-pusat perbelanjaan dan keramaian wisata buatan. Alun-alun kota, pusat oleh-oleh dan kuliner juga penuh sesak dengan orang berburu makanan.
Kerinduan akan kebersamaan di tempat rekreasi diwujudkan banyak orang dengan rekreasi ke tempat-tempat wisata dengan harga tiket yang lumayan mahal.
Namun, tak sedikit pula yang rekreasi dengan menggelar tikar di pinggir jalan, menikmati pemandangan indah sambil menyantap aneka makanan yang sudah dibawa dari rumah.
Lebaran itu soal perjalanan panjang. Perjalanan berkendara menyusuri jalan-jalan tol. Tak sedikit yang butuh berhari-hari harus naik kapal dan berpindah transportasi darat yang lain. Stasiun pun penuh sesak para pemudik.
Kursi-kursi di ruang tunggu bandara juga penuh sesak terisi orang-orang yang menunggu kedatangan pesawat sesuai tiket penerbangan yang telah jauh hari dibelinya.
Banyak pula yang harus menumpang bus antar kota antar provinsi atau antar kota dalam provinsi. Ada juga yang naik bus sleeper hinga penjalanan lebih nyaman, namun tak sedikit yang hanya mampu naik bus ekonomi non AC yang penuh sesak orang bercampur barang bawaan.
Mudik Lebaran memang harus dibayar mahal. Demi mudik orang harus menyiapkan uang jauh hari. Bisa jadi uang THR saja tak cukup buat membeli BBM, bayar tol, rental kendaraan, beli tiket pesawat, kapal, kereta, bus, dan moda transportasi yang lain.
Orang bisa saja tetap happy mudik naik motor berboncengan sekeluarga dengan membawa kardus oleh-oleh yang diikat di bagian belakang jok motor. Panas, hujan, debu, dan jarak yang jauh tak dirasa.
Atau yang beruntung bisa jadi ikut program mudik gratis yang biasanya banyak digelar oleh sejumlah perusahaan swasta dan instansi pemerintah.
Apapun dan berapapun ongkos mudik Lebaran seperti tak jadi soal asal Lebaran bisa pulang kampung, bertemu dan bersilaturahmi bersama keluarga besar.
Apapun itu, yang penting rindu memeluk lebaran dapat terwujud.
Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. (*)
*) Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang
