59 Tahun Sufmi Dasco Ahmad: Arsitek Stabilitas dan Politik Kebangsaan

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI. Anggota Badan Legislasi DPR RI
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sugiat Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 7 Oktober 2026, Sufmi Dasco Ahmad atau yang akrab disapa Dasco tepat berusia 59 tahun. Dasco adalah sosok dengan kapasitas yang nyaris lengkap.
Ia mampu menerjemahkan gagasan menjadi program konkret, mengkonsolodasikan organisasi, hingga mengeksekusi kebijakan yang selama bertahun-tahun mengalami kebuntuan.
Pembawaannya yang luwes serta sikapnya yang tenang menunjukkan kematangannya dalam berpolitik. Tidak hanya itu, ia juga mampu berperan sama baiknya saat berada di belakang panggung maupun saat mengambil sikap secara terbuka.
Ini pula yang menjadi satu kunci kinerja DPR RI di periode 2024-2029 sangat efektif dengan pengesahan undang-undang yang selama puluhan tahun tertahan.
Beberapa di antaranya adalah pengesahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang sempat tertahan selama 44 tahun, serta Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja Rumah Tangga yang menanti hingga 22 tahun.
Selain itu, undang-undang lain yang diproyeksikan disahkan pada tahun ini adalah RUU Perampasan Aset yang proses pengesahannya telah ditunggu rakyat Indonesia selama 18 tahun.
Harus diakui, peran Dasco dalam menuntaskan setiap kebuntuan legislasi tersebut tidak lepas dari kepiawaiannya membangun komunikasi lintas fraksi di DPR RI.
Kemampuannya dalam mengakomodasi berbagai aktor dari berbagai kepentingan baik itu akademisi, masyarakat sipil hingga partai politik mampu meredam resistensi.
Pasalnya setiap kelahiran satu undang-undang yang disahkan DPR RI tidak pernah mengorbankan substansi hukum apalagi melanggar konstitusi.
Kepiawaiannya ini menegaskan posisinya tidak berhenti di jabatan formal yang sedang didudukinya sebagai Wakil Ketua DPR RI melainkan juga titik temu bagi para pemangku kepentingan di tengah dinamika politik nasional.
Arsitek Stabilitas
Salah satu indikator penting keberhasilan program pemerintah adalah stabilitas. Setiap pemimpin sukses di dunia selalu memiliki sosok kepercayaan yang memberikan pertimbangan strategis dalam mengambil keputusan politiknya.
Presiden ke-16 Amerika Serikat Abraham Lincoln memercayakan aspek taktis militer kepada Jenderal Ulysses S. Grant demi memastikan kebijakan pemerintahannya berjalan lancar.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengandalkan Dmitry Medvedev untuk menjaga fleksibilitas konstitusional demi mempertahankan keberlanjutan kekuasaan.
Bahkan, Presiden Soekarno memiliki figur kepercayaan yaitu Jenderal Ahmad Yani yang berperan vital dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional.
Hal serupa terlihat pada Presiden Prabowo Subianto yang memberikan kepercayaan serupa kepada sosok Dasco untuk menjaga stabilitas di bidang hukum dan politik.
Kepercayaan tersebut diwujudkan melalui peran strategis Dasco dalam merajut komunikasi dengan berbagai kekuatan politik nasional, mulai dari Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga kekuatan oposisi seperti PDI Perjuangan yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri.
Dasco memaknai politik sebagai satu seni dalam merajut kesepakatan dengan tanpa mengorbankan kepentingan publik.
Baginya, membuka ruang dialog dan mendengar langsung berbaga perspektif dari sudut pandang politik, ekonomi, budaya, maupun sejarah merupakan titik krusial dalam mengurai setiap persoalan bangsa.
Hasilnya, program legislasi nasional (Prolegnas) dapat tuntas dengan elegan dengan kestabilan politik dan hukum tetap terjaga serta tidak memicu riak di tengah masyarakat.
Eksekutor Taktis
Bila kepemimpinan Prabowo ditopang oleh politik gagasan, maka kehadiran Dasco berperan sebagai mesin taktis penggeraknya.
Dasco berperan sebagai eksekutor taktis dalam menerjemahkan setiap ide Presiden Prabowo baik di internal Partai Gerindra maupun perannya sebagai Presiden RI.
Pengetahuannya tentang ide-ide Prabowo ini pula yang menjadi landasan tindakan politik Dasco dengan mengurai benang kusut kekuasaan yang memiliki banyak kepentingan.
Dasco memahami keinginan Presiden Prabowo terkait kapan dirinya harus bergerak di balik layar dan kapan pula harus menyelesaikan permasalahan secara terbuka. Pemetaannya yang rasional serta kalkulasinya yang matang membuat satu permasalahan dengan cepat bisa dituntaskan.
Salah satu contohnya terlihat pada April 2026 lalu, saat publik dihebohkan oleh kasus penggelapan dana Credit Union (CU) Paroki Aek Nabara senilai Rp28 miliar yang berdampak pada ribuan umat Katolik di Sumatera Utara.
Kasus ini sempat menemui titik buntu akibat perbedaan pandangan antara pihak BNI dan OJK terkait skema pengembalian dana.
Kala itu, Dasco bergerak cepat. Setelah melaporkan dinamika tersebut kepada Presiden Prabowo, ia langsung mengambil inisiatif memediasi para pihak dengan mengundang perwakilan umat, Suster Natalia Situmorang, serta Direktur Utama BNI ke ruang kerjanya di Gedung DPR RI.
Hasilnya, hanya dalam hitungan hari, BNI berkomitmen mengembalikan dana umat secara penuh tanpa harus melewati proses berbelit yang berpotensi memakan waktu bertahun-tahun.
Langkah taktis ini menjadi bukti bahwa peran Dasco sangat piawai mengelola konstelasi politik nasional tetapi juga mampu menyelesaikan persoalan masyarakat yang kerap terabaikan.
Pendekatan Dasco yang solutif ini memberi dampak positif bagi DPR RI yang sebelumnya terkesan sangat eksklusif menjadi lembaga yang lebih humanis dan responsif.
Politik Kebangsaan
Di tengah polarisasi politik sebagai dampak sistem multipartai di Indonesia, dibutuhkan politik kebangsaan untuk merekatkan berbagai elemen kepentingan.
Politik kebangsaan ini diartikulasikan oleh Dasco dengan penegasan bahwa kepentingan nasional harus senantiasa ditempatkan di atas kepentingan segelintir elite maupun kelompok.
Politik kebangsaan merupakan kerja-kerja politik dalam membangun persaudaraan di antara ragam kepentingan para aktor yang terlibat.
Pada titik ini, Dasco selalu memposisikan dirinya sebagai perekat silaturahmi antartokoh bangsa, menjembatani perbedaan ideologi, serta meredam residu konflik politik demi menciptakan iklim politik nasional yang sejuk dan kondusif.
Bahkan demi kepentingan yang lebih besar dalam meredam gejolak, ia tidak pernah memukul lawan politiknya. Ia bahkan tanpa ragu merangkul berbagai elemen masyarakat sipil hingga kekuatan oposisi untuk bersama-sama bekerja di dalam pemerintahan.
Bagi kelompok oposisi yang memilih tetap berada di luar pemerintahan pun, ia menaruh hormat dan menghargai setiap pilihan politik mereka.
Konsistensi dalam menjaga stabilitas politik nasional ini menegaskan komitmennya untuk memastikan roda pemerintahan berjalan harmonis tanpa menghardik perbedaan, demi mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selamat Ulang Tahun ke-59, Bapak Sufmi Dasco Ahmad...
