Konten dari Pengguna

Soal Istilah dalam Komunikasi Pandemi

Sugeng Winarno

Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi New Normal. Foto: Dok: Indra Fauzi/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi New Normal. Foto: Dok: Indra Fauzi/kumparan.

Diksi new normal yang selama ini banyak digunakan oleh berbagai pihak diganti dengan kata kebiasaan baru. Pemerintah melalui juru bicara penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan istilah new normal yang sering digunakan selama pandemi adalah diksi yang salah. Kata new normal tak mudah dimengerti masyarakat dengan benar. Tak sedikit yang memahami new normal sebagai kondisi yang normal.

Sejatinya new normal memang belum merupakan kondisi normal seperti sebelum muncul pandemi Covid-19. Makna kata new normal merupakan kenormalan baru yang berisi tata aturan kehidupan baru guna beradaptasi dengan pandemi. Aturan menggunakan masker, jaga jarak fisik, mencuci tangan, dan sejumlah protokol kesehatan yang lain menjadi aktivitas wajib yang harus dilakukan saat new normal.

Namun dalam praktiknya, tak sedikit orang yang menganggap new normal sebagai sebuah kenormalan biasa, seperti layaknya tak ada wabah. Mungkin banyak orang yang sudah bosan dengan pembatasan sosial dan fisik. Mungkin pula orang euforia kebebasan setelah beberapa bulan harus mendekam hanya di dalam rumah. Tak sedikit orang yang tak sabar hidup dikekang dan dibatasi dengan banyak protokol.

Tak jarang orang memahami diksi new normal sebagai kehidupan normal baru pasca pandemi. Padahal pandeminya masih berlangsung dan di sejumlah daerah kondisinya justru semakin memburuk. Pandemi belum berakhir, hingga masa panca pandemi itu juga belum ada. Beberapa pejabat publik telah mengultimatum masyarakat bahwa kalau angka penularan virus Covid-19 masih tak terkendali, maka bisa jadi masa new normal akan dicabut.

Terlalu Banyak Istilah

Selama masa pandemi, telah bermunculan banyak istilah terkait dengan penanganan wabah ini. Ada istilah lockdown (kuncian), Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ada pula pembatasan wilayah (PSBW), pembatasan skala desa (PSBD), social distancing (pembatasan sosial), physical distancing (pembatasan fisik), isolasi, karantina, karantina mandiri, screening, inkubasi, Work From Home (WFH), #dirumahaja, dan sejumlah istilah lain.

Selain itu juga bermunculan istilah yang terkait medis. Ada istilah OPD (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), OTG (Orang Tanpa Gejala), droplet, rapid test, hand sanitizer, chloroquine, imun, ventilator, viral load, WHO, dan sejumlah istilah medis lain yang tak familiar.

Semua istilah bertebaran lewat beragam media. Di sejumlah platform media sosial (medsos) istilah-istilah dipopulerkan. Tak sedikit yang menggunakan beberapa istilah tersebut walau sejatinya mereka tak sepenuhnya memahami artinya. Bahkan tak jarang yang keliru menempatkan penggunaan sejumlah istilah. Banyak orang bukan dari kalangan medis namun membuat beragam narasi yang mengutip beberapa istilah medis tersebut.

Kalau coba dicari di mesin pencari (search engine) di Google misalnya, maka dengan mudah kita bisa temukan istilah-istilah terkait dengan pandemi Covid-19 tersebut. Narasi terkait dengan banyaknya istilah jumlahnya sangat masif. Namun sayangnya, banyaknya narasi yang telah diunggah dan diunduh banyak orang ternyata tak berkorelasi dengan tingkat pemahaman mereka atas sejumlah istilah yang ada.

Istilah new normal misalnya, tak semua orang memahami dengan baik atas kata new normal. Tak jarang orang memahaminya sepotong. New normal dipahami sebagai normal biasa. Demikian halnya dengan banyaknya istilah medis yang rumit dan tak familiar. Orang memang bisa menulis dan mengucapkan istilah-istilah tersebut, namun tak ada jaminan mereka mengerti artinya.

Menyulitkan Komunikasi

Sesungguhnya inti dari komunikasi itu adalah proses pertukaran pesan dari seorang penyampai pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan), melalui media, dengan mengharapkan umpan balik (feedback) tertentu. Dalam proses komunikasi tak selamanya berjalan mulus. Bisa saja muncul hambatan (noise) yang menganggu proses penyampaian pesan tersebut.

Salah satu yang menyebabkan pesan komunikasi tak sampai adalah munculnya salah pengertian (miskomunikasi). Kesalahan ini mungkin terjadi karena pemakaian sejumlah istilah yang sulit dipahami. Dalam komunikasi pemerintah dengan masyarakat dalam beberapa level, baik pusat maupun daerah, noise dalam komunikasi tak bisa dihindari.

Salah satu yang menyebabkan munculnya hambatan dalam komunikasi adalah banyaknya istilah yang digunakan, sementara arti dalam istilah tersebut multi tafsir dan sulit untuk dipahamkan.

Berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia memang tak gampang. Selain jumlahnya yang banyak, berbagai perbedaan yang melekat pada mereka juga tak sedikit. Berkomunikasi dengan masyarakat yang beragam (heterogen) perlu memperhatikan banyak aspek. Soal pengunaan bahasa, istilah, bahasa tubuh (gesture), dan beragam simbol-simbol komunikasi yang lain juga penting disesuaikan.

Komunikasi pandemi yang dilakukan oleh tim gugus tugas penanganan Covid-19 maupun para pejabat di berbagai jenjang tak selamanya berjalan komunikatif. Model komunikasi yang cenderung satu arah terkadang membuat pesan komunikasi tak tersampaikan dengan baik dan mampu menggugah peran serta semua pihak terlibat dalam komunikasi. Banyaknya istilah juga tak jarang membingungkan masyarakat. Beragam istilah yang sejatinya dapat mempermudah dalam proses komunikasi justru bisa menjadi noise.

Semoga pemerintah dan sejumlah pihak tak kegenitan selalu memunculkan istilah-istilah baru. Istilah dengan menggunakan bahasa asing memang terkadang terlihat atau terdengar keren, namun apalah artinya kalau istilah itu tak mudah dimengerti dan dipahami masyarakat. Inti dari komunikasi adalah tersampaikannya pesan dengan baik. Beragam unsur penting yang menjadi pendukung dalam komunikasi perlu diperhatikan dengan baik, termasuk penggunaan berbagai istilah yang dipakai.

Agar komunikasi pandemi Covid-19 berjalan dengan lancar maka perlu digunakan istilah yang mudah dipahami sehingga istilah yang digunakan tak justru menimbulkan masalah komunikasi. Semoga pandemi ini segera berlalu. (*)

*). Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).